Vaksinasi Jadi Kunci Bangkitnya Pariwisata Indonesia
Kamis, 11 Februari 2021 - 00:18 WIB
loading...
A
A
A
Pada intinya, kata Sandiaga, perlu ada kolaborasi agar proses vaksinasi ini berjalan dengan sukses dan cepat. Kata kuncinya adalah kolaborasi.
"Kalau bicara vaksin, maka kita akan sukses kalau kita berkolaborasi. Ayok berkolaborasi. Kita jalankan protokol kesehatan secara konsisten," jelasnya.
Michael Umbas selaku Host yang juga founder UMKM Tangguh Indonesia mengaku langkah kolaborasi harus konsisten dijalankan untuk mempercepat proses vaksinasi.”Vaksin ini memang jadi game changer, kita akhirnya punya solusi meski masih berproses, itu yang harus didorong selain protokol kesehatan ketat,” ujarnya.
Sementara itu, Sis Apik Wijayanto selaku Direktur Hubungan Kelembagaan BNI memaparkan peranan BNI terhadap sektor Pariwisata saat pandemi.
Dia menjelaskan empat sektor yang dilakulan BNI, yakni pada sektor Pemberdayaan dan Pendampingan, peningkatan kemampuan SDM, Relaksasi dan Restrukturisasi kredit, serta pada sektor Pembiayaan.
Dalam pemberdayaan dan pendampingan, Apik menjelaskan BNI mendukung dalam bentuk sarana penunjang sektor pariwisata dengan pembiayaan CSR dalam pembangunan Homestay.
Adapun dalam bidang peningkatan kemampuan SDM pengelola meliputi softskill dan hardskill. Apik menjelaskan BNI membantu dengan program-program yakni membangun SDM Management pengelolaan Wisata; Pelatihan Packaging Produk; Pelatihan Pemasaran Produk.
Bantuan BNI yang ketiga adalah terkait Relaksasi dan Restrukturisasi kredit. BNI telah memberikan relaksasi berupa restrukturisasi kredit dan menyalurkan Subsidi bunga kepada 34.055 UMKM binaan BNI yang bergerak di bidang sektor pariwisata
Sedangkan pada sektor Pembiayaan, Apik mengatakan BNI telah melakukan penyaluran kredit kepada UMKM yang ada di daerah Wisata di seluruh Indonesia.
"Total pembiayaan BNI pada UMKM di Sektor Pariwisata hingga tanggal 31 Desember 2020 sebesar Rp.5.197 Miliar kepada 25.025 UMKM," ungkapnya.
Pada diskusi itu , Chairman Bali Tourism Board Gus Agung menjelaskan bahwa Bali adalah daerah paling terdampak pandemi Covid-19. Hal ini tak bisa dipungiri karena semua sektor di Bali tergantung pada pariwisata.
"Kalau bicara vaksin, maka kita akan sukses kalau kita berkolaborasi. Ayok berkolaborasi. Kita jalankan protokol kesehatan secara konsisten," jelasnya.
Michael Umbas selaku Host yang juga founder UMKM Tangguh Indonesia mengaku langkah kolaborasi harus konsisten dijalankan untuk mempercepat proses vaksinasi.”Vaksin ini memang jadi game changer, kita akhirnya punya solusi meski masih berproses, itu yang harus didorong selain protokol kesehatan ketat,” ujarnya.
Sementara itu, Sis Apik Wijayanto selaku Direktur Hubungan Kelembagaan BNI memaparkan peranan BNI terhadap sektor Pariwisata saat pandemi.
Dia menjelaskan empat sektor yang dilakulan BNI, yakni pada sektor Pemberdayaan dan Pendampingan, peningkatan kemampuan SDM, Relaksasi dan Restrukturisasi kredit, serta pada sektor Pembiayaan.
Dalam pemberdayaan dan pendampingan, Apik menjelaskan BNI mendukung dalam bentuk sarana penunjang sektor pariwisata dengan pembiayaan CSR dalam pembangunan Homestay.
Adapun dalam bidang peningkatan kemampuan SDM pengelola meliputi softskill dan hardskill. Apik menjelaskan BNI membantu dengan program-program yakni membangun SDM Management pengelolaan Wisata; Pelatihan Packaging Produk; Pelatihan Pemasaran Produk.
Bantuan BNI yang ketiga adalah terkait Relaksasi dan Restrukturisasi kredit. BNI telah memberikan relaksasi berupa restrukturisasi kredit dan menyalurkan Subsidi bunga kepada 34.055 UMKM binaan BNI yang bergerak di bidang sektor pariwisata
Sedangkan pada sektor Pembiayaan, Apik mengatakan BNI telah melakukan penyaluran kredit kepada UMKM yang ada di daerah Wisata di seluruh Indonesia.
"Total pembiayaan BNI pada UMKM di Sektor Pariwisata hingga tanggal 31 Desember 2020 sebesar Rp.5.197 Miliar kepada 25.025 UMKM," ungkapnya.
Pada diskusi itu , Chairman Bali Tourism Board Gus Agung menjelaskan bahwa Bali adalah daerah paling terdampak pandemi Covid-19. Hal ini tak bisa dipungiri karena semua sektor di Bali tergantung pada pariwisata.
Lihat Juga :