Syawal Momen Penguatan Silaturahim dan Perayaan Kearifan Lokal untuk Kebersamaan
Jum'at, 11 April 2025 - 23:42 WIB
loading...
Ketua Dewan Syuro Ikatan Dai Indonesia (Ikadi), KH Achmad Satori Ismail. FOTO/IST
A
A
A
JAKARTA - Berbagai tradisi dan kearifan lokal selalu mewarnai bulan Syawal usai Hari Raya Idulfitri 1446 Hijriah di Indonesia. Momentum pasca Idulfitri, dirayakan melalui Umat Muslim di Indonesia dengan berbagai lanskap kebudayaan di berbagai pelosok negeri. Misalnya ada momentum Grebek Syawal di Yogyakarta, Perang Topa di Lombok, Lebaran ketupat, dan lain-lain.
Ketua Dewan Syuro Ikatan Dai Indonesia (Ikadi), KH Achmad Satori Ismail mengungkapkan maraknya berbagai tradisi itu menjadi bukti keberagaman masyarakat Indonesia dalam merayakan perayaan Idulfitri.
"Inilah bentuk keberagaman identitas bangsa Indonesia yang patut dijaga dan disyukuri. Selama hal tersebut dapat bermanfaat, tidak mengandung unsur kesyirikan takhayul, maka secara agama itu diperbolehkan," kata Kiai Satori di Jakarta, Jumat (11/4/2025).
"Syawal di mana ada orang bagi-bagi makanan dan segala macam dengan tujuan, selama tidak mengandung kesyirikan, maka insyaAllah itu dibolehkan," imbuhnya.
Satori mengungkapkan, adanya tradisi mendoakan orang yang sudah meninggal, berziarah, mengundang orang lain untuk silaturahim, berdoa bersama, adalah bentuk keindahan yang harus dijaga, dan dihormati bukan malah untuk dihujat atau dihakimi.
"Selama tujuannya bukan untuk mengagungkan si mayit atau untuk menyembah yang lain, tetapi sebagai sarana kebersamaan untuk makan bersama, bisa membawa berkat ke rumah, itu adalah sesuatu yang sebenarnya indah," kata Satori.
Oleh karena itu, penulis buku Merajut Tali Temali Ukhuwwah ini menyerukan momentum bulan Syawal ini dapat diinternalisasi untuk menyempurnakan ibadah-ibadah yang sudah dilakukan secara konsisten di Bulan Ramadan, dengan silaturahim dan saling memaafkan. Seorang muslim, Satori menambahkan, sejatinya memiliki keikhlasan untuk saling memaafkan, maupun kelapangan dada dalam memahami perbedaan. Inilah esensi bulan Syawal dalam menyempurnakan ibadah, yakni untuk menggapai keberuntungan dunia akhirat melalui upaya saling memaafkan.
Ketua Dewan Syuro Ikatan Dai Indonesia (Ikadi), KH Achmad Satori Ismail mengungkapkan maraknya berbagai tradisi itu menjadi bukti keberagaman masyarakat Indonesia dalam merayakan perayaan Idulfitri.
"Inilah bentuk keberagaman identitas bangsa Indonesia yang patut dijaga dan disyukuri. Selama hal tersebut dapat bermanfaat, tidak mengandung unsur kesyirikan takhayul, maka secara agama itu diperbolehkan," kata Kiai Satori di Jakarta, Jumat (11/4/2025).
"Syawal di mana ada orang bagi-bagi makanan dan segala macam dengan tujuan, selama tidak mengandung kesyirikan, maka insyaAllah itu dibolehkan," imbuhnya.
Satori mengungkapkan, adanya tradisi mendoakan orang yang sudah meninggal, berziarah, mengundang orang lain untuk silaturahim, berdoa bersama, adalah bentuk keindahan yang harus dijaga, dan dihormati bukan malah untuk dihujat atau dihakimi.
"Selama tujuannya bukan untuk mengagungkan si mayit atau untuk menyembah yang lain, tetapi sebagai sarana kebersamaan untuk makan bersama, bisa membawa berkat ke rumah, itu adalah sesuatu yang sebenarnya indah," kata Satori.
Oleh karena itu, penulis buku Merajut Tali Temali Ukhuwwah ini menyerukan momentum bulan Syawal ini dapat diinternalisasi untuk menyempurnakan ibadah-ibadah yang sudah dilakukan secara konsisten di Bulan Ramadan, dengan silaturahim dan saling memaafkan. Seorang muslim, Satori menambahkan, sejatinya memiliki keikhlasan untuk saling memaafkan, maupun kelapangan dada dalam memahami perbedaan. Inilah esensi bulan Syawal dalam menyempurnakan ibadah, yakni untuk menggapai keberuntungan dunia akhirat melalui upaya saling memaafkan.
Lihat Juga :