Dunia Baru dan Tantangan Organisasi Mahasiswa
Kamis, 04 Maret 2021 - 11:01 WIB
loading...
A
A
A
Misalnya ada seorang kawan yang punya kelebihan di dunia IT, tercetus lah dalam benaknya untuk membuka penyedia jasa live streaming dan webinar dengan sistem sewa. Dia siapkap studio serta perangkatnya dari sejumlah alat hingga internet. Karena masih jarang, otomatis bisnis ini bisa dipatok dengan biaya yang lumayan, di angka 10 juta hingga 100 juta per event. Sesuatu yang sulit kita bayangkan sebelumnya.
Oleh karena itu, jika kita punya adik-adik yang masih berusia muda, cobalah ditanya apa cita-cita mereka. Mostly, yang muncul bukan lagi pilot, dokter, dan insinyur. Akan tetapi content creator, youtuber, dan social media influencer. Bahkan hari ini menjamur di jagad maya, ragam varian usaha yang berfokus di dunia digital marketing dan social media branding. 10 tahun yang lalu, hal ini masih relatif awam.
Dunia baru tentu tidak hadir tanpa asal usul. Pertama karena efek digitalisasi. Dan yang kedua, didorong pula oleh dampak dari pandemi Covid 19. Adaptasi kebiasaan baru (New Normal) menjadi sesuatu yang niscaya, sehingga ke depan mau atau tidak mau perjumpaan secara fisik semakin berkurang.
Industri yang mengarah kepada fasilitasi rapat dan pertemuan-pertemuan online, akan menjadi primadona. Dan di sini lah, exactly, tantangan organisasi-organisasi kemahasiswaan terlihat.
Sebab bagaimana pun, organisasi-organisasi kemahasiswaan asal usulnya adalah organisasi konvensional. Kegiatan-kegaitannya pasti kumpul-kumpul dan meniscayakan temu muka. Baik dalam agenda rapat, diskusi, hingga demonstrasi. Sekarang, sulit sekali membayangkan sebuah demonstrasi yang biasa digelar di depan Gedung DPR dan Istana Negara, ke depan bergeser menjadi Aksi Virtual. Tanpa heroisme dan euforia gerakan. Akan tetapi, change is a must. Perubahan adalah sebuah kepastian.
Oleh karena itu, jika kita punya adik-adik yang masih berusia muda, cobalah ditanya apa cita-cita mereka. Mostly, yang muncul bukan lagi pilot, dokter, dan insinyur. Akan tetapi content creator, youtuber, dan social media influencer. Bahkan hari ini menjamur di jagad maya, ragam varian usaha yang berfokus di dunia digital marketing dan social media branding. 10 tahun yang lalu, hal ini masih relatif awam.
Dunia baru tentu tidak hadir tanpa asal usul. Pertama karena efek digitalisasi. Dan yang kedua, didorong pula oleh dampak dari pandemi Covid 19. Adaptasi kebiasaan baru (New Normal) menjadi sesuatu yang niscaya, sehingga ke depan mau atau tidak mau perjumpaan secara fisik semakin berkurang.
Industri yang mengarah kepada fasilitasi rapat dan pertemuan-pertemuan online, akan menjadi primadona. Dan di sini lah, exactly, tantangan organisasi-organisasi kemahasiswaan terlihat.
Sebab bagaimana pun, organisasi-organisasi kemahasiswaan asal usulnya adalah organisasi konvensional. Kegiatan-kegaitannya pasti kumpul-kumpul dan meniscayakan temu muka. Baik dalam agenda rapat, diskusi, hingga demonstrasi. Sekarang, sulit sekali membayangkan sebuah demonstrasi yang biasa digelar di depan Gedung DPR dan Istana Negara, ke depan bergeser menjadi Aksi Virtual. Tanpa heroisme dan euforia gerakan. Akan tetapi, change is a must. Perubahan adalah sebuah kepastian.
Lihat Juga :