Insiden SJ-182 dan Penghormatan Nyawa Manusia
Selasa, 12 Januari 2021 - 05:05 WIB
loading...
Penyebab tragedi jatuhnya pesawat Sriwijaya Air nomor penerbangan SJ-182, Sabtu (9/1) perlu diselidiki hingga tuntas. (Ilustrasi: SINDONews/Tyud)
A
A
A
SEBANYAK 62 nyawa telah melayang menjadi korban insiden jatuhnya pesawat Sriwijaya Air nomor penerbangan SJ-182, Sabtu (9/1). Tak hanya keluarga dan kerabat, hari-hari ini kita semua berduka. Insiden tragis di perairan Kepulauan Seribu itu kembali menyadarkan kita semua bahwa kematian tak akan pernah mampu kita duga.
Namun, terlepas dari takdir yang sudah digariskan oleh Tuhan, tentu musibah yang dialami pesawat Sriwijaya itu tak lepas dari sebab-musababnya. Hingga kemarin atau tiga hari setelah kecelakaan, tim evakuasi dan investigasi masih terus bekerja. Mereka mengumpulkan jasad korban sekaligus data-data untuk menyibak apa penyebab sebenarnya musibah itu.
Terlalu dini memang jika menyimpulkan bahwa insiden tersebut diakibatkan oleh pesawat yang sudah tua atau tidak mendapatkan perawatan semestinya. Terlalu dini pula jika kita menjustifikasi bahwa kecelakaan tersebut dipicu kru yang cukup lama tak terbang lantaran akibat kelesuan bisnis penerbangan kala pandemi Covid-19. Di tengah situasi penuh kedukaan, sudah selayaknya asumsi-asumsi itu diminimalkan sementara. Apalagi, tim Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) juga tengah bekerja sehingga tidak tepat untuk membuat kesimpulan tanpa ada dukungan prosedur investigasi yang kuat.
Toh begitu, sebagai bagian informasi awal, asumsi-asumsi yang juga patut diserap. Sembari menghimpun data di lapangan, tim patut mengonfirmasi asumsi-asumsi yang muncul di publik tersebut ke otoritas terkait. Soal usia pesawat SJ-182 yang tua misalnya karena mencapai 26 tahun, memang menurut hukum yang berlaku di penerbangan tidak berkorelasi dengan faktor kecelakaan. Namun, keyakinan ini pun harus dipahami bukan harga mati. Sejauh mana tingkat perawatan pesawat-pesawat Sriwijaya Air, lebih-lebih di kala pandemi perlu dicek dalam lagi.
Soal kekhawatiran terjadinya pengaratan atau korosi mesin dan katup mesin SJ-182 dari pesawat berjenis Boeing 737-500 itu sebenarnya jauh hari telah diwanti-wanti oleh Federasi Penerbangan Federal (FAA) Amerika Serikat (AS). Lewat circular Emergency Airworthiness Directive (EAD), Boeing menyatakan, korosi sangat mungkin terjadi jika pesawat terparkir dalam tempo yang lama seperti kala pandemi mendera saat ini.
Namun, terlepas dari takdir yang sudah digariskan oleh Tuhan, tentu musibah yang dialami pesawat Sriwijaya itu tak lepas dari sebab-musababnya. Hingga kemarin atau tiga hari setelah kecelakaan, tim evakuasi dan investigasi masih terus bekerja. Mereka mengumpulkan jasad korban sekaligus data-data untuk menyibak apa penyebab sebenarnya musibah itu.
Terlalu dini memang jika menyimpulkan bahwa insiden tersebut diakibatkan oleh pesawat yang sudah tua atau tidak mendapatkan perawatan semestinya. Terlalu dini pula jika kita menjustifikasi bahwa kecelakaan tersebut dipicu kru yang cukup lama tak terbang lantaran akibat kelesuan bisnis penerbangan kala pandemi Covid-19. Di tengah situasi penuh kedukaan, sudah selayaknya asumsi-asumsi itu diminimalkan sementara. Apalagi, tim Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) juga tengah bekerja sehingga tidak tepat untuk membuat kesimpulan tanpa ada dukungan prosedur investigasi yang kuat.
Toh begitu, sebagai bagian informasi awal, asumsi-asumsi yang juga patut diserap. Sembari menghimpun data di lapangan, tim patut mengonfirmasi asumsi-asumsi yang muncul di publik tersebut ke otoritas terkait. Soal usia pesawat SJ-182 yang tua misalnya karena mencapai 26 tahun, memang menurut hukum yang berlaku di penerbangan tidak berkorelasi dengan faktor kecelakaan. Namun, keyakinan ini pun harus dipahami bukan harga mati. Sejauh mana tingkat perawatan pesawat-pesawat Sriwijaya Air, lebih-lebih di kala pandemi perlu dicek dalam lagi.
Soal kekhawatiran terjadinya pengaratan atau korosi mesin dan katup mesin SJ-182 dari pesawat berjenis Boeing 737-500 itu sebenarnya jauh hari telah diwanti-wanti oleh Federasi Penerbangan Federal (FAA) Amerika Serikat (AS). Lewat circular Emergency Airworthiness Directive (EAD), Boeing menyatakan, korosi sangat mungkin terjadi jika pesawat terparkir dalam tempo yang lama seperti kala pandemi mendera saat ini.
Lihat Juga :