Marwan Jafar: BUMN Farmasi Mesti Kuat, Strategis dan Solutif
Senin, 29 Maret 2021 - 14:29 WIB
loading...
Anggota DPR RI Marwan Jafar mengatakan, di tengah masa pandemi Covid 19 dan sesudah pandemi, kalangan BUMN farmasi diharapkan memiliki inisiatif dan gagasan segar. Foto/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Badan Usaha Milik Negara (BUMN) diminta lebih kreatif, cerdas, bermanfaat bagi mayoritas warga masyarakat serta bagi negara. Terutama dalam memainkan peran pengadaan, importasi, distribusi maupun upaya memproduksi vaksin sendiri.
Anggota DPR RI Marwan Jafar mengatakan, di tengah masa pandemi Covid 19 dan sesudah pandemi, kalangan BUMN farmasi diharapkan juga memiliki inisiatif dan gagasan segar. Hal demikian, sambungnya, untuk menajamkan rencana bisnis yang lebih besar dan strategis berjangka panjang, berkembang, berkelanjutan serta mengoptimalkan benar upaya menjadi industri farmasi yang kokoh di dalam negeri dan berani memasuki pasar regional atau syukur di level global. Baca juga: Kemlu: 4.050 WNI Positif Covid-19 di Luar Negeri
Dia juga menegaskan, justru komunitas BUMN farmasi harus melihat sisi lain yang positif di masa Pandemi ini atau saat inilah momentum mahal buat merumuskan ulang rencana bisnis lebih fokus, berani bersaing dengan perusahaan farmasi multinasional dan memperkuat SDM yang berkeahlian tinggi. "Misalnya sebagai perbandingan, sekarang saja apakah BUMN sudah menang bersaing dengan sejumlah perusahaan farmasi swasta nasional di penelitian, laboratorium modern hingga produksi, pengolahan dan pemasaran produk herbal? Ambil contoh produksi minyak kayu putih (eucalyptus) yang sangat dibutuhkan masyarakat di masa Pandemi, pemimpin pasarnya tetap perusahaan farmasi swasta," kata Marwan yang juga Anggota Komisi VI DPR ini kepada wartawan, Senin (29/3/2021).
Menurut mantan Menteri Desa-PDTT ini, BUMN farmasi mesti mampu memanfaatkan momentum saat ini untuk lebih bekerja sama strategis dengan sejumlah stakeholders dunia farmasi. Mulai dari Kementerian Kesehatan, Kementerian Perindustrian, Perdagangan, Kemristek-BPPT, sejumlah lembaga penelitian seperti Eijkman, hingga laboratorium farmasi sejumlah perguruan tinggi, rumah sakit, apotik dan sebagainya. Baca juga: Dampak Embargo India, Menkes: Stok Vaksin Indonesia Tinggal 7 Juta
"Selain itu, di masa pandemi sekarang, hemat saya komunitas BUMN farmasi bisa menjadi jembatan atau memberikan jalan tengah yang solutif, terkait ego keilmuan terkait potensi penemuan vaksin Covid 19 khususnya di lingkungan perguruan tinggi. Ambil contoh, saya mendengar sempat ada persaingan dan ego tidak sehat antara UI dan Undip misalnya, khususnya yang pernah saling mengklaim tentang peluang menemukan vaksin termasuk tingkat kemanjurannya," tukasnya.
Anggota DPR RI Marwan Jafar mengatakan, di tengah masa pandemi Covid 19 dan sesudah pandemi, kalangan BUMN farmasi diharapkan juga memiliki inisiatif dan gagasan segar. Hal demikian, sambungnya, untuk menajamkan rencana bisnis yang lebih besar dan strategis berjangka panjang, berkembang, berkelanjutan serta mengoptimalkan benar upaya menjadi industri farmasi yang kokoh di dalam negeri dan berani memasuki pasar regional atau syukur di level global. Baca juga: Kemlu: 4.050 WNI Positif Covid-19 di Luar Negeri
Dia juga menegaskan, justru komunitas BUMN farmasi harus melihat sisi lain yang positif di masa Pandemi ini atau saat inilah momentum mahal buat merumuskan ulang rencana bisnis lebih fokus, berani bersaing dengan perusahaan farmasi multinasional dan memperkuat SDM yang berkeahlian tinggi. "Misalnya sebagai perbandingan, sekarang saja apakah BUMN sudah menang bersaing dengan sejumlah perusahaan farmasi swasta nasional di penelitian, laboratorium modern hingga produksi, pengolahan dan pemasaran produk herbal? Ambil contoh produksi minyak kayu putih (eucalyptus) yang sangat dibutuhkan masyarakat di masa Pandemi, pemimpin pasarnya tetap perusahaan farmasi swasta," kata Marwan yang juga Anggota Komisi VI DPR ini kepada wartawan, Senin (29/3/2021).
Menurut mantan Menteri Desa-PDTT ini, BUMN farmasi mesti mampu memanfaatkan momentum saat ini untuk lebih bekerja sama strategis dengan sejumlah stakeholders dunia farmasi. Mulai dari Kementerian Kesehatan, Kementerian Perindustrian, Perdagangan, Kemristek-BPPT, sejumlah lembaga penelitian seperti Eijkman, hingga laboratorium farmasi sejumlah perguruan tinggi, rumah sakit, apotik dan sebagainya. Baca juga: Dampak Embargo India, Menkes: Stok Vaksin Indonesia Tinggal 7 Juta
"Selain itu, di masa pandemi sekarang, hemat saya komunitas BUMN farmasi bisa menjadi jembatan atau memberikan jalan tengah yang solutif, terkait ego keilmuan terkait potensi penemuan vaksin Covid 19 khususnya di lingkungan perguruan tinggi. Ambil contoh, saya mendengar sempat ada persaingan dan ego tidak sehat antara UI dan Undip misalnya, khususnya yang pernah saling mengklaim tentang peluang menemukan vaksin termasuk tingkat kemanjurannya," tukasnya.
Lihat Juga :