Kelayakan Terbang Pesawat Sriwijaya SJ-182 Dipertanyakan, Ini Kata Mantan Menhub

loading...
Kelayakan Terbang Pesawat Sriwijaya SJ-182 Dipertanyakan, Ini Kata Mantan Menhub
Jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 rute Jakarta-Pontianak menimbulkan pertanyaan mengenai pola pengawasan terhadap maskapai dan kelayakan terbang pesawat. Foto/Ilustrasi/SINDOnews
JAKARTA - Jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 rute Jakarta-Pontianak menimbulkan pertanyaan mengenai pola pengawasan terhadap maskapai dan kelayakan terbang pesawat. Selain itu, usia pesawat yang telah uzur membuat publik khawatir.

Pengamat Penerbangan, Ziva Narendra Arifin mengatakan selama program perawatan dilakukan rutin, penggantian suku cadang, dan operator mematuhi guideline dengan baik, semestinya isu mengenai keandalan pesawat tidak dipertanyakan. Baca juga: Jasa Raharja Cairkan Lagi Santunan untuk Keluarga Korban Pesawat Sriwijaya Air

Sementara, mantan Menteri Perhubungan (Menhub), Budi Mulyawan Suyitno mengatakan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Udara (Ditjen Hubud Kemenhub) melakukan pemeriksaan secara reguler setiap tahun terhadap pesawat-pesawat yang beroperasi di Indonesia.

“Kalau memenuhi syarat, sertifikat airworthiness (kelayakan terbang) tetap diperpanjang. Misalnya, ada overhaul atau reparasi harus disahkan Dirjen Hubud. Lalu, kalau ada perubahan-perubahan dan modifikasi harus disahkan (juga),” ujarnya saat dihubungi SINDOnews, Rabu (13/1/2021).



Budi menerangkan Ditjen Hubud juga melakukan pemeriksaan dadakan terhadap kondisi pesawat. “Supaya (melihat) langsung di bandara, tempat parkir, atau ketika pesawat baru landing. Itu kondisi nyata (pesawat) akan kelihatan,” tuturnya.

Dia menjelaskan pemeriksaan itu berbasis pada log book perawatan dan operasional. Log perawatan diisi oleh mekanik dan log book operasional itu diisi oleh pilot. Budi mengungkapkan khusus pesawat tua ada tambahan pengawasan, yakni terkait integrasi struktur.

Struktur pesawat itu, menurutnya, harus dijaga agar tidak mengalami kelelahan metal. Kemudian, ada juga program untuk menangani korosi, yakni corrosion prevention control programme (CPCP). Baca juga: Gelombang Tinggi, Basarnas Hentikan Sementara Pencarian Korban Sriwijaya Air



“Pesawat-pesawat tua itu sebenarnya banyak mengandung kerusakan-kerusakan yang tersembunyi. Jadi kalau (ada) yang mengatakan asal dirawat enggak apa-apa. Iya, tapi perawat pun enggak tahu kerusakan sebenarnya dimana. Makanya, makin banyak yang tersembunyi,” tutupnya.
(kri)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top