Imlek dan Upaya Membangun Harmoni Melawan Pandemi
Sabtu, 13 Februari 2021 - 07:00 WIB
loading...
A
A
A
Seiring berjalannya waktu, masyarakat Tionghoa telah hidup menyatu dengan masyarakat Indonesia dan menyebar di seluruh daerah di Tana Air. Demikian juga pemerintah telah menerbitkan aturan yang melarang penggunaan istilah pribumi dan nonpribumi.
Perluasan Makna
Secara kontekstual kata harmoni mengalami perluasan makna jika dibandingkan dengan pengertian harmoni sebagaimana diuraikan di atas. Pengertian harmoni secara kontekstual adalah adanya kesamaan tindakan, tujuan yang dituangkan dalam wujud nyata secara bersama-sama. Berbeda dengan pengertian harmoni sebelumnya yang hanya menekankan pada aspek penerimaan (resepsi) dan penyatuan budaya. Sebagaimana diketahui di Indonesia dikenal istilah budaya peranakan sebagai bentuk penyatuan budaya (fusion).
Adapun pemaknaan kontekstual pada artikel ini menunjuk pada kondisi pandemi beserta segala dampak yang disebabkan virus penyebab: Covid-19. Imlek pada dasarnya merupakan perayaan menyambut musim semi. Tradisi ini lekat dengan sistem penanggalan kalender Tionghoa yang berpatokan pada peredaran bulan berpadu peredaran matahari. Sistem penghitungan tersebut juga dikenal dengan sebutan kalender lunisolar, di mana awal tahun bertepatan dengan masuknya musim semi. Karenanya, di Tiongkok sana Tahun Baru Imlek lebih dikenal dengan sebutan Chunjie (perayaan musim semi) sebagai awal memulai pekerjaan kembali.
Secara historis pada hari pertama Imlek (Sin Nien) atau Tahun Baru, mereka melakukan sembahyang pada leluhur dan tak lupa menyajikan makanan, minuman, dan buah di altar. Yang tak punya altar di rumah pergi ke kelenteng terdekat untuk sembahyang, mengucapkan terima kasih atas lindungan Thien (Tuhan) sepanjang tahun. Setelah itu mereka memberikan hormat kepada orang tua, saling mengunjungi sanak keluarga dan kerabat dekat. Hari kedua adalah saat hue niang cia atau pulang ke rumah ibu.
Perempuan yang sudah menikah membawa Teng Lu yang merupakan bingkisan atau angpau (kantong merah kecil yang berisi uang) untuk ibu dan adik-adiknya. Secara tradisi, angpau atau hung pau juga diberikan kepada anak-anak dan orang tua.
Secara kontekstual pemaknaan harmoni (khususnya) pada saat Imlek dimaknai sebagai upaya bersama untuk melawan pandemi Covid-19 beserta segala dampaknya, sehingga Imlek dipandang sebagai bentuk momentum perluasan harmoni secara kontekstual. Secara kontekstual harmoni yang dimaksud adalah bersama-sama melawan pandemi Covid-19 dan mewujudkan solidaritas sosial terhadap dampak Covid-19 sebagai bentuk kebersamaan (baca: harmoni).
Perluasan Makna
Secara kontekstual kata harmoni mengalami perluasan makna jika dibandingkan dengan pengertian harmoni sebagaimana diuraikan di atas. Pengertian harmoni secara kontekstual adalah adanya kesamaan tindakan, tujuan yang dituangkan dalam wujud nyata secara bersama-sama. Berbeda dengan pengertian harmoni sebelumnya yang hanya menekankan pada aspek penerimaan (resepsi) dan penyatuan budaya. Sebagaimana diketahui di Indonesia dikenal istilah budaya peranakan sebagai bentuk penyatuan budaya (fusion).
Adapun pemaknaan kontekstual pada artikel ini menunjuk pada kondisi pandemi beserta segala dampak yang disebabkan virus penyebab: Covid-19. Imlek pada dasarnya merupakan perayaan menyambut musim semi. Tradisi ini lekat dengan sistem penanggalan kalender Tionghoa yang berpatokan pada peredaran bulan berpadu peredaran matahari. Sistem penghitungan tersebut juga dikenal dengan sebutan kalender lunisolar, di mana awal tahun bertepatan dengan masuknya musim semi. Karenanya, di Tiongkok sana Tahun Baru Imlek lebih dikenal dengan sebutan Chunjie (perayaan musim semi) sebagai awal memulai pekerjaan kembali.
Secara historis pada hari pertama Imlek (Sin Nien) atau Tahun Baru, mereka melakukan sembahyang pada leluhur dan tak lupa menyajikan makanan, minuman, dan buah di altar. Yang tak punya altar di rumah pergi ke kelenteng terdekat untuk sembahyang, mengucapkan terima kasih atas lindungan Thien (Tuhan) sepanjang tahun. Setelah itu mereka memberikan hormat kepada orang tua, saling mengunjungi sanak keluarga dan kerabat dekat. Hari kedua adalah saat hue niang cia atau pulang ke rumah ibu.
Perempuan yang sudah menikah membawa Teng Lu yang merupakan bingkisan atau angpau (kantong merah kecil yang berisi uang) untuk ibu dan adik-adiknya. Secara tradisi, angpau atau hung pau juga diberikan kepada anak-anak dan orang tua.
Secara kontekstual pemaknaan harmoni (khususnya) pada saat Imlek dimaknai sebagai upaya bersama untuk melawan pandemi Covid-19 beserta segala dampaknya, sehingga Imlek dipandang sebagai bentuk momentum perluasan harmoni secara kontekstual. Secara kontekstual harmoni yang dimaksud adalah bersama-sama melawan pandemi Covid-19 dan mewujudkan solidaritas sosial terhadap dampak Covid-19 sebagai bentuk kebersamaan (baca: harmoni).
Lihat Juga :