Produk Halal, Antara Gaya Hidup dan Sadar Halal
Rabu, 24 Februari 2021 - 07:00 WIB
loading...
A
A
A
Hikmah Covid-19 mendorong kreativitas tanpa henti. Malaysia lebih progresif menginovasi logistik halal, salah satunya produk sabun yang mengandung tanah. Seperti diketahui, menurut hukum fikih, apabila barang terkena najis mughalladhah (najis kategori berat) harus dicuci (samak) tujuh kali, salah satunya dicampur dengan tanah (turab). Penemuan mutakhir menyebutkan bahwa dalam unsur tanah terdapat tetracycline, jenis antibiotik yang mampu membunuh bakteri dan kuman.
Inovasi itu sangat bermanfaat, terlebih bagi para muslim (dan nonmuslim) yang ingin menyamak barang namun tinggal di tempat yang sulit mendapatkan tanah, seperti apartemen dan hotel. Produk ini juga dapat digunakan mencuci gudang dan kontainer untuk mengangkut produk halal. Menurut Irwandi Jaswir, inovasi ini menjual kepraktisan untuk pemenuhan standar halal dalam sebuah rantai nilai halal (INSIGHT-KNEKS, Edisi 12/2020).
Tingginya potensi pasar produk halal, sisi lain kesadaran masyarakat akan halal sebagai industri makin membaik, geliat usaha makin besar. Industri halal menjadi new engine untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Pelaku usaha dapat mengembangkan usahanya secara nyaman dan kompetitif, konsumen muslim mendapat kemudahan produk dan jasa yang tidak menyalahi akidahnya (spiritual benefit). Klop sudah.
Gaya hidup halal awalnya sebagai seni hidup keseharian, berevolusi menjadi industri yang memiliki daya tarik dan potensi besar dalam aspek bisnis. Ada empat prinsip gaya hidup halal yang relevan dengan kondisi saat ini. Prinsip syariah, orientasi kualitas, prinsip prioritas karena muslim tidak membeli atau beraktifitas yang mubazir, dan prinsip moralitas yang menjaga hak-hak konsumen. Tanpa berpretensi yang terbaik, gaya hidup halal sebagai “cara hidup” layak dipertimbangkan sebagai prioritas.
Inovasi itu sangat bermanfaat, terlebih bagi para muslim (dan nonmuslim) yang ingin menyamak barang namun tinggal di tempat yang sulit mendapatkan tanah, seperti apartemen dan hotel. Produk ini juga dapat digunakan mencuci gudang dan kontainer untuk mengangkut produk halal. Menurut Irwandi Jaswir, inovasi ini menjual kepraktisan untuk pemenuhan standar halal dalam sebuah rantai nilai halal (INSIGHT-KNEKS, Edisi 12/2020).
Tingginya potensi pasar produk halal, sisi lain kesadaran masyarakat akan halal sebagai industri makin membaik, geliat usaha makin besar. Industri halal menjadi new engine untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Pelaku usaha dapat mengembangkan usahanya secara nyaman dan kompetitif, konsumen muslim mendapat kemudahan produk dan jasa yang tidak menyalahi akidahnya (spiritual benefit). Klop sudah.
Gaya hidup halal awalnya sebagai seni hidup keseharian, berevolusi menjadi industri yang memiliki daya tarik dan potensi besar dalam aspek bisnis. Ada empat prinsip gaya hidup halal yang relevan dengan kondisi saat ini. Prinsip syariah, orientasi kualitas, prinsip prioritas karena muslim tidak membeli atau beraktifitas yang mubazir, dan prinsip moralitas yang menjaga hak-hak konsumen. Tanpa berpretensi yang terbaik, gaya hidup halal sebagai “cara hidup” layak dipertimbangkan sebagai prioritas.
(bmm)
Lihat Juga :