Tak Mudik, Lebaran Tetap Asyik
Rabu, 05 Mei 2021 - 05:33 WIB
loading...
Masyarakat diminta tetap disiplin menjalankan protokol kesehatan dan tidak memaksakan mudik Lebaran. FOTO/WIN CAHYONO
A
A
A
JAKARTA - Siapa tidak ingin mudik untuk melepas kangen bersama keluarga besar di kampung halaman? Apalagi, sudah kali kedua Lebaran ini masyarakat, termasuk yang tinggal di Jabodetabek, tidak mudik akibat pandemi Covid-19 .
Namun, kebijakan pelarangan mudik memang harus diambil untuk mengantisipasi kembali meluasnya wabah Covid-19. Di sisi lain, walaupun tanpa mudik, bukan berarti masyarakat tidak bisa bersilaturahmi atau bergembira merayakan.
Ada banyak cara yang bisa dilakukan agar Lebaran tetap bisa dirayakan dengan asyik walaupun tanpa mudik. Pandangan ini di antaranya disampaikan Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Komaruddin Hidayat dan Wakil Ketua Komisi VIII DPR Tb Ace Hasan Syadzily.
Baca juga: Mudik Lebaran Lebih Cepat?, Jasa Marga: Kendaraan yang Tinggalkan Jabodetabek Naik 8%
Komaruddin, misalnya, menegaskan masyarakat tetap dapat memaknai Idul Fitri kali ini meski tanpa mudik dan berkumpul dengan keluarga di kampung. Misalnya, jika ada rezeki berlebih, cukup kirimkan uang ke keluarga di kampung dan mereka pasti ke sangat senang meskipun tidak hadir secara fisik.
Selain itu, masyarakat juga bisa memanfaatkan berbagai teknologi komunikasi untuk bersilaturahmi. "Saat ini berkomunikasi jarak jauh sangat mudah via telepon. Bahkan bisa kirim photo dan video. Kabar selamat disertai foto-foto lebaran di rumah masing-masing lebih membahagiakan ketimbang mudik dengan resiko menularkan atau tertular Covid. Ngobrol dengan Zoom, jarak seakan hilang," bebernya.
Baca juga: Posko Penyekatan Larangan Mudik Lebaran Ditambah Jadi 381 Titik
Bagi Komaruddin, sesungguhnya tetangga tempat tinggal juga merupakan saudara. Karena itu, ketika lebaran nanti cukuplah merayakan bersama tetangga dengan tetap menjaga dan menerapkan protokol (prokes). Atau, kata dia, lebaran bisa dirayakan dengan teman-teman sedaerah yang tinggal satu kota. Bahkan saat ini merupakan musim reuni teman-teman sekolah.
"Dengan begitu bisa menggantikan heboh mudik. Bahkan sesungguhnya anak-anak kita yang lahir di Jakarta, misalnya, tidak begitu antusias pulang mudik seperti orang tua mereka yang memang lahir di kampung," ujarnya.
Secara pribadi Komaruddin merasakan Ramadan tahun ini lebih spiritual. Suasana keluarga lebih dekat. Berdoa pun lebih khusyuk. Komaruddin bersama keluarga selama ini juga tidak terganggu agenda persiapan mudik. Sebelum masa pandemi Covid-19, biasanya Komaruddin sudah menyiapkan paket oleh-oleh kalau akan menjelang acara mudik.
"Sekarang cukup transfer uang untuk saudara-saudara di kampung. Saya rasa di zaman Nabi dulu, ketika datang Idul Fitri tidak seheboh kita dengan agenda mudik," ungkap Komaruddin
Baca juga: Libur Bursa Saat Lebaran, Yuk Cek Jadwalnya
Dia lantas mengingatkan, apa yang terjadi di India dan beberapa negara lain yang terjadi penyebaran dan lonjakan kasus Covid-19 mestinya jadi pelajaran kita semua. Setelah setahun mereka jenuh tinggal di rumah, lalu melakukan kerumunan dan rekreasi di tempat keramaian, ternyata akibatnya fatal. Berbagai upaya vaksinasi yang dilakukan pemerintah untuk menciptakan herd immunity gagal.
"Di India, didorong oleh keyakinan agama untuk mengadakan seremoni massal, ternyata Covid tidak kenal agama. Jadi, masyarakat (Indonesia, red.) bersama pemerintah mesti kompak saling memberikan support untuk menghindarkan kerumunan dan kontak fisik," tegas Komaruddin.
Tb Ace Hasan Syadzily juga menegaskan, di masa pandemi ini sebenarnya masyarakat bisa memaknai Idul Fitri dan merayakan Lebaran 1442 Hijriah/2021 tanpa berkumpul secara langsung dengan keluarga di kampung halaman. Ace mengungkapkan, saat ini teknologi komunikasi sudah sangat canggih. Dengan demikian kerinduan terhadap kampung halaman dan keluarga sudah bisa dijembatani sementara ini misalnya dengan berbagai layanan komunikasi.
"Misalnya dengan video call atau dengan Zoom meeting atau dengan teknologi lain yang membuat kita bisa bertemu dan menyapa sanak kerabat kita di kampung halaman. Itu juga kan bisa dilakukan dengan cara menggunakan media sosial lain, seperti saling menyapa di Facebook, saling mengirimkan foto, dan lain-lain," ujarnya.
Dia mengakui komunikasi dengan menggunakan teknologi seperti itu memang tidak bisa memenuhi dan melepaskan secara utuh kerinduan kita sanak saudara yang ada di kampung. Tapi menurut Ace, paling tidak setiap dari kita bisa mengetahui kabar orang tua dan keluarga serta bagaimana kondisi terbaru kehidupan para warga yang ada di kampung.
Namun, kebijakan pelarangan mudik memang harus diambil untuk mengantisipasi kembali meluasnya wabah Covid-19. Di sisi lain, walaupun tanpa mudik, bukan berarti masyarakat tidak bisa bersilaturahmi atau bergembira merayakan.
Ada banyak cara yang bisa dilakukan agar Lebaran tetap bisa dirayakan dengan asyik walaupun tanpa mudik. Pandangan ini di antaranya disampaikan Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Komaruddin Hidayat dan Wakil Ketua Komisi VIII DPR Tb Ace Hasan Syadzily.
Baca juga: Mudik Lebaran Lebih Cepat?, Jasa Marga: Kendaraan yang Tinggalkan Jabodetabek Naik 8%
Komaruddin, misalnya, menegaskan masyarakat tetap dapat memaknai Idul Fitri kali ini meski tanpa mudik dan berkumpul dengan keluarga di kampung. Misalnya, jika ada rezeki berlebih, cukup kirimkan uang ke keluarga di kampung dan mereka pasti ke sangat senang meskipun tidak hadir secara fisik.
Selain itu, masyarakat juga bisa memanfaatkan berbagai teknologi komunikasi untuk bersilaturahmi. "Saat ini berkomunikasi jarak jauh sangat mudah via telepon. Bahkan bisa kirim photo dan video. Kabar selamat disertai foto-foto lebaran di rumah masing-masing lebih membahagiakan ketimbang mudik dengan resiko menularkan atau tertular Covid. Ngobrol dengan Zoom, jarak seakan hilang," bebernya.
Baca juga: Posko Penyekatan Larangan Mudik Lebaran Ditambah Jadi 381 Titik
Bagi Komaruddin, sesungguhnya tetangga tempat tinggal juga merupakan saudara. Karena itu, ketika lebaran nanti cukuplah merayakan bersama tetangga dengan tetap menjaga dan menerapkan protokol (prokes). Atau, kata dia, lebaran bisa dirayakan dengan teman-teman sedaerah yang tinggal satu kota. Bahkan saat ini merupakan musim reuni teman-teman sekolah.
"Dengan begitu bisa menggantikan heboh mudik. Bahkan sesungguhnya anak-anak kita yang lahir di Jakarta, misalnya, tidak begitu antusias pulang mudik seperti orang tua mereka yang memang lahir di kampung," ujarnya.
Secara pribadi Komaruddin merasakan Ramadan tahun ini lebih spiritual. Suasana keluarga lebih dekat. Berdoa pun lebih khusyuk. Komaruddin bersama keluarga selama ini juga tidak terganggu agenda persiapan mudik. Sebelum masa pandemi Covid-19, biasanya Komaruddin sudah menyiapkan paket oleh-oleh kalau akan menjelang acara mudik.
"Sekarang cukup transfer uang untuk saudara-saudara di kampung. Saya rasa di zaman Nabi dulu, ketika datang Idul Fitri tidak seheboh kita dengan agenda mudik," ungkap Komaruddin
Baca juga: Libur Bursa Saat Lebaran, Yuk Cek Jadwalnya
Dia lantas mengingatkan, apa yang terjadi di India dan beberapa negara lain yang terjadi penyebaran dan lonjakan kasus Covid-19 mestinya jadi pelajaran kita semua. Setelah setahun mereka jenuh tinggal di rumah, lalu melakukan kerumunan dan rekreasi di tempat keramaian, ternyata akibatnya fatal. Berbagai upaya vaksinasi yang dilakukan pemerintah untuk menciptakan herd immunity gagal.
"Di India, didorong oleh keyakinan agama untuk mengadakan seremoni massal, ternyata Covid tidak kenal agama. Jadi, masyarakat (Indonesia, red.) bersama pemerintah mesti kompak saling memberikan support untuk menghindarkan kerumunan dan kontak fisik," tegas Komaruddin.
Tb Ace Hasan Syadzily juga menegaskan, di masa pandemi ini sebenarnya masyarakat bisa memaknai Idul Fitri dan merayakan Lebaran 1442 Hijriah/2021 tanpa berkumpul secara langsung dengan keluarga di kampung halaman. Ace mengungkapkan, saat ini teknologi komunikasi sudah sangat canggih. Dengan demikian kerinduan terhadap kampung halaman dan keluarga sudah bisa dijembatani sementara ini misalnya dengan berbagai layanan komunikasi.
"Misalnya dengan video call atau dengan Zoom meeting atau dengan teknologi lain yang membuat kita bisa bertemu dan menyapa sanak kerabat kita di kampung halaman. Itu juga kan bisa dilakukan dengan cara menggunakan media sosial lain, seperti saling menyapa di Facebook, saling mengirimkan foto, dan lain-lain," ujarnya.
Dia mengakui komunikasi dengan menggunakan teknologi seperti itu memang tidak bisa memenuhi dan melepaskan secara utuh kerinduan kita sanak saudara yang ada di kampung. Tapi menurut Ace, paling tidak setiap dari kita bisa mengetahui kabar orang tua dan keluarga serta bagaimana kondisi terbaru kehidupan para warga yang ada di kampung.
Lihat Juga :