Kasus Corona Masih Tinggi, Rumah Sakit Darurat Mendesak
Selasa, 19 Januari 2021 - 05:42 WIB
loading...
A
A
A
LaporCovid19 menemukan bahwa sistem rujuk antarfasilitas kesehatan tidak berjalan dengan baik dan sistem informasi kapasitas rumah sakit tidak berfungsi. Banyak warga yang memerlukan penanganan kedaruratan kesehatan akibat terinfeksi Covid-19 tidak mengetahui harus ke mana.
Kondisi ini, lanjut Tri, diperparah dengan permasalahan sistem kesehatan yang belum kunjung diatasi, di antaranya keterbatasan kapasitas tempat tidur, minimnya perlindungan tenaga kesehatan dan tidak tersedianya sistem informasi kesehatan yang diperbarui secara real-time.
“Di sisi lain, pekerjaan rumah Menteri Kesehatan untuk memberikan perlindungan kepada tenaga kesehatan belum kunjung terlihat nyata. Hingga saat ini setidaknya 620 tenaga kesehatan meninggal akibat terpapar Covid-19,” katanya.
Dia mengingatkan, jika tidak segera diatasi, menurut Tri, akan semakin banyak warga yang meninggal hanya karena otoritas abai dalam memberikan hak atas layanan dan perawatan kesehatan.
Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono mengakui tingginya tingkat keterisian rumah sakit rujukan Covid-19, yakni mencapai 65,93% secara nasional 65,93%. Bahkan, 10 provinsi tingkat keterisiannya melebihi standar dari WHO.
“Hampir sebagian, ada kira-kira 10 provinsi yang mempunyai keterpakaian tempat tidur untuk Covid-19 ini di atas 60% dan 60% itu merupakan cut of point yang ditetapkan WHO untuk menjaga supaya lonjakan itu bisa teradaptasi ke rumah sakit,” ungkap Dante, dalam Webinar ‘Peran Stakeholder dalam Mendukung RS Menghadapi Lonjakan Kasus Covid-19’, kemarin.
Dia juga mengakui bed occupancy ratio (BOR) dari beberapa rumah sakit semakin tinggi. Dia melihat perlu dilakukan percepatan peningkatan BOR-nya. “Misalnya DKI Jakarta sampai saat ini 83%, Banten 79%, DI Yogyakarta 73%, dan seterusnya. Ini harus kita cermati bahwa penyediaan tempat tidur itu merupakan salah satu strategi yang harus kita pecahkan,” ungkap Dante.
Sementara itu, Koordinator RS Darurat Covid-19 Mayjen TNI dr Tugas Ratmono mengungkapkan tingkat hunian di rumah sakit darurat Covid-19 Wisma Atlet saat ini sebesar 82,73%.
(Baca juga: Kemenkes: Tingkat Keterisian RS Rujukan Covid-19 Capai 65,93% )
Diungkapkannya, jumlah pasien Covid-19 yang dirawat saat ini sebanyak 4.959 pasien sehingga total tempat tidur yang tersisa di Wisma Atlet sebanyak 1.035 bed dari 5.994 bed yang disediakan. “Jadi, pasien kami saat ini adalah 4.959 pasien. Dari bed yang kita siapkan 5.994 jadi tinggal 1.035 bed yang ada dan huniannya 82,73%,” kata Tugas, dalam Update RSDC Wisma Atlet: Kesiapan Pasca-Libur Natal dan Tahun Baru secara virtual dari BNPB, Jakarta, kemarin.
Tugas menyebut pihaknya telah mengantisipasi lonjakan kasus akibat libur Natal dan Tahun Baru. Pascamomen tersebut terjadi lonjakan keterisian tempat tidur di Wisma Atlet sebesar 20%. Sebelum liburan sebesar 50-60% dan setelah liburan mencapai lebih 80% atau tepatnya 82,73%. “Jadi, waktu itu kira-kira sebelum liburan tingkat hunian 50%-60%, saat ini jadi 80%. Jadi, kira-kira 20%-lah melonjak di situ.”
Kondisi ini, lanjut Tri, diperparah dengan permasalahan sistem kesehatan yang belum kunjung diatasi, di antaranya keterbatasan kapasitas tempat tidur, minimnya perlindungan tenaga kesehatan dan tidak tersedianya sistem informasi kesehatan yang diperbarui secara real-time.
“Di sisi lain, pekerjaan rumah Menteri Kesehatan untuk memberikan perlindungan kepada tenaga kesehatan belum kunjung terlihat nyata. Hingga saat ini setidaknya 620 tenaga kesehatan meninggal akibat terpapar Covid-19,” katanya.
Dia mengingatkan, jika tidak segera diatasi, menurut Tri, akan semakin banyak warga yang meninggal hanya karena otoritas abai dalam memberikan hak atas layanan dan perawatan kesehatan.
Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono mengakui tingginya tingkat keterisian rumah sakit rujukan Covid-19, yakni mencapai 65,93% secara nasional 65,93%. Bahkan, 10 provinsi tingkat keterisiannya melebihi standar dari WHO.
“Hampir sebagian, ada kira-kira 10 provinsi yang mempunyai keterpakaian tempat tidur untuk Covid-19 ini di atas 60% dan 60% itu merupakan cut of point yang ditetapkan WHO untuk menjaga supaya lonjakan itu bisa teradaptasi ke rumah sakit,” ungkap Dante, dalam Webinar ‘Peran Stakeholder dalam Mendukung RS Menghadapi Lonjakan Kasus Covid-19’, kemarin.
Dia juga mengakui bed occupancy ratio (BOR) dari beberapa rumah sakit semakin tinggi. Dia melihat perlu dilakukan percepatan peningkatan BOR-nya. “Misalnya DKI Jakarta sampai saat ini 83%, Banten 79%, DI Yogyakarta 73%, dan seterusnya. Ini harus kita cermati bahwa penyediaan tempat tidur itu merupakan salah satu strategi yang harus kita pecahkan,” ungkap Dante.
Sementara itu, Koordinator RS Darurat Covid-19 Mayjen TNI dr Tugas Ratmono mengungkapkan tingkat hunian di rumah sakit darurat Covid-19 Wisma Atlet saat ini sebesar 82,73%.
(Baca juga: Kemenkes: Tingkat Keterisian RS Rujukan Covid-19 Capai 65,93% )
Diungkapkannya, jumlah pasien Covid-19 yang dirawat saat ini sebanyak 4.959 pasien sehingga total tempat tidur yang tersisa di Wisma Atlet sebanyak 1.035 bed dari 5.994 bed yang disediakan. “Jadi, pasien kami saat ini adalah 4.959 pasien. Dari bed yang kita siapkan 5.994 jadi tinggal 1.035 bed yang ada dan huniannya 82,73%,” kata Tugas, dalam Update RSDC Wisma Atlet: Kesiapan Pasca-Libur Natal dan Tahun Baru secara virtual dari BNPB, Jakarta, kemarin.
Tugas menyebut pihaknya telah mengantisipasi lonjakan kasus akibat libur Natal dan Tahun Baru. Pascamomen tersebut terjadi lonjakan keterisian tempat tidur di Wisma Atlet sebesar 20%. Sebelum liburan sebesar 50-60% dan setelah liburan mencapai lebih 80% atau tepatnya 82,73%. “Jadi, waktu itu kira-kira sebelum liburan tingkat hunian 50%-60%, saat ini jadi 80%. Jadi, kira-kira 20%-lah melonjak di situ.”
Lihat Juga :