Epidomolog Nilai Indonesia Bebas Covid-19 Agustus 2021 Tidak Realistis
Minggu, 28 Februari 2021 - 16:18 WIB
loading...
A
A
A
Dikatakan bahwa penurunan angka positif Covid-19 di Indonesia memang menurun dalam satu minggu terakhir. "Namun itu bukan berarti akan terus seperti itu, bisa saja terjadi gelombang positif terjangkit pada minggu-minggu mendatang bila kita tidak disiplin mentaati Prokes meski tentu kita tidak berharap demikian. Dan kecepatan vaksin kita juga akan mempengaruhi kapan kita bisa keluar dari pandemi ini," kata Christian.
Perihal vaksinasi massal yang sedang massif dilakukan, Christian menjelaskan tentu kita sangat bersyukur, pemerintah bergerak cepat untuk menyediakan stok vaksin untuk kebutuhan nasional. Apalagi banyak negara yang masih berburu vaksin hingga hari ini. "Namun bukan berarti vaksin adalah akhir dari pandemi, masih banyak faktor yang bisa menyebabkan pandemi belum bisa dikatakan berakhir," katanya.
Christian menyarankan mungkin lebih bijak jika Ketua Satgas Covid-19 Doni Monardo bisa menjelaskan langkah-langkah strategis apa yang akan diambil menuju 17 Agustus 2021. "Seluruh rakyat Indonesia tentu akan sangat bergembira jika benar kita bisa segera keluar dari pandemic Covid-19 ini,” kata Christian Epidomolog Nilai Indonesia Bebas Covid-19 Agustus 2021 Tidak Realistis
Epidemiolog Universitas Griffith, Dicky Budiman menilai target pemerintah untuk Indonesia bebas Covid-19 sepertinya akan sulit terealisasi. Ada beberapa alasan mengapa Indonesia akan sulit terbebas dari virus yang berasal dari Wuhan, China tersebut.
Dia menjelaskan, dalam pengendalian pandemi sangat penting untuk memiliki target, baik itu sifatnya optimistis atau realistis. Namun yang menjadi pertanyaan dalam penentuan target tersebut, apakah sudah menggunakan data yang memadai atau tidak. "Kalau bicara data, kita tahu situasi saat ini testing dan tracing kita masih rendah, sehingga data yang kita miliki juga tidak memadai untuk menyusun target yang tepat. Padahal testing dan tracing itu menggambarkan penguasaan kita pemahaman kita tentang masalah yang terjadi. Sehingga tidak misleading dan tidak salah strategi. Dan tetap tidak salah target," katanya saat dihubungi, Minggu (28/2/2021).
Selain itu, Dicky juga menyoroti tentang Indonesia bebas Covid-19. Dia menilai hal tersebut sangat sulit untuk terjadi, bahkan hingga tiga tahun ke depan hampir tidak mungkin Indonesia terbebas dari Covid-19. Dia menjelaskan, definisi bebas Covid-19 adalah eradikasi atau eliminasi pada level nasional dan itu tidak ditunjang dengan data saat ini. Lebih lagi host Covid-19 tidak hanya manusia, bisa juga ke hewan.
"Kalau bicara bebas Covid-19, bukan berarti tidak ada kasus. Dan sekali lagi kecenderungan saat ini mengarah Covid-19 ini akan menjadi penyakit yang endemis atau akan hadir di manusia dalam pola musiman, terus ada. Selain juga ada ancaman strain baru yang terus. Ini akan pola influenza, kecenderungan fakta ilmiah yang tidak bisa dihindari dan jadi bagian dari penentuan target nasional. Jadi target bebas itu tidak realistis. Target yang realistis itu terkendali, tapi terkendali ini ada kriteria juga ada waktunya, perlu untuk kondisi indonesia," tambah Dicky.
Perihal vaksinasi massal yang sedang massif dilakukan, Christian menjelaskan tentu kita sangat bersyukur, pemerintah bergerak cepat untuk menyediakan stok vaksin untuk kebutuhan nasional. Apalagi banyak negara yang masih berburu vaksin hingga hari ini. "Namun bukan berarti vaksin adalah akhir dari pandemi, masih banyak faktor yang bisa menyebabkan pandemi belum bisa dikatakan berakhir," katanya.
Christian menyarankan mungkin lebih bijak jika Ketua Satgas Covid-19 Doni Monardo bisa menjelaskan langkah-langkah strategis apa yang akan diambil menuju 17 Agustus 2021. "Seluruh rakyat Indonesia tentu akan sangat bergembira jika benar kita bisa segera keluar dari pandemic Covid-19 ini,” kata Christian Epidomolog Nilai Indonesia Bebas Covid-19 Agustus 2021 Tidak Realistis
Epidemiolog Universitas Griffith, Dicky Budiman menilai target pemerintah untuk Indonesia bebas Covid-19 sepertinya akan sulit terealisasi. Ada beberapa alasan mengapa Indonesia akan sulit terbebas dari virus yang berasal dari Wuhan, China tersebut.
Dia menjelaskan, dalam pengendalian pandemi sangat penting untuk memiliki target, baik itu sifatnya optimistis atau realistis. Namun yang menjadi pertanyaan dalam penentuan target tersebut, apakah sudah menggunakan data yang memadai atau tidak. "Kalau bicara data, kita tahu situasi saat ini testing dan tracing kita masih rendah, sehingga data yang kita miliki juga tidak memadai untuk menyusun target yang tepat. Padahal testing dan tracing itu menggambarkan penguasaan kita pemahaman kita tentang masalah yang terjadi. Sehingga tidak misleading dan tidak salah strategi. Dan tetap tidak salah target," katanya saat dihubungi, Minggu (28/2/2021).
Selain itu, Dicky juga menyoroti tentang Indonesia bebas Covid-19. Dia menilai hal tersebut sangat sulit untuk terjadi, bahkan hingga tiga tahun ke depan hampir tidak mungkin Indonesia terbebas dari Covid-19. Dia menjelaskan, definisi bebas Covid-19 adalah eradikasi atau eliminasi pada level nasional dan itu tidak ditunjang dengan data saat ini. Lebih lagi host Covid-19 tidak hanya manusia, bisa juga ke hewan.
"Kalau bicara bebas Covid-19, bukan berarti tidak ada kasus. Dan sekali lagi kecenderungan saat ini mengarah Covid-19 ini akan menjadi penyakit yang endemis atau akan hadir di manusia dalam pola musiman, terus ada. Selain juga ada ancaman strain baru yang terus. Ini akan pola influenza, kecenderungan fakta ilmiah yang tidak bisa dihindari dan jadi bagian dari penentuan target nasional. Jadi target bebas itu tidak realistis. Target yang realistis itu terkendali, tapi terkendali ini ada kriteria juga ada waktunya, perlu untuk kondisi indonesia," tambah Dicky.
Lihat Juga :