Plus Minus Prabowo-Anies Berduet di Pilpres 2024
Selasa, 23 Maret 2021 - 14:12 WIB
loading...
A
A
A
Dia menjelaskan bahwa syarat seseorang bisa maju sebagai capres masih mengacu pada syarat ambang batas calon presiden atau presidential threshold 20%. "Lain halnya kalau menjadi nol persen. Beda dengan Prabowo Subianto yang punya elektabilitas, panggung politik dan Gerindra," katanya. Baca juga: Unggul di Usia 17-21, Anies Baswedan Masih Keok di Seluruh Populasi Pemilih
Bahkan, menurut Igor, Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto lebih berpeluang jadi Capres 2024 karena faktor Golkar, walaupun secara elektoral masih minim. Airlangga, kata dia, tinggal meningkatkan elektabilitas dan mencari pasangan dari partai lain (koalisi), maka menjadi Capres sesuai kelayakan Undang-undang.
"Ketiga, jika Prabowo maju lagi sebagai capres di 2024, kecil kemungkinan Anies Baswedan mau head to head dengan Prabowo. Bisa dibayangkan, jika Gerindra DKI tidak banyak mendukung kebijakan Anies di Jakarta sampai sekarang," ungkapnya.
Igor mengatakan, keinginan Anies Baswedan untuk bertemu Prabowo Subianto beberapa waktu lalu bisa dilihat dalam konteks perlindungan atas leadership-nya di Jakarta sampai akhir masa jabatan tahun depan. "Sekalipun politik itu dinamis, posisi Anies sebagai cawapres Prabowo lebih masuk akal," kata Igor. Baca juga: Soal Duet dengan Prabowo di Pilpres, Politikus PKS: Jangan Mau Pak Anies
Keempat, kata Igor, Anies Baswedan bisa menutupi celah kekurangan Prabowo Subianto, yaitu dari pemilih muslim yang kecewa karena bergabungnya mantan Danjen Kopasus itu ke dalam Pemerintahan Jokowi. Anies juga dianggap punya daya tarik bagi pemilih milenial yang merupakan segmen potensial dalam demografi pemilih di 2024.
Bahkan, menurut Igor, Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto lebih berpeluang jadi Capres 2024 karena faktor Golkar, walaupun secara elektoral masih minim. Airlangga, kata dia, tinggal meningkatkan elektabilitas dan mencari pasangan dari partai lain (koalisi), maka menjadi Capres sesuai kelayakan Undang-undang.
"Ketiga, jika Prabowo maju lagi sebagai capres di 2024, kecil kemungkinan Anies Baswedan mau head to head dengan Prabowo. Bisa dibayangkan, jika Gerindra DKI tidak banyak mendukung kebijakan Anies di Jakarta sampai sekarang," ungkapnya.
Igor mengatakan, keinginan Anies Baswedan untuk bertemu Prabowo Subianto beberapa waktu lalu bisa dilihat dalam konteks perlindungan atas leadership-nya di Jakarta sampai akhir masa jabatan tahun depan. "Sekalipun politik itu dinamis, posisi Anies sebagai cawapres Prabowo lebih masuk akal," kata Igor. Baca juga: Soal Duet dengan Prabowo di Pilpres, Politikus PKS: Jangan Mau Pak Anies
Keempat, kata Igor, Anies Baswedan bisa menutupi celah kekurangan Prabowo Subianto, yaitu dari pemilih muslim yang kecewa karena bergabungnya mantan Danjen Kopasus itu ke dalam Pemerintahan Jokowi. Anies juga dianggap punya daya tarik bagi pemilih milenial yang merupakan segmen potensial dalam demografi pemilih di 2024.
Lihat Juga :