Neraca Perdagangan Kembali Raih Surplus

loading...
Neraca Perdagangan Kembali Raih Surplus
Badan Pusat Statistik (BPS) kembali menyajikan kinerja neraca perdagangan Indonesia dengan angka surplus pada Maret lalu. (Ilustrasi: SINDOnews/Wawan Bastian)
DALAM tiga bulan berturut-turut atau kuartal pertama pada 2021, kinerja Neraca Perdagangan Indonesia (NPI) terus menunjukkan taji alias surplus. Badan Pusat Statistik (BPS) kembali menyajikan kinerja NPI dengan angka surplus pada Maret lalu. Tercatat, nilai ekspor sebesar USD18,35 miliar, sedangkan nilai impor sebesar USD16,79 miliar sehingga menghasilkan surplus sebesar USD1,57 miliar. Nilai impor yang terbukukan sebesar USD16,79 pada Maret lalu mengalami kenaikan yang cukup signifikan dari bulan sebelumnya (Februari) sekitar 26,55%. Bila dibandingkan periode yang sama tahun lalu, terjadi kenaikan sekitar 25,73%.

Adapun pemicu kenaikan nilai impor adalah komoditas minyak dan gas (migas) dan nonmigas. Kontribusi impor migas naik hingga 74,74% yang dipicu kenaikan nilai impor minyak mentah dan hasil minyak. Selain itu, kenaikan nilai impor juga disebabkan penggunaan barang konsumsi naik dua digit secara bulanan (Februari ke Maret) sekitar 15,51%, sedangkan secara tahunan sekitar 13,40%. Di antaranya, vaksin impor dan jeruk mandarin dari China. Lalu, susu, raw sugar dari India. Dan, mesin AC dari Thailand.

Selanjutnya, impor bahan baku juga mencatat pertumbuhan yang tinggi atau naik 31,1% secara bulanan. Impor bahan baku yang melonjak tajam meliputi oil cake dan pulp dari Negeri Tirai Bambu. Begitu pula impor barang modal yang melesat jauh dengan kenaikan sekitar 11,85% secara bulanan. Dari satu sisi, kenaikan angka impor sekitar dua digit menunjukkan adanya geliat dari manufaktur dan investasi yang diharapkan menjadi nafas baru untuk pemulihan perekonomian nasional.

Bagaimana dengan nilai ekspor? Lagi, kinerja ekspor menampilkan performa yang menggembirakan. BPS mencatat nilai ekspor tembus sebesar USD18,35 miliar pada Maret 2021. Angka ekspor melesat tajam hingga sekitar 30,47% dibandingkan periode Maret 2020. Dan, secara bulanan terjadi kenaikan sekitar 20,31%. Tercatat, baik ekspor migas maupun nonmigas terjadi kenaikan yang cukup signifikan, masing-masing 28,67% dan 30,07% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu. Adapun yang berkontribusi besar pada kinerja ekspor, di antaranya batu bara, minyak kernel, minyak kelapa sawit, dan tembaga hingga timah.

Terlepas dari kenaikan angka impor dan ekspor, dominasi China dalam perdagangan luar negeri Indonesia sulit untuk dihindari, baik pada kinerja ekspor maupun impor dengan memegangshareterbesar. BPS mencatat pangsa pasar ekspor Indonesia terbesar adalah ke Negeri Panda sekitar 21,36% atau senilai sebesar USD3,73 miliar dari total nilai ekspor sebesar USD18,35 miliar pada Maret 2021. Selanjutnya, disusul Amerika Serikat (AS) sekitar 11,86% atau sebesar USD2,07 miliar, Jepang sebesar 7,91% atau setara USD1,38 miliar, India sekitar 7,12% atau senilai USD1,24 miliar. Lalu, ASEAN sebesar 19,81% atau setara USD3,46 miliar dan Uni Eropa sekitar 8,25% atau senilai USD 1,44 miliar.



Dari sisi impor, China tetap tidak tertandingi dengan nilai impor sebesar USD 3,98 miliar atau sekitar 27,44 dari total nilai impor sebesar USD16,79 miliar pada Maret 2021, disusul Jepang senilai USD1,27 miliar atau 8,78%, Korea Selatan sebesar USD1,05 miliar atau 7,24%, dan Singapura senilai USD0,84 miliar atau 5,78%. Adapun kawasan ASEAN berkontribusi sekitar 18,90% atau setara USD2,74 miliar, dan Uni Eropa sebesar 5,92% atau setara USD0,86 miliar. Jadi, China tetap tak terkalahkan baik dari sisi impor maupun ekspor.

Lalu, negara mana saja yang menyumbang surplus untuk NPI Maret lalu? Di antaranya, sebagaimana dipublikasi BPS adalah AS, Filipina, dan India. NPI meraih surplus dari Negeri Paman Sam sebesar USD1,33 miliar, lalu negeri tetangga Filipina USD592,1 juta, diikuti India USD502,4 juta. Sebaliknya, NPI mengalami defisit dengan sejumlah negara, di antaranya, Australia yang defisit USD 529,3 juta, Korea Selatan USD503,5 juta dan Thailand USD281,1 juta.

Selama tiga bulan, BPS mencatat NPI meraih surplus cukup besar dibandingkan periode yang sama pada 2020 maupun 2019. Total surplus sepanjang triwulan pertama 2021 sebesar USD5,52 miliar dikontribusikan dari surplus Januari USD2 miliar, Februari USD 2,01 miliar dan Maret USD1,57 miliar. Sepanjang kuartal pertama nilai ekspor terbukukan USD48,90 miliar dan nilai impor USD43,38 miliar.

Apakah ini salah satu pertanda kalau roda perekonomian mulai berputar normal lagi? Barangkali terlalu dini untuk mengambil kesimpulan. Namun, setidaknya kinerja NPI selama tiga bulan berturut-turut yang membukukan surplus menjadi pemicu tersendiri atau napas baru dalam menumbuhkan perekonomian yang terseok-seok karena dihajar pandemi Covid-19.
(bmm)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top