Saatnya Bangga Buatan Indonesia

loading...
Saatnya Bangga Buatan Indonesia
Hari Bangga Buatan Indonesia (BBI) diperingati 5 Mei. Pemerintah mengajak masyarakat untuk belanja online. (Ilustrasi: KORAN SINDO/Wawan Bastian)
HARI ini resmi dinyatakan sebagai Hari Bangga Buatan Indonesia (BBI). Menandai peringatan 5 Mei sebagai Hari BBI, pemerintah mengajak masyarakat untuk belanja online. Ajakan tersebut digaungkan langsung Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi, yang meyakini bahwa belanja online sebagai salah satu upaya menggerakkan perekonomian nasional. Karena itu, mantan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat itu mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk memakai produk lokal. Pakailah produk Indonesia dari ujung rambut sampai ujung kuku.

Sebagai bukti kecintaan pada produk lokal, Mendag Muhammad Lutfi memamerkan bahwa dia menggunakan jas buatan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) saat menjadi salah seorang narasumber pada Forum Merdeka Barat (FMB) 9 secara virtual yang bertajuk “Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia” awal pekan ini. Lutfi mengakui bahwa setelan jas yang dikenakannya ternyata cukup keren dan tidak kalah dengan produk dari luar negeri. Walau bangga dengan busana buatan lokal, Lutfi jujur mengakui masih ada satu produk luar negeri yang menempel di badannya, yakni dasi dengan dominasi warna ungu buatan luar negeri. Barangkali setelah hari ini Mendag Lutfi sudah total meninggalkan produk impor.

Untuk menjadikan produk Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri, Kementerian Perdagangan (Kemendag), sebagaimana ditegaskan Muhammad Lutfi, segera membenahi tata penjualan pada toko online. Pria yang pernah menjabat Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) itu memastikan marketplace yang beroperasi di Indonesia akan lebih mengakomodasi produk lokal. Marketplace harus diatur sebaik-baiknya sehingga terdapat perdagangan yang adil dan bermanfaat. Dan dipastikan bahwa marketplace Indonesia diisi oleh masyarakat Indonesia.

Sebagai langkah awal, Mendag Muhammad Lutfi meminta pelaku e-commerce memberikan ruang strategis untuk produk lokal, agar produk buatan Indonesia bisa dilihat paling pertama apabila membuka laman platform marketplace. Pemerintah sadar sepenuhnya bahwa tidak bisa memaksa orang belanja produk Indonesia. Karena itu, harus diiringi dengan peningkatan kualitas produk lokal sehingga bisa mengimbangi produk asing. Produk lokal harus kompetitif, dari kualitas produk nyaman dipakai dan harganya terjangkau oleh masyarakat.

Selain meminta pelaku e-commerce untuk memberi perhatian serius terhadap produk dalam negeri, Kemendag fokus dalam meningkatkan kemampuan berdagang para pelaku UMKM. Misalnya Kemendag akan memberikan pelatihan bagaimana cara berjualan yang unik. Trik-trik dagang yang benar memang sangat diperlukan bila ingin sukses berdagang melalui marketplace. Zaman sekarang persaingan makin keras karena itu dibutuhkan berbagai inovasi agar dagangan bisa dilirik oleh konsumen. Dalam bisnis digital inovasi adalah kunci kesuksesan. Hukum dagang konvensional sudah berubah.



Ternyata, harus diakui pandemi Covid-19 yang membuat porak-poranda perekonomian nasional telah mengantarkan pelaku UMKM untuk beradaptasi dengan memanfaatkan platform digital. Berdasarkan data publikasi dari Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) terdapat 3,8 juta UMKM go digital melalui gerakan BBI. Angka tersebut melebihi target yang dipatok sebanyak 2 juta UMKM digital hingga akhir tahun lalu. Angka tersebut terus melaju dan mencapai 4,8 juta UMKM hingga akhir Maret 2021. Pemerintah mengakui bahwa UMKM digital adalah kunci pemulihan ekonomi nasional. Untuk itu, pemerintah menargetkan 30 juta UMKM go digital pada 2030.

Berharap pelaksanaan program BBI tidak hanya slogan. Sebab, program sejenis jauh sebelumnya sudah digaungkan, misalnya “Aku Cinta Produk Indonesia” tetapi faktanya produk dalam negeri tetap tidak berdaya di negeri sendiri. Tak mengherankan bila dua bulan lalu Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyerukan perang terbuka terhadap produk dari luar negeri untuk dimusuhi. Ajakan orang nomor satu di Indonesia itu kontan menyulut pro dan kontra. Bagi yang pro ajakan Presiden memusuhi produk asing memaknai bahwa produk lokal harus diberdayakan oleh bangsa sendiri sehingga menilai pernyataan Jokowi hal positif. Namun, pihak yang kontra justru mempertanyakan sejauh mana kesiapan produk lokal untuk menangkal produk asing.

Menggaungkan BBI terselip sebuah semangat bagaimana membangkitkan seluruh elemen bangsa untuk berkontribusi dalam percepatan pemulihan ekonomi nasional, dengan membangun loyalitas konsumen terhadap produk-produk dalam negeri. Persoalannya, tentu tidak sesederhana yang dibayangkan untuk membuat masyarakat bangga dan membeli produk dalam negeri. Untuk memenangi persaingan yang superketat sejumlah tantangan harus disingkirkan, seperti bagaimana menghadirkan produk berkualitas dengan harga kompetitif sehingga konsumen punya pilihan untuk bangga buatan Indonesia.(*)
(bmm)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top