Realisasi Investasi Dipatok Rp900 Triliun
Jum'at, 05 Februari 2021 - 06:33 WIB
loading...
Presiden Joko Widodo (Jokowi) menargetkan realisasi investasi tahun ini sebesar Rp900 triliun. (Ilustrasi: SINDOnews/Wawan Bastian)
A
A
A
PENCAPAIAN realisasi investasi sepanjang tahun lalu yang melampaui target dipertanyakan wakil rakyat di Senayan. Pada rapat kerja antara Komisi VI DPR RI dan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dipaparkan realisasi investasi yang menembus Rp826,3 triliun dari target Rp817,2 triliun atau persentase realisasi mencapai sekitar 101,1 triliun pada tahun lalu dan tumbuh sekitar 2,1% secara tahunan.
Pada raker tersebut Kepala BKPM Bahlil Lahadalia membeberkan bahwa target realisasi investasi 2020 semula Rp886 triliun, tetapi di luar dugaan pandemi korona (Covid-19) melanda sehingga target tersebut direvisi menjadi Rp817,2 triliun.
Namun angka realisasi investasi yang dipaparkan mantan Ketua Umum HIPMI itu justru disambut dingin. Anggota Komisi VI DPR RI Nusron Wahid justru meragukan data yang disajikan pihak BKPM. Anggota Fraksi Partai Golkar ini menyebutkan data BKPM berbeda dengan milik Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Lebih jauh Nusron mengutip pernyataan dari Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati yang memprediksi pertumbuhan ekonomi triwulan keempat 2020 masih pada kisaran minus 0,9% hingga minus 2,9% pada awal Januari lalu. Salah satu penyebabnya karena investasi swasta masih kontraksi pada kisaran minus 4,3% sampai minus 4% pada akhir tahun lalu. Mengapa angka investasi dari pemerintah ada dua versi? Nusron mengaku lebih percaya data yang diterbitkan Kemenkeu.
Bola panas yang dilemparkan anggota Komisi VI itu tak membuat suasana rapat kerja langsung memanas. Bahlil kemudian meluruskan bahwa angka yang dibeberkan Menkeu Sri Mulyani Indrawati adalah realisasi pembentukan modal tetap bruto (PMTB) di triwulan keempat 2020. PMTB adalah pengeluaran untuk barang modal yang memiliki usia pemakaian lebih dari satu tahun dan bukan barang konsumsi. Adapun komponen pembentukan PMTB gabungan investasi dari empat poin, yakni sektor keuangan, hulu migas, pemerintah, dan investasi langsung secara khusus serta penanaman modal asing (PMA) dan penanaman modal dalam negeri (PMDN). Sementara itu BKPM khusus mencatat investasi langsung dari PMA dan PMDN.
Meski sudah dijelaskan perbedaan angka realisasi investasi antara Kemenkeu dan BKPM, Nusron justru malah mempertanyakan mengapa ekonomi Indonesia diprediksi tumbuh minus 1,7% hingga 2,2% sepanjang 2020 jika realisasi investasi justru mencatatkan pertumbuhan sekitar 2,1%?
Pada raker tersebut Kepala BKPM Bahlil Lahadalia membeberkan bahwa target realisasi investasi 2020 semula Rp886 triliun, tetapi di luar dugaan pandemi korona (Covid-19) melanda sehingga target tersebut direvisi menjadi Rp817,2 triliun.
Namun angka realisasi investasi yang dipaparkan mantan Ketua Umum HIPMI itu justru disambut dingin. Anggota Komisi VI DPR RI Nusron Wahid justru meragukan data yang disajikan pihak BKPM. Anggota Fraksi Partai Golkar ini menyebutkan data BKPM berbeda dengan milik Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Lebih jauh Nusron mengutip pernyataan dari Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati yang memprediksi pertumbuhan ekonomi triwulan keempat 2020 masih pada kisaran minus 0,9% hingga minus 2,9% pada awal Januari lalu. Salah satu penyebabnya karena investasi swasta masih kontraksi pada kisaran minus 4,3% sampai minus 4% pada akhir tahun lalu. Mengapa angka investasi dari pemerintah ada dua versi? Nusron mengaku lebih percaya data yang diterbitkan Kemenkeu.
Bola panas yang dilemparkan anggota Komisi VI itu tak membuat suasana rapat kerja langsung memanas. Bahlil kemudian meluruskan bahwa angka yang dibeberkan Menkeu Sri Mulyani Indrawati adalah realisasi pembentukan modal tetap bruto (PMTB) di triwulan keempat 2020. PMTB adalah pengeluaran untuk barang modal yang memiliki usia pemakaian lebih dari satu tahun dan bukan barang konsumsi. Adapun komponen pembentukan PMTB gabungan investasi dari empat poin, yakni sektor keuangan, hulu migas, pemerintah, dan investasi langsung secara khusus serta penanaman modal asing (PMA) dan penanaman modal dalam negeri (PMDN). Sementara itu BKPM khusus mencatat investasi langsung dari PMA dan PMDN.
Meski sudah dijelaskan perbedaan angka realisasi investasi antara Kemenkeu dan BKPM, Nusron justru malah mempertanyakan mengapa ekonomi Indonesia diprediksi tumbuh minus 1,7% hingga 2,2% sepanjang 2020 jika realisasi investasi justru mencatatkan pertumbuhan sekitar 2,1%?
Lihat Juga :