Kesadaran Kesehatan Kota
Rabu, 07 April 2021 - 05:35 WIB
loading...
A
A
A
Pertama, kota sehat memberikan peningkatan kualitas dan kelayakan hidup untuk menaikkan harapan hidup yang lebih sejahtera, serta memudahkan akses ke fasilitas layanan kesehatan guna mengurangi risiko kematian, termasuk ancaman pandemi Covid-19.
Pemerintah harus menyediakan fasilitas dan akses kesehatan yang mumpuni (klinik kesehatan, pusat kesehatan masyarakat, rumah sakit, apotek), serta didukung laboratorium penelitian dan pengembangan vaksin dan obat yang canggih. Dukungan dunia pendidikan kesehatan menjamin ketersediaan dokter, perawat, dan tenaga medis yang memadai, serta memberikan jaminan asuransi kesehatan/badan penyelenggara jaminan sosial dan inovasi program kesehatan lain.
Kedua, lingkungan sehat berperan penting membentuk warga sehat. Kondisi kota sehat adalah ketika sanitasi lingkungan permukiman bersih dan higienis, akses air bersih terlayani, saluran air tidak tergenang, sampah dan limbah terkelola baik, sehingga tidak mudah timbul wabah penyakit.
Pemerintah juga mesti melakukan penataan permukiman yang meliputi bedah rumah sehat, peremajaan kawasan padat, serta penyediaan hunian layak untuk semua. Pemerintah kota harus mengelola dan mengolah tuntas sampah dan limbah dengan menyediakan tempat pengolahan sampah terpadu, instalasi pengolahan air limbah (IPAL) komunal, akses jaringan air bersih dan sanitasi higienis, serta jaringan listrik dan internet yang memadai.
Ketiga, kota sehat mendorong warga hidup sehat. Warga didorong berjalan kaki (penyediaan trotoar) atau bersepeda (pembangunan infrastruktur pesepeda) dalam jarak dekat, serta menggunakan angkutan umum pada jarak menengah-jauh, namun dengan tetap mempertimbangkan untuk mengurangi mobilitas dan menghindari kerumuman, serta mengoptimalkan kegiatan dari rumah.
Kenormalan baru akan mengubah persepsi kinerja dan produktivitas kota, berpindahnya fungsi kota ke rumah sebagai tempat tinggal sekaligus tempat belajar, bekerja, dan berniaga. Keberhasilan pelaksanaan belajar dan bekerja dari rumah akan membuka peluang kebijakan lanjutan terkait kegiatan apa saja yang dapat terus dilakukan dari rumah. Sementara kesempatan berusaha dari rumah akan mendorong percepatan perkembangan perdagangan secara dalam jaringan (on line, e-commerce).
Keempat, kemampuan perencanaan kota dan wilayah harus ditingkatkan dan diselaraskan. Pandemi Covid-19 di kota induk telah berdampak pada rantai produksi dan suplai dengan wilayah sekitar, regional, nasional, dan global. Perencanaan kota harus berwawasan luas dan komprehensif, serta menciptakan koalisi lebih kuat dalam mengantisipasi pandemi.
Pemerintah harus menyediakan fasilitas dan akses kesehatan yang mumpuni (klinik kesehatan, pusat kesehatan masyarakat, rumah sakit, apotek), serta didukung laboratorium penelitian dan pengembangan vaksin dan obat yang canggih. Dukungan dunia pendidikan kesehatan menjamin ketersediaan dokter, perawat, dan tenaga medis yang memadai, serta memberikan jaminan asuransi kesehatan/badan penyelenggara jaminan sosial dan inovasi program kesehatan lain.
Kedua, lingkungan sehat berperan penting membentuk warga sehat. Kondisi kota sehat adalah ketika sanitasi lingkungan permukiman bersih dan higienis, akses air bersih terlayani, saluran air tidak tergenang, sampah dan limbah terkelola baik, sehingga tidak mudah timbul wabah penyakit.
Pemerintah juga mesti melakukan penataan permukiman yang meliputi bedah rumah sehat, peremajaan kawasan padat, serta penyediaan hunian layak untuk semua. Pemerintah kota harus mengelola dan mengolah tuntas sampah dan limbah dengan menyediakan tempat pengolahan sampah terpadu, instalasi pengolahan air limbah (IPAL) komunal, akses jaringan air bersih dan sanitasi higienis, serta jaringan listrik dan internet yang memadai.
Ketiga, kota sehat mendorong warga hidup sehat. Warga didorong berjalan kaki (penyediaan trotoar) atau bersepeda (pembangunan infrastruktur pesepeda) dalam jarak dekat, serta menggunakan angkutan umum pada jarak menengah-jauh, namun dengan tetap mempertimbangkan untuk mengurangi mobilitas dan menghindari kerumuman, serta mengoptimalkan kegiatan dari rumah.
Kenormalan baru akan mengubah persepsi kinerja dan produktivitas kota, berpindahnya fungsi kota ke rumah sebagai tempat tinggal sekaligus tempat belajar, bekerja, dan berniaga. Keberhasilan pelaksanaan belajar dan bekerja dari rumah akan membuka peluang kebijakan lanjutan terkait kegiatan apa saja yang dapat terus dilakukan dari rumah. Sementara kesempatan berusaha dari rumah akan mendorong percepatan perkembangan perdagangan secara dalam jaringan (on line, e-commerce).
Keempat, kemampuan perencanaan kota dan wilayah harus ditingkatkan dan diselaraskan. Pandemi Covid-19 di kota induk telah berdampak pada rantai produksi dan suplai dengan wilayah sekitar, regional, nasional, dan global. Perencanaan kota harus berwawasan luas dan komprehensif, serta menciptakan koalisi lebih kuat dalam mengantisipasi pandemi.
Lihat Juga :