Halau Perempuan dari Pengaruh Konservatisme-Radikalisme

Senin, 01 Maret 2021 - 12:32 WIB
loading...
Halau Perempuan dari...
Wakil Sekretaris Jenderal Korps HMI Wati (Kohati) Octy Avriani Negara. Foto/Istimewa
A A A
JAKARTA - Data dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menunjukkan pada 2018 tercatat 13 orang perempuan terlibat dalam aksi teror sedangkan pada 2019 bertambah menjadi 15 orang termasuk kasus peledakan diri yang dilakukan istri Abu Hamzah di Sibolga, Sumatera Utara pada Maret 2019.

Wakil Sekretaris Jenderal Korps HMI Wati (Kohati) Octy Avriani Negara menila hal tersebut sebagai fakta menyakitkan. Perampuan yang sejatinya tiang penyangga peradaban bangsa kini harus terekam oleh memori sebagai pelaku terorisme.

"Meskipun sejatinya, pelaku perampuan lebih tepat disebut sebagai korban dari paham yang ekstrem radikal. Keikutsertaan perempuan dalam aksi terorisme juga dapat terlihat dalam sejumlah kasus di Indonesia," kata Octy dalam keterangannya, Senin (1/3/2021).

Meski peran perempuan dalam aksi terorisme tidak bisa disebut sebagai inisiator, kata dia, namun kehadiran kaum hawa dalam agenda kejahatan kemanusiaan ini merupakan sembilu peradaban yang sangat menyakitkan.

Menurut dia, fitrah perampuan yang identik dengan kelembutan dan keindahan tidak seharusnya dijerumuskan ke dalam aktivitas paling mematikan seperti terorisme.

"Tentu terdapat banyak alasan mengapa para wanita rela dan nekat mengabdikan kehormatan dirinya kepada oknum teroris tanpa takut sedikit pun," tandasnya.

Baca juga: Rawan Terseret Intoleransi dan Radikalisme, ASN Butuh Penguatan Ideologi Pancasila

Pertama, perempuan dianggap bisa menjadi pengikut yang loyal dan patuh kepada suami atau atasan yang menurutnya sangat kharismatik dan penyayang. Dalam pengaruh emosional yang dalam, akal sehat perampuan seringkali tidak berdaya oleh perasaan hatinya yang kadung cinta.

Kedua, "belaian" konservatisme ajaran agama yang menjanjikan keindahan surga, menjadi faktor paling menentukan bagi perampuan muslimah untuk percaya dan tunduk kepada ajakan radikal jahat untuk memerangi kaum yang bagi mereka halal darahnya.

Menurut dia, kemampuan mengakses media sosial secara intensif, tanpa dibekali literasi keilmuan dan pengetahuan yang cukup menjadi penyebab yang sistematis bagi kaum perampuan untuk sekedar mendalami apa yang disebut oleh Buya Safi’i Ma’arif sebagai paradigma teologi maut ini.

Baca juga: Pembentukan Komcad untuk Perkuat Pertahanan Negara Redam Radikalisme

Kondisi emosional perampuan yang sering tidak stabil akibat berbagai jenis tekanan hidup, lanjut dia, diketahui menjadi pintu masuk yang efektif bagi aktivis radikalisme.

"Tawaran untuk mengakhiri jalan hidup dengan kompensasi surga sepertinya menarik bagi banyak perampuan putus asa di era sekarang. Dalam konteks ini, harus kita akui bahwa ketimpangan sosial dan ketidakadilan ekonomi menjadi penyebab paling mendasar bagi terekrutnya perempuan," tuturnya.

Sedangkan bagi aktor intelektual radikalisme dan terorisme, pelibatan perempuan dianggap sebagai siasat yang dapat mengelabui aparat penegak hukum. Kepiawaian perampuan dalam menjalankan misi rahasia diakui memiliki pengaruh yang besar dalam pertimbangan para pelaku utama kejahatan terorisme.

Selain itu, kaum perampuan radikal yang notabene merupakan ibu rumah tangga dimanfaatkan menjadi alat propaganda oleh oknum aktivis radikalisme. "Jadi memang perempuan itu dekat dengan keluarga dan dia mampu mempengaruhi keluarganya," tuturnya.

Oleh karena itu ketika mempunyai paham yang salah atau keliru, itu sangat berbahaya untuk keluarganya. Karena perempuan sangat didengar.

Octy merujuk penelitian yang dirilis Universitas Cambridge, Inggris, pada Senin 22 Februari 2021, individu berpandangan ekstrem kesulitan menjalankan tugas psikologis yang rumit.

Studi tersebut menyimpulkan, gabungan karakter individu dan kemampuan kognitif, yakni bagaimana otak manusia mencerna informasi, bisa "memprediksi" pandangan ekstrem di lintas ideologi, termasuk nasionalisme atau agama. Karakter psikologis ini mencakup daya ingat yang rendah, dan kemampuan mencerna perubahan warna atau bentuk yang lambat.

"Individu yang memiliki sikap konservatisme politik yang ekstrem, atau individu berpandangan kaku dan hanya melihat dunia dengan hitam putih yang sulit diubah, juga ditengarai memiliki pengaruh mendorong individu ke dalam spektrum radikalisme," tuturnya.

Menurut dia, kaum perempuan sejatinya memiliki kekuatan natural untuk menarasikan kedamaian dan kelembutan, yang dapat memitigasi kekerasan di sekitarnya. Terlebih di Indonesia yang sangat besar potensinya, untuk perkembangan paham radikalisme.

"Upaya kontra narasi ayat-ayat Alquran di kalangan perampuan bisa menjadi pilihan sistematis bagi pemerintah dan kelompok Islam moderat dalam menghambat laju epidemi teologi maut terhadap kelompok rentan seperti perampuan. Pengamalan dan kampanye nilai dasar Islam washatiyah wajib menjadi narasi pokok dalam pengarus-utamaan diskursus Islam rahmatan lil’alamin," tuturnya.
(dam)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Demokrasi Belum Utuh...
Demokrasi Belum Utuh Jika Perempuan Masih Minim Keterwakilan
Membangun Ekosistem...
Membangun Ekosistem Haji Masa Depan: Ramah Perempuan, Lansia, Difabel dan Lingkungan
PKS Tekankan Peran Perempuan...
PKS Tekankan Peran Perempuan dalam Penguatan Ekonomi Keluarga dan Nasional
Densus Ungkap 247 Anak...
Densus Ungkap 247 Anak Terpapar Radikalisme dan Kekerasan Sepanjang 2026
Pendampingan PNM Mekaar...
Pendampingan PNM Mekaar Antar Perempuan UMKM Raih Prestasi Nasional
Kolaborasi PNM dan MES...
Kolaborasi PNM dan MES Tingkatkan Kesejahteraan Perempuan lewat Program Mba Maya
Tak Hanya Hukum Oknum...
Tak Hanya Hukum Oknum Polisi, Selly DPR Minta Usut Tuntas Penganiayaan Perempuan Cirebon
Perempuan Desa Ambil...
Perempuan Desa Ambil Peran, Perkuat Generasi Muda Nusantara
Program Perempuan Berdaya...
Program Perempuan Berdaya Sandiaga Uno, Peserta Raup Pesanan Jutaan Rupiah
Rekomendasi
Trump Lontarkan Klaim...
Trump Lontarkan Klaim Mengejutkan: 90% Mojtaba Khamenei Telah Tewas
Siap-siap Menyambut...
Siap-siap Menyambut Bulan Safar : Sejarah, Kedudukan, Mitos hingga Amalan Sunahnya
Bukan Harry Kane atau...
Bukan Harry Kane atau Bellingham, Argentina Waspadai Declan Rice Jelang Semifinal Piala Dunia 2026
Berita Terkini
Jelang Pelimpahan Berkas,...
Jelang Pelimpahan Berkas, Gus Yaqut: Semoga Kebenaran Terungkap
Prabowo Ingatkan Penanganan...
Prabowo Ingatkan Penanganan Sampah Tak Bisa Gunakan Cara-cara Lama
3 Pemimpin Dunia Bertemu...
3 Pemimpin Dunia Bertemu Prabowo dalam Sepekan, Bukti Indonesia Dipercaya Dunia
Satu Dekade Laut China...
Satu Dekade Laut China Selatan: Stabilitas Kawasan Ketimbang Kontestasi
Makna Prabowo Minta...
Makna Prabowo Minta Aparatur Introspeksi, Qodari: Tak Ada yang Istimewa di Mata Hukum
Soal Usulan Ambil Alih...
Soal Usulan Ambil Alih Kasus Febrie Adriansyah, KPK: Kita Ikuti Dulu Perkembangannya
Infografis
10 Figur Publik Penerima...
10 Figur Publik Penerima Beasiswa LPDP, dari Mutiara Baswedan hingga Maudy Ayunda
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved