Jangan Remehkan Milenial, Mereka Bisa Jadi Penentu Pemilu 2024
Sabtu, 05 Desember 2020 - 15:16 WIB
loading...
A
A
A
Kemudian, dia membeberkan bahwa isu-isu baru yang lebih sensitif pada anak-anak muda seperti isu lapangan kerja dan isu lingkungan hidup harus benar-benar digarap partai-partai politik yang mengincar suara pemilih pemula ataupun milenial.
“Karena mereka lah yang nantinya akan memiliki masa depan kan yang punya masa depan adalah anak-anak muda ini, dan partai-partai harus rajin menggarap isu-isu ini menurut saya,” tuturnya.
Sedangkan untuk partai-partai Islam, menurut dia, ada catatan tersendiri. “Bahwa sejak pemilu dilakukan, setelah Orde Baru, perolehan partai Islam itu kan sebenarnya enggak besar-besar amat, sekitar 33-35 persen, enggak pernah sampai 40 persen gitu,” katanya.
Maka itu, menurut dia, partai-partai Islam harus berebut ceruk pemilih milenial tersebut. “Makanya sangat mungkin ketika Gelora sebagai partai baru ingin keluar dari ceruk partai Islam ini dengan tidak membawa embel-embel Islam walaupun sempalan PKS, dan mereka lebih menargetkan anak-anak muda yang tidak harus ikut pengajian, yang enggak harus punya identitas Islam yang kuat, ini mungkin salah satu upaya Gelora untuk keluar dari jebakan ceruk pasar pemilih Partai Islam yang memang enggak berkembang selama ini,’ katanya.
Dia menambahkan, PAN dan PKS juga berbenah. Kata dia, PKS mulai rebranding dengan warna oranye menghilangkan kotak. Lalu, bentuk logo baru PKS, kata dia, lebih sederhana.
“Mudah-mudahan ini mencerminkan rebranding yang lebih inklusif, bisa menerima dan diterima oleh seluruh golongan lapisan masyarakat Indonesia, jadi tidak hanya jualan di ceruk pasar Islam saja. PAN dari dulu bahkan sudah mulai dengan merekrut artis-artis muda dan untuk mendapatkan pasar yang lebih popular, tidak hanya pasar Islam,” tuturnya.
“Karena mereka lah yang nantinya akan memiliki masa depan kan yang punya masa depan adalah anak-anak muda ini, dan partai-partai harus rajin menggarap isu-isu ini menurut saya,” tuturnya.
Sedangkan untuk partai-partai Islam, menurut dia, ada catatan tersendiri. “Bahwa sejak pemilu dilakukan, setelah Orde Baru, perolehan partai Islam itu kan sebenarnya enggak besar-besar amat, sekitar 33-35 persen, enggak pernah sampai 40 persen gitu,” katanya.
Maka itu, menurut dia, partai-partai Islam harus berebut ceruk pemilih milenial tersebut. “Makanya sangat mungkin ketika Gelora sebagai partai baru ingin keluar dari ceruk partai Islam ini dengan tidak membawa embel-embel Islam walaupun sempalan PKS, dan mereka lebih menargetkan anak-anak muda yang tidak harus ikut pengajian, yang enggak harus punya identitas Islam yang kuat, ini mungkin salah satu upaya Gelora untuk keluar dari jebakan ceruk pasar pemilih Partai Islam yang memang enggak berkembang selama ini,’ katanya.
Dia menambahkan, PAN dan PKS juga berbenah. Kata dia, PKS mulai rebranding dengan warna oranye menghilangkan kotak. Lalu, bentuk logo baru PKS, kata dia, lebih sederhana.
“Mudah-mudahan ini mencerminkan rebranding yang lebih inklusif, bisa menerima dan diterima oleh seluruh golongan lapisan masyarakat Indonesia, jadi tidak hanya jualan di ceruk pasar Islam saja. PAN dari dulu bahkan sudah mulai dengan merekrut artis-artis muda dan untuk mendapatkan pasar yang lebih popular, tidak hanya pasar Islam,” tuturnya.
(dam)
Lihat Juga :