HUT ke-69 Kopassus, Ini Kisah Heroik Prajurit Korps Baret Merah di Medan Operasi
Jum'at, 16 April 2021 - 05:37 WIB
loading...
A
A
A
Selanjutnya, para sandera kemudian dibawa ke sebuah kapal di Hobyo, sekitar 511 dari Ibu Kota Somalia, Mogadishu. Mereka kemudian dibawa ke safe house di Golkayo Town untuk selanjutnya menuju Wajir Airport yang berada di perbatasan Kenya dan Somalia. Mereka kemudian dibawa ke Bandara Nairobi, Kenya dan selanjutnya berhasil dibawa ke luar dari Somalia.
Operasi Mapenduma, Papua
Operasi Pembebasan Sandera Mapenduma adalah operasi militer untuk membebaskan peneliti dari Ekspedisi Lorentz 95 yang disandera Organisasi Papua Merdeka (OPM) pimpinan Kelly Kwalik di Desa Mapenduma, Kecamatan Tiom, Jayawijaya.
![HUT ke-69 Kopassus, Ini Kisah Heroik Prajurit Korps Baret Merah di Medan Operasi]()
Aksi penculikan ini menyita perhatian dunia internasional. Bahkan, Sekjen PBB saat itu, Boutros Boutros Ghali dan Paus Johanes II ikut andil dalam upaya membujuk para penculik dari Organisasi Papua Merdeka (OPM) untuk membebaskan sandera. Selama 129 hari berbagai upaya mediasi dilakukan untuk membebaskan para sandera tersebut.
![HUT ke-69 Kopassus, Ini Kisah Heroik Prajurit Korps Baret Merah di Medan Operasi]()
Namun karena menemukan titik buntu. Akhirnya, operasi pembebasan oleh Kopassus pada 8 Januari 1996 yang dipimpin langsung Komandan Kopassus Mayjen TNI Prabowo Subianto digelar. Operasi berakhir 9 Mei 1996 setelah penyerbuan Kopassus ke markas OPM di Desa Geselama, Mimika. Dalam penyerbuan ini, 2 dari 11 sandera ditemukan tewas.
Operasi Woyla, di Bandara Don Mueang, Bangkok, Thailand
Operasi pembebasan sandera penumpang pesawat Garuda Indonesia di Bandara Don Mueang, Bangkok, Thailand ini berlangsung pada 31 Maret 1981. Berawal saat pesawat yang terbang dari Bandara Talangbetutu, Palembang menuju ke Bandara Polonia, Medan dibajak oleh lima orang teroris yang tergabung dalam kelompok Komando Jihad pada 28 Maret 1981.
Pesawat yang dipiloti Kapten Pilot Herman Rante ini diminta untuk menerbangkan pesawat ke Kolombo, Sri Langka. Namun karena terkendala bahan bakar, pesawat kemudian dialihkan ke Penang, Malaysia untuk mengisi bahan bakar avtur. Selanjutnya pesawat melanjutkan penerbangan ke Thailand. Informasi pembajakan itu kemudian ditanggapi cepat oleh pemerintah Indonesia.
![HUT ke-69 Kopassus, Ini Kisah Heroik Prajurit Korps Baret Merah di Medan Operasi]()
Kemudian disiapkanlah sejumlah prajurit Kopassandha yang kini bernama Kopassus untuk melakukan operasi pembebasan. Dipimpin langsung oleh Letkol Sintong Panjaitan, tim kecil yang terdiri dari prajurit terbaik Kopassandha dibentuk. Selanjutnya, pada 30 Maret 1981 Perdana Menteri Thailand, Prem Tinsulanonda memberikan lampu hijau terkait operasi militer pembebasan awak pesawat yang disandera.
Selanjutnya, pada 31 Maret 1981 pukul 03.00 waktu setempat, operasi penyerbuan dilakukan. Dalam operasi yang berlangsung sangat cepat yakni 3 menit, seluruh penumpang yang disandera berhasil dibebaskan. Sedangkan lima pembajak tewas ditembak. Tiga orang tewas di luar pesawat sedangkan dua lainnya tewas di dalam pesawat. Dalam operasi tersebut, calon perwira (Capa) Kopassus Lettu Ahmad Kirang gugur.
Operasi Mapenduma, Papua
Operasi Pembebasan Sandera Mapenduma adalah operasi militer untuk membebaskan peneliti dari Ekspedisi Lorentz 95 yang disandera Organisasi Papua Merdeka (OPM) pimpinan Kelly Kwalik di Desa Mapenduma, Kecamatan Tiom, Jayawijaya.

Aksi penculikan ini menyita perhatian dunia internasional. Bahkan, Sekjen PBB saat itu, Boutros Boutros Ghali dan Paus Johanes II ikut andil dalam upaya membujuk para penculik dari Organisasi Papua Merdeka (OPM) untuk membebaskan sandera. Selama 129 hari berbagai upaya mediasi dilakukan untuk membebaskan para sandera tersebut.

Namun karena menemukan titik buntu. Akhirnya, operasi pembebasan oleh Kopassus pada 8 Januari 1996 yang dipimpin langsung Komandan Kopassus Mayjen TNI Prabowo Subianto digelar. Operasi berakhir 9 Mei 1996 setelah penyerbuan Kopassus ke markas OPM di Desa Geselama, Mimika. Dalam penyerbuan ini, 2 dari 11 sandera ditemukan tewas.
Operasi Woyla, di Bandara Don Mueang, Bangkok, Thailand
Operasi pembebasan sandera penumpang pesawat Garuda Indonesia di Bandara Don Mueang, Bangkok, Thailand ini berlangsung pada 31 Maret 1981. Berawal saat pesawat yang terbang dari Bandara Talangbetutu, Palembang menuju ke Bandara Polonia, Medan dibajak oleh lima orang teroris yang tergabung dalam kelompok Komando Jihad pada 28 Maret 1981.
Pesawat yang dipiloti Kapten Pilot Herman Rante ini diminta untuk menerbangkan pesawat ke Kolombo, Sri Langka. Namun karena terkendala bahan bakar, pesawat kemudian dialihkan ke Penang, Malaysia untuk mengisi bahan bakar avtur. Selanjutnya pesawat melanjutkan penerbangan ke Thailand. Informasi pembajakan itu kemudian ditanggapi cepat oleh pemerintah Indonesia.

Kemudian disiapkanlah sejumlah prajurit Kopassandha yang kini bernama Kopassus untuk melakukan operasi pembebasan. Dipimpin langsung oleh Letkol Sintong Panjaitan, tim kecil yang terdiri dari prajurit terbaik Kopassandha dibentuk. Selanjutnya, pada 30 Maret 1981 Perdana Menteri Thailand, Prem Tinsulanonda memberikan lampu hijau terkait operasi militer pembebasan awak pesawat yang disandera.
Selanjutnya, pada 31 Maret 1981 pukul 03.00 waktu setempat, operasi penyerbuan dilakukan. Dalam operasi yang berlangsung sangat cepat yakni 3 menit, seluruh penumpang yang disandera berhasil dibebaskan. Sedangkan lima pembajak tewas ditembak. Tiga orang tewas di luar pesawat sedangkan dua lainnya tewas di dalam pesawat. Dalam operasi tersebut, calon perwira (Capa) Kopassus Lettu Ahmad Kirang gugur.
Lihat Juga :