Obituari KH Noer Muhammad Iskandar, Pendiri Pondok Pesantren Asshiddiqiyah
Minggu, 13 Desember 2020 - 16:25 WIB
loading...
A
A
A
Di Pondok Pesantren Lirboyo, beliau pernah memimpin ikatan santri Banyuwangi. Pada 1974, beliau lulus dari Pondok Pesantren Lirboyo kemudian melanjutkan kuliah di PTIQ (Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an) Jakarta.
Kiai Noer merupakan sosok ulama yang sukses membangun tradisi keilmuan pesantren di jantung Ibu Kota Jakarta. Upaya membangun pesantren di Ibu Kota bukan tanpa perjuangan.
Perjalanan dan perjuangan panjang pun harus dilalui dengan berbagai tantangan yang berat. Namun berkat dukungan dan dorongan yang begitu kuat dari Kyai Mahrus Ali, Pimpinan Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Kiai Noer Muhammad Iskandar, SQ pun berhasil.
“Ia banyak membuka wawasan dan cakrawala berpikir saya akan pentingnya pendidikan bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia,” kata Kiai Noer tentang Kiai Mahrus Ali. (Baca juga: Rektor Unpad ke-7 Yuyun Wirasasmita Meninggal Dunia di Usia 89 Tahun)
Bukan hanya itu, dalam upaya membuka cakrawala berpikir dan memahami Alquran, umumnya metode yang diterapkan di pesantren-pesantren berkembang dengan pendekatan dogmatis. Akibatnya, pemahaman Alquran sebagai way of life seringkali menjadi terbatas dipahaminya, yaitu hanya menyentuh aspek ubudiyah.
Kiai Noer merupakan sosok ulama yang sukses membangun tradisi keilmuan pesantren di jantung Ibu Kota Jakarta. Upaya membangun pesantren di Ibu Kota bukan tanpa perjuangan.
Perjalanan dan perjuangan panjang pun harus dilalui dengan berbagai tantangan yang berat. Namun berkat dukungan dan dorongan yang begitu kuat dari Kyai Mahrus Ali, Pimpinan Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Kiai Noer Muhammad Iskandar, SQ pun berhasil.
“Ia banyak membuka wawasan dan cakrawala berpikir saya akan pentingnya pendidikan bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia,” kata Kiai Noer tentang Kiai Mahrus Ali. (Baca juga: Rektor Unpad ke-7 Yuyun Wirasasmita Meninggal Dunia di Usia 89 Tahun)
Bukan hanya itu, dalam upaya membuka cakrawala berpikir dan memahami Alquran, umumnya metode yang diterapkan di pesantren-pesantren berkembang dengan pendekatan dogmatis. Akibatnya, pemahaman Alquran sebagai way of life seringkali menjadi terbatas dipahaminya, yaitu hanya menyentuh aspek ubudiyah.
Lihat Juga :