Jangan Remehkan Milenial, Mereka Bisa Jadi Penentu Pemilu 2024
Sabtu, 05 Desember 2020 - 15:16 WIB
loading...
A
A
A
(Baca juga : Pengamat: Sulit Membayangkan Ganjar Pranowo Jadi 'Kampret atau Kadrun' di 2024 )
Sementara itu, Direktur Eksekutif Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (KedaiKOPI), Kunto Adi Wibowo menjelaskan generasi milenial adalah mereka yang lahir setelah rezim Orde Baru tumbang.
“Mereka yang lahir setelah tahun 1998 itu tidak tahu soal Orde Baru dan partai politik pun sama sekali baru punya peta baru, berbeda dengan PDIP, Golkar dan PPP yang sampai sekarang diuntungkan dengan pemilih tradisional,’ kata Kunto kepada SINDOnews.
(Baca juga : Khabib Nurmagomedov Kembali Bertarung jika Direstui Sang Ibu )
Sebab, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Partai Golkar dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang mengemuka di era Orde Baru. “Dan tidak ada partai lainnya, tidak ada kompetisi lain, ini yang membuat PDIP, Golkar dan PPP masih dapat vote yang relatif lumayan lah sampai hari ini, PDIP dan Golkar misalnya masih dalam tiga besar, PPP walaupun sudah hancur-hancuran juga enggak terdepak dari parlemen gitu,” ungkapnya.
Menurut dia, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia dan partai-partai lain yang lahir setelah Orde Baru ingin merekrut anak-anak muda untuk fondasi yang kuat bari mereka.
“Pemilih pemula tepatnya, enggak hanya milenial, tapi mungkin yang lebih muda, generasi Z pemilih pemula untuk benar-benar menjadikan mereka sebagai partai pilihan pertamanya, dan diharapkan kalau sosialisasi politik pertama adalah dengan partai itu maka identifikasinya akan lebih langgeng,” tuturnya.
Dia berpendapat, tidak hanya partai baru, partai lama pun berebut meraih anak-anak muda dan pemilih pemula itu. “Jumlah mereka yang besar juga akan menentukan Pemilu berikutnya,” katanya.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (KedaiKOPI), Kunto Adi Wibowo menjelaskan generasi milenial adalah mereka yang lahir setelah rezim Orde Baru tumbang.
“Mereka yang lahir setelah tahun 1998 itu tidak tahu soal Orde Baru dan partai politik pun sama sekali baru punya peta baru, berbeda dengan PDIP, Golkar dan PPP yang sampai sekarang diuntungkan dengan pemilih tradisional,’ kata Kunto kepada SINDOnews.
(Baca juga : Khabib Nurmagomedov Kembali Bertarung jika Direstui Sang Ibu )
Sebab, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Partai Golkar dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang mengemuka di era Orde Baru. “Dan tidak ada partai lainnya, tidak ada kompetisi lain, ini yang membuat PDIP, Golkar dan PPP masih dapat vote yang relatif lumayan lah sampai hari ini, PDIP dan Golkar misalnya masih dalam tiga besar, PPP walaupun sudah hancur-hancuran juga enggak terdepak dari parlemen gitu,” ungkapnya.
Menurut dia, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia dan partai-partai lain yang lahir setelah Orde Baru ingin merekrut anak-anak muda untuk fondasi yang kuat bari mereka.
“Pemilih pemula tepatnya, enggak hanya milenial, tapi mungkin yang lebih muda, generasi Z pemilih pemula untuk benar-benar menjadikan mereka sebagai partai pilihan pertamanya, dan diharapkan kalau sosialisasi politik pertama adalah dengan partai itu maka identifikasinya akan lebih langgeng,” tuturnya.
Dia berpendapat, tidak hanya partai baru, partai lama pun berebut meraih anak-anak muda dan pemilih pemula itu. “Jumlah mereka yang besar juga akan menentukan Pemilu berikutnya,” katanya.
Lihat Juga :