Konsumsi Makanan Bergizi, Pasien COVID-19 Santap Ikan Ambon Manise
Rabu, 13 Mei 2020 - 23:38 WIB
loading...
A
A
A
Spot syuting dilakukan di pinggir pantai, tak jauh dari lokasi keramba budidaya perikanan “emas biru” yang dikelola masyarakat. William Wongso langsung mengambil ikan kerapu. Dengan ahlinya, ia membuat irisan fillet, lalu dibuat sashimi.
“Kami semua diminta makan ikan mentah dengan mencocol di kecap asin, jeruk nipis, dan campuran dressing yang harum baunya,” kata Doni Monardo seraya menambahkan, “karena yang ditawari hanya saling pandang, maka pak William Wongso langsung bilang, ‘ini ikan sangat bersih. Saya tahu, ini ikan bersih dari pencemaran. Dari dagingnya saya tahu.”
Doni Monardo, penggagas emas biru itu, gesit mengunyah sashimi ikan kerapu, hasil budidaya emas biru nelayan Ambon. “Benar, itu kali pertama saya makan ikan mentah hasil budidaya yang saya rintis sendiri. Rasanya memang luar biasa. Enak sekali,” kata Doni. (Baca juga: Peneliti UGM Kembangkan Alat Sterilisasi Masker N95 )
Kenikmatan rasa daging ikan laut Ambon, sudah sering berdansa di lidah Doni Monardo. Hanya saja, sebelum-sebelumnya, selalu bercampur dengan rasa dan aroma rempah yang ada dalam bumbu.
“Sebab, sebelumnya selalu dimasak, atau paling tidak dibakar. Tapi untuk dimakan mentah, terus terang baru pertama kali, apalagi yang mengiriskan langsung dari tangan pak William Wongso,” papar Doni pula.
Seperti ada kebutuhan khusus seorang Doni Monardo untuk berkampanye makan ikan. Katanya, di saat penyakit sedang melanda, masyarakat butuh imunitas. Tidak boleh panik. Makan harus teratur, olahraga juga harus teratur.
Ikan adalah salah satu jenis makanan bergizi. Makanya spontan saya tawarkan ke pengelola RS Darurat Covid-19 Wisma Atlet Kemayoran. Mereka antusias sekali.
Hal yang sama ternyata sudah pernah dilakukan Doni Monardo di Natuna, awal Februari 2020. Saat itu, bersama Menko PMK dan Menkes mengkoordinasi pemulangna lebih dari 200 WNI dari Hubei, Wuhan – China. Sebelum dikembalikan ke keluarga, mereka dikarantina di pangkalan Kogabwilhan 1 yang ada di Natuna.
Selama 14 hari masa karantina, hampir tiada hari tanpa makan ikan. “Asal tahu saja ya... bagi yang jarang makan ikan, mungkin tidak bisa membedakan rasa ikan. Tetapi bagi yang biasa makan ikan, akan dengan mudah bisa membedakan cita rasa ikan. Ikan kerapu, beda rasanya dengan ikan tongkol, tuna, bandeng, dan lain-lain. Jadi, meski tiap hari makan ikan, tidak akan ada rasa bosan,” papar Doni, fasih.
Untuk memenuhi kebutuhan ikan bagi 200 lebih WNI yang ada di karantina, pihaknya membeli ikan dari para nelayan Natuna. Ikan-ikan di Natuna juga terbilang masih sangat segar. “Makanya, setelah usai karantina, hasilnya semua sehat, dan bisa kembali ke tengah keluarga dengan aman dan nyaman,” pungkas Doni Monardo.
Begitulah, ikan dimakan, ekonomi nelayan tetap berdenyut.
“Kami semua diminta makan ikan mentah dengan mencocol di kecap asin, jeruk nipis, dan campuran dressing yang harum baunya,” kata Doni Monardo seraya menambahkan, “karena yang ditawari hanya saling pandang, maka pak William Wongso langsung bilang, ‘ini ikan sangat bersih. Saya tahu, ini ikan bersih dari pencemaran. Dari dagingnya saya tahu.”
Doni Monardo, penggagas emas biru itu, gesit mengunyah sashimi ikan kerapu, hasil budidaya emas biru nelayan Ambon. “Benar, itu kali pertama saya makan ikan mentah hasil budidaya yang saya rintis sendiri. Rasanya memang luar biasa. Enak sekali,” kata Doni. (Baca juga: Peneliti UGM Kembangkan Alat Sterilisasi Masker N95 )
Kenikmatan rasa daging ikan laut Ambon, sudah sering berdansa di lidah Doni Monardo. Hanya saja, sebelum-sebelumnya, selalu bercampur dengan rasa dan aroma rempah yang ada dalam bumbu.
“Sebab, sebelumnya selalu dimasak, atau paling tidak dibakar. Tapi untuk dimakan mentah, terus terang baru pertama kali, apalagi yang mengiriskan langsung dari tangan pak William Wongso,” papar Doni pula.
Seperti ada kebutuhan khusus seorang Doni Monardo untuk berkampanye makan ikan. Katanya, di saat penyakit sedang melanda, masyarakat butuh imunitas. Tidak boleh panik. Makan harus teratur, olahraga juga harus teratur.
Ikan adalah salah satu jenis makanan bergizi. Makanya spontan saya tawarkan ke pengelola RS Darurat Covid-19 Wisma Atlet Kemayoran. Mereka antusias sekali.
Hal yang sama ternyata sudah pernah dilakukan Doni Monardo di Natuna, awal Februari 2020. Saat itu, bersama Menko PMK dan Menkes mengkoordinasi pemulangna lebih dari 200 WNI dari Hubei, Wuhan – China. Sebelum dikembalikan ke keluarga, mereka dikarantina di pangkalan Kogabwilhan 1 yang ada di Natuna.
Selama 14 hari masa karantina, hampir tiada hari tanpa makan ikan. “Asal tahu saja ya... bagi yang jarang makan ikan, mungkin tidak bisa membedakan rasa ikan. Tetapi bagi yang biasa makan ikan, akan dengan mudah bisa membedakan cita rasa ikan. Ikan kerapu, beda rasanya dengan ikan tongkol, tuna, bandeng, dan lain-lain. Jadi, meski tiap hari makan ikan, tidak akan ada rasa bosan,” papar Doni, fasih.
Untuk memenuhi kebutuhan ikan bagi 200 lebih WNI yang ada di karantina, pihaknya membeli ikan dari para nelayan Natuna. Ikan-ikan di Natuna juga terbilang masih sangat segar. “Makanya, setelah usai karantina, hasilnya semua sehat, dan bisa kembali ke tengah keluarga dengan aman dan nyaman,” pungkas Doni Monardo.
Begitulah, ikan dimakan, ekonomi nelayan tetap berdenyut.
(mpw)
Lihat Juga :