Kendalikan Harga Bahan Pokok
Kamis, 15 April 2021 - 06:35 WIB
loading...
A
A
A
Karena itu, pemerintah tidak boleh tinggal diam dengan masalah ini. Perlu dilakukan operasi pasar secara berkala dalam rangka menstabilkan harga sembako. Selain itu perlu juga dicari tahu apa penyebab kenaikan harga sembako.
Pada fase pertama, kenaikan terjadi selama lima hari atau dalam seminggu menjelang puasa. Tren kenaikan akan bertahan hingga seminggu dan masuk fase kedua menjelang Idulfitri di mana harga bahan pokok biasanya akan melonjak sepekan sebelum Idulfitri. Banyak harga komoditas yang naik hingga menembus 50% sehingga inflasi musiman saat Ramadan berpotensi terus terjadi.
Bank Indonesia pernah melakukan studi tentang pola inflasi pada bulan Ramadan hingga Idulfitri tahun 2011-2014 yang menunjukkan laju inflasi menjadi semakin kencang. Pemicunya terutama karena inflasi pada harga pangan yang disumbang oleh beras, daging-dagingan, dan aneka bumbu masak. Meski secara tren nilainya selalu kecil, hal ini bisa mendatangkan dampak yang cukup signifikan bagi orang-orang yang daya belinya cenderung stagnan atau bahkan mengalami penurunan. Apalagi, kalau ada oknum-oknum tertentu yang memperparah keadaan seperti melakukan penimbunan barang, merekayasa pasar, dan sebagainya. Di sinilah tim pengendali inflasi daerah memiliki peran penting untuk mengontrol harga pasar.
Inflasi bukan hanya disebabkan adanya kelebihan permintaan (demand-pull inflation), atau berubahnya tingkat penawaran (cost-push/supply shock inflation), bahkan pemikiran dan ekspektasi yang terjadi secara umum di tengah masyarakat juga menjadi faktor penyebab inflasi.
Yang perlu diingat bahwa tren meningkatnya inflasi pada bulan Ramadan bukan sebuah hal baru dalam perekonomian nasional. Fenomena ini telah terjadi dari tahun ke tahun dan juga memiliki dampak positif guna menumbuhkan perekonomian Indonesia. Masyarakat pun sudah paham bahwa ekspektasi secara subjektif bernilai bahwa pada Ramadan pasti terjadi peningkatan inflasi. Namun, bukan berarti pemerintah tidak perlu berbuat apa-apa. Pemerintah tetap perlu menjaga ketersediaan barang di pasar dan mengawasi pasar sebagaimana mestinya.
Pada fase pertama, kenaikan terjadi selama lima hari atau dalam seminggu menjelang puasa. Tren kenaikan akan bertahan hingga seminggu dan masuk fase kedua menjelang Idulfitri di mana harga bahan pokok biasanya akan melonjak sepekan sebelum Idulfitri. Banyak harga komoditas yang naik hingga menembus 50% sehingga inflasi musiman saat Ramadan berpotensi terus terjadi.
Bank Indonesia pernah melakukan studi tentang pola inflasi pada bulan Ramadan hingga Idulfitri tahun 2011-2014 yang menunjukkan laju inflasi menjadi semakin kencang. Pemicunya terutama karena inflasi pada harga pangan yang disumbang oleh beras, daging-dagingan, dan aneka bumbu masak. Meski secara tren nilainya selalu kecil, hal ini bisa mendatangkan dampak yang cukup signifikan bagi orang-orang yang daya belinya cenderung stagnan atau bahkan mengalami penurunan. Apalagi, kalau ada oknum-oknum tertentu yang memperparah keadaan seperti melakukan penimbunan barang, merekayasa pasar, dan sebagainya. Di sinilah tim pengendali inflasi daerah memiliki peran penting untuk mengontrol harga pasar.
Inflasi bukan hanya disebabkan adanya kelebihan permintaan (demand-pull inflation), atau berubahnya tingkat penawaran (cost-push/supply shock inflation), bahkan pemikiran dan ekspektasi yang terjadi secara umum di tengah masyarakat juga menjadi faktor penyebab inflasi.
Yang perlu diingat bahwa tren meningkatnya inflasi pada bulan Ramadan bukan sebuah hal baru dalam perekonomian nasional. Fenomena ini telah terjadi dari tahun ke tahun dan juga memiliki dampak positif guna menumbuhkan perekonomian Indonesia. Masyarakat pun sudah paham bahwa ekspektasi secara subjektif bernilai bahwa pada Ramadan pasti terjadi peningkatan inflasi. Namun, bukan berarti pemerintah tidak perlu berbuat apa-apa. Pemerintah tetap perlu menjaga ketersediaan barang di pasar dan mengawasi pasar sebagaimana mestinya.
(bmm)
Lihat Juga :