Krisis Pandemi, Pengembangan Big Data Kesehatan Dinilai Penting
Jum'at, 04 Desember 2020 - 19:50 WIB
loading...
A
A
A
Di Indonesia sendiri, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) dan Kementerian BUMN juga menciptakan aplikasi PeduliLindungi untuk membantu menekan penularan Covid-19.
Lewat layanan digital tersebut, masyarakat bisa berpartisipasi saling membagikan data atau lokasi saat bepergian. Sebaran penyakit hingga ke level kelurahan pun dapat diketahui melalui aplikasi tersebut.
Peneliti bidang Sosial The Indonesian Institute (TII) Vunny Wijaya menilai, upaya tersebut sebagai bagian dari pemanfaatan big data di sektor kesehatan.
Namun, mengingat belum semua wilayah Indonesia teraliri internet, masih banyak masyarakat belum dapat memanfaatkan aplikasi ini atau aplikasi sejenis lainnya.
"Pengembangan dan pemanfaatan big data perlu ditunjang sejumlah strategi. Hal ini agar inovasi yang dihasilkan pun dapat dirasakan masyarakat di daerah 3T (Terdepan, Terpencil dan Tertinggal)," kata Vunny dalam penjelasan tertulisnya kepada SINDOnews, Jumat (4/12/2020).
Ia melanjutkan, ada dua prioritas yang perlu diperhatikan pemerintah sebagai yang paling berwenang dalam melakukan perluasan praktik big data. Pertama, soal ketersediaan teknologi, khususnya pemerataan akses internet di Indonesia.
"Sejumlah upaya pemerataan sedang dilakukan Kominfo, Namun, lokasi yang perlu diprioritaskan dan memerlukan percepatan akses internet adalah fasilitas kesehatan yang ada di seluruh Indonesia," ujar dia.
Data Kemenkes hingga 31 Desember 2019 menunjukkan terdapat 2.877 RS dan 10.134 Puskesmas di Indonesia. Dari jumlah tersebut, Badan Layanan Umum Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BLU BAKTI) Kementerian Kominfo mengidentifikasi 3.126 fasilitas pelayanan kesehatan RS dan puskesmas masih membutuhkan optimalisasi layanan internet.
Lewat layanan digital tersebut, masyarakat bisa berpartisipasi saling membagikan data atau lokasi saat bepergian. Sebaran penyakit hingga ke level kelurahan pun dapat diketahui melalui aplikasi tersebut.
Peneliti bidang Sosial The Indonesian Institute (TII) Vunny Wijaya menilai, upaya tersebut sebagai bagian dari pemanfaatan big data di sektor kesehatan.
Namun, mengingat belum semua wilayah Indonesia teraliri internet, masih banyak masyarakat belum dapat memanfaatkan aplikasi ini atau aplikasi sejenis lainnya.
"Pengembangan dan pemanfaatan big data perlu ditunjang sejumlah strategi. Hal ini agar inovasi yang dihasilkan pun dapat dirasakan masyarakat di daerah 3T (Terdepan, Terpencil dan Tertinggal)," kata Vunny dalam penjelasan tertulisnya kepada SINDOnews, Jumat (4/12/2020).
Ia melanjutkan, ada dua prioritas yang perlu diperhatikan pemerintah sebagai yang paling berwenang dalam melakukan perluasan praktik big data. Pertama, soal ketersediaan teknologi, khususnya pemerataan akses internet di Indonesia.
"Sejumlah upaya pemerataan sedang dilakukan Kominfo, Namun, lokasi yang perlu diprioritaskan dan memerlukan percepatan akses internet adalah fasilitas kesehatan yang ada di seluruh Indonesia," ujar dia.
Data Kemenkes hingga 31 Desember 2019 menunjukkan terdapat 2.877 RS dan 10.134 Puskesmas di Indonesia. Dari jumlah tersebut, Badan Layanan Umum Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BLU BAKTI) Kementerian Kominfo mengidentifikasi 3.126 fasilitas pelayanan kesehatan RS dan puskesmas masih membutuhkan optimalisasi layanan internet.
Lihat Juga :