Organisasi Sayap Demokrat Ungkap tentang Sosok Moeldoko

loading...
Organisasi Sayap Demokrat Ungkap tentang Sosok Moeldoko
Kepala Staf Presiden (KSP) Moeldoko. Foto/SINDOnews
JAKARTA - Sekira 7 organisasi sayap (orsap) Partai Demokrat melakukan deklarasi penolakan terhadap Kongres Luar Biasa (KLB) dan juga pencalonan Kepala Staf Presiden (KSP) Moeldoko sebagai Ketua Umum Partai Demokrat (Ketum PD), dan tetap mendukung kepemimpinan Ketum PD yang sah, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Baca juga: 7 Organisasi Sayap Demokrat Tegaskan Tolak KLB dan Moeldoko

Tujuh orsap itu di antaranya Komite Nasional Partai Demokrat (KNPD), Forum Komunikasi Pendiri & Deklarator Partai Demokrat (FKPD), Perempuan Demokrat RI (PDRI), Insan Muda Demokrat Indonesia (IMDI), Bintang Muda Indonesia (BMI), Forum Komunikasi Kaderisasi Generasi Demokrat (FKKGD) dan Angkatan Muda Penggerak Demokrat AMPD.

Baca juga: Moeldoko soal Demokrat: Saya Diam, Jangan Menekan-nekan

"Ada lima alasan kenapa kami menyayangkan bahkan menurut saya langkah semacam itu harus segera diberangus, dalam rangka menjaga proses demokratisasi yang sehat. Demokratisasi tidak boleh diboncengi oleh mental-mental busuk karena pemimpin yang semacam itu yang mementingkan persoaaln materi hanya ingin uang dan sebagainya. Jelas bahwa akan melenakan rakyat," kata Ketum Orsap Bintang Muda Indonesia Farhan Efendi di Kantor DPP Partai Demokrat, Kamis (25/2/2021).



Baca juga: Namanya Disebut SBY, Moeldoko: Memang Belum Selesai di Demokrat?

Pertama, kata Farhan, pihaknya menganggap tindakan teman-teman yang berkumpul di Bellagio adalah irrasional dan tidak ada dasar. Karena, orsap dalam status AD ART Partai Demokrat tidak memiliki hak untuk menyuarakan KLB. Kedua, apa yang dikemukakan bahwa AHY gagal ini juga sangat tidak ada alasan dan berlawanan dengan fakta yang ada di masyarakat.

"Satu tahun ini kepemimpinan AHY dirasa tidak hanya partai dmeokrat tapi sleuruh bangsa Indonesia adalah paling visioner, terbukti bahwa Partai Demokrat hari ini bisa mencapai kemenangan di Pilkada itu sebuah prestasi yang semua orang tahu, manakala ada teman-teman bahkan orang dalam sendiri itu tidak berprestasi itu adalah pemikiran yang tidak waras dan pasti sudah kemasukan coro, dalam otaknya," tukasnya.

Farhan mengaku tidak tahu apakah ada iming-iming atau tidak, yang jelas dalam praktik politik itu hal semacam itu bukan semacam hal yang tabu. Tapi, bagi aktivis itu adalah moral yang buruk dan busuk. Dan dia mengaku heran kenapa Partai Demokrat harus dipimpin oleh orang dari eksternal, dan Moeldoko itu bukan orang yang baik untuk dijadikan pemimpin Demokrat. Bahkan, Moeldoko dikenal sebagai Panglima TNI yang suka pamer kekayaan.

"Pak Moeldoko sudah pernah mengalami pembelajaran bahkan dia hidup di partai tertentu dan tidak berprestasi, dan ini semua orang tahu dan kita juga aktivis tahu bahwa pribadi Pak Moeldoko adalah sosok pirbadi yang arogan dulu waktu menjabat sebagai panglima, dikenal sebagai orang yang suka pamer kekayaan," ungkapnya.



Menurut dia, hal ini juga buruk bagi mental kepemimpinan yang akan datang karena jauh dari perasaan kerakyatan. Untuk itu BMI tegas mengingatkan untuk teman-teman orsap yang ada di seberang untuk menyudahi ini, Demokrat ke depan butuh pemimpin yang baik.

"Saya kira Mas AHY semuanya mengatakan bahwa beliau pribadi yang cerdas, santun dan memiliki wawasan yang cukup untuk memimpin bangsa ini. Tinggal kita doakan kerjakeras ke depan, mudah-mudahan mas AHY betul-betul mendapatkan ridho dari Allah SWt mendapatkan jalan dan rakyat menginginkan beliau untuk memimpin bangsa ini," ucapnya.

Farhan mengakui bahwa semua orang punya hak untuk memimpin, memilih dan dipilih, itu adalah tradisi berdemokrasi. Untuk itu, BMI berpesan kepada teman-teman yang selama ini berpolitik dan berdemokrasi, hanya mengatasnamakan rakyat tapi faktanya adalah mencuri semangat kerakyatan bahkan mencari uang semata sudah saatnya untuk dihentikan.

"Dan BMI dalam hal ini tantangan untuk ke depan dengan orang-orang semacam itu," pungkasnya.
(maf)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top