Ambisi Bumi Lebih Bersih
Senin, 26 April 2021 - 05:45 WIB
loading...
A
A
A
Akan tetapi komitmen yang digaungkan para pemimpin dunia untuk mengurangi pemanasan global sedikit mendapat sindiran dari Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol. Sehari setelah pertama KTT dibuka, dia memperingatkan bahwa negara-negara di dunia pada saat ini belum bisa lepas dari ketergantungan pada bahan bakar fosil yang berkontribusi pada memburuknya udara akibat polusi.
Birol mengungkapkan hal tersebut berdasarkan pada data IEA yang menyebutkan bahwa tahun ini permintaan batu bara di dunia masih tumbuh sekitar 4,5%, terutama untuk menyokong kebutuhan pembangkit listrik. Untuk itu Birol menyebut bahwa saat ini data yang ada tidak sesuai dengan retorika sehingga membuat kesenjangan antara udara bersih dengan ambisi para pemimpin dunia kian melebar.
“Kami tidak pulih dari Covid secara berkelanjutan. Kami masih tetap berada di jalur pemanasan global yang berbahaya,” ucap Birol seperti dikutipNew York Times.
Apa yang disampaikan oleh IEA sepertinya juga terasa di Tanah Air. Ambisi menjadikan Indonesia sebagai negara pengguna energi bersih tampaknya masih jauh panggang dari api. Ini terlihat dari masih rendahnya persentase penggunaan energi baru terbarukan yang baru mencapai 11,3% dari target 23% pada 2025.
Kondisi ini, menurut pakar energi Iwa Garniwa, sangat disayangkan karena target 23% pada empat tahun ke depan kurang realistis. Dia memperkirakan, dalam kurun waktu hingga 2025, penambahan bauran energi hanya akan ada di kisaran 19–20%. Dengan demikian, kata dia, perlu akselerasi lebih cepat, terutama di masa transisi energi fosil ke EBT.
Terkait KTT Perubahan Iklim pada 22 April lalu, Presiden Jokowi yang memberikan sambutan secaraonlinemenyatakan bahwa Covid-19 dan resesi global membuat tantangan semakin kompleks. Untuk itu Presiden menyampaikan tiga pemikiran sebagai upaya menghadapi perubahan iklim di masa mendatang.
Birol mengungkapkan hal tersebut berdasarkan pada data IEA yang menyebutkan bahwa tahun ini permintaan batu bara di dunia masih tumbuh sekitar 4,5%, terutama untuk menyokong kebutuhan pembangkit listrik. Untuk itu Birol menyebut bahwa saat ini data yang ada tidak sesuai dengan retorika sehingga membuat kesenjangan antara udara bersih dengan ambisi para pemimpin dunia kian melebar.
“Kami tidak pulih dari Covid secara berkelanjutan. Kami masih tetap berada di jalur pemanasan global yang berbahaya,” ucap Birol seperti dikutipNew York Times.
Apa yang disampaikan oleh IEA sepertinya juga terasa di Tanah Air. Ambisi menjadikan Indonesia sebagai negara pengguna energi bersih tampaknya masih jauh panggang dari api. Ini terlihat dari masih rendahnya persentase penggunaan energi baru terbarukan yang baru mencapai 11,3% dari target 23% pada 2025.
Kondisi ini, menurut pakar energi Iwa Garniwa, sangat disayangkan karena target 23% pada empat tahun ke depan kurang realistis. Dia memperkirakan, dalam kurun waktu hingga 2025, penambahan bauran energi hanya akan ada di kisaran 19–20%. Dengan demikian, kata dia, perlu akselerasi lebih cepat, terutama di masa transisi energi fosil ke EBT.
Terkait KTT Perubahan Iklim pada 22 April lalu, Presiden Jokowi yang memberikan sambutan secaraonlinemenyatakan bahwa Covid-19 dan resesi global membuat tantangan semakin kompleks. Untuk itu Presiden menyampaikan tiga pemikiran sebagai upaya menghadapi perubahan iklim di masa mendatang.
Lihat Juga :