Pembatasan Jawa-Bali Disebut Kontraproduktif, Kenapa?
Jum'at, 08 Januari 2021 - 11:26 WIB
loading...
A
A
A
Menurut analisis ekonomi-politik asal UIN Jakarta ini, kebijakan PSBB Jawa-Bali malah akan menekan pasar karena kegiatan produksi terhambat. Baginya, ketika yang diperbolehkan WFO hanya 25%, bagaimana mungkin bisa mendorong pertumbuhan PDB.
"Semisal satu pabrik ada 1000 pekerja, yang boleh bekerja cuma 250 orang, apa mungkin yang 250 ini bisa melakukan kegiatan produksi setara dengan 1000 orang ? Lalu yang menanggung pekerjaan 750 lainnya siapa? Ini dalam sehari," beber dia.
(Baca juga : Abu Bakar Ba'asyir Bebas, Korban Bom Bali Marah )
Lebih lanjut Surya mengatakan, kemudian kebijakan ini dilakukan selama 15 hari dari 11-25 Januari 2021, maka bisa dibayangakan penurunan produksinya. Jika dikalkulasi, ia menilai, pekerjaan produksi 750 orang x 15 hari = 11.250 kegiatan produksi akan hilang karena kebijakan ini.
(Baca: Imbas PSBB Jawa-Bali, Hati-hati Kemiskinan dan Pengangguran Membengkak)
"Semisal satu pabrik ada 1000 pekerja, yang boleh bekerja cuma 250 orang, apa mungkin yang 250 ini bisa melakukan kegiatan produksi setara dengan 1000 orang ? Lalu yang menanggung pekerjaan 750 lainnya siapa? Ini dalam sehari," beber dia.
(Baca juga : Abu Bakar Ba'asyir Bebas, Korban Bom Bali Marah )
Lebih lanjut Surya mengatakan, kemudian kebijakan ini dilakukan selama 15 hari dari 11-25 Januari 2021, maka bisa dibayangakan penurunan produksinya. Jika dikalkulasi, ia menilai, pekerjaan produksi 750 orang x 15 hari = 11.250 kegiatan produksi akan hilang karena kebijakan ini.
(Baca: Imbas PSBB Jawa-Bali, Hati-hati Kemiskinan dan Pengangguran Membengkak)