Kalangan Akademisi Diminta Aktif Ikut Waspadai Radikalisme

Rabu, 02 Desember 2020 - 22:01 WIB
loading...
A A A
Dalam catatan sejarah, kata mantan Kapolda Banten dan Papua ini, pelaku bom bunuh diri umumnya para remaja berusia antara 18-23 tahun. Mereka dipakai para "mentor-mentor" mereka yang bertugas untuk membimbing (cuci otak) dan memberikan target tertentu kepada pihak yang dianggap sebagai musuh.

“Siapa yang dianggap sebagai musuh? Mereka-mereka yang dianggap menghambat aktivitas dan niat kelompok radikal intoleran itu mendirikan negara Islam. Mereka anggap NKRI karena dasarnya konstitusi UUD 45 dianggap tidak sejalan dengan misi mereka, jadi aparat pemerintah termasuk menjadi target. Masyarakat ditargetkan untuk menunjukkan bahwa mereka eksis. Kita tahu kekerasan ini sifatnya anti kemanusiaan dan dilakukan dengan cara tidak beradab,” papar Boy.

Boy juga mengingatkan tentang pentingnya peningkatan kualitas kesadaran masyarakat di dunia maya. Faktanya saat ini pengguna internet sudah sekitar 196 juta. Bahkan tua dan muda sekarang ini aktif "berselancar" media sosial (medsos).

“Anak muda kita hari ini sangat mengkhawatirkan karena penyebar luasan paham radikal intoleran itu sangat efektif dilakukan di dunia maya. Jadi kondisi dunia maya kita belum sebaik dunia nyata. Kalau dunia nyata sudah alhamdulillah ketertiban umum sudah mulai terbangun. Kita berharap di dunia maya, jangan sampai semakin banyak penjahat menggunakan dunia maya,” tuturnya.

Karena itu, dalam rangka kontra radikalisasi, mantan Wakil Kepala Lemdiklat Polri ini mengungkapkan, bahwa institusinya juga telah membangun jejaring kerja seperti Pusat Media Damai (PMD) dan duta damai dunia maya untuk membangun literasi masyarakat dan generasi muda dengan menyuarakan perdamaian dan persatuan melalui konten dan narasi damai.

Selain itu ada program bapak dan peempuan agen perdamaian. “Kita membawa program yang membuat kerukunan di media sosial agar masyarakat terutama generasi muda bisa terhindar dari segala potensi hal-hal yang radikal intoleran,” katanya.

Dia menjelaskan, paham radikal intoleran adalah kejahatan ekstra ordinary. Kalau paham ini menyebar, masyarakat dunia akan terbelah. Pasalnya, ada pihak-pihak yang selalu memperjuangkan seolah-olah sedang berjuang atas nama ideologi tertentu, atas nama agama tertentu yang mereka salah gunakan.

“Apa pun kalau membawa simbol-simbol agama itu sangat sensitif. Remaja kita yang belum memahami secara utuh, kemudian ada persoalan dengan keluarga, akan sangat cepat dimanfaatkan kelompok radikal intoleran ini,” jelas Boy Rafli.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Indonesia Kompeten 2045,...
Indonesia Kompeten 2045, Wamenaker Dorong Kampus Perkuat Sertifikasi Kompetensi
Revisi UU Polri: Batas...
Revisi UU Polri: Batas Usia dan Syarat Anggota Kompolnas Diusulkan Lebih Fleksibel
Wakapolri Ungkap Ancaman...
Wakapolri Ungkap Ancaman Kekerasan dan Teror Modern di Era Digital
Densus Ungkap 247 Anak...
Densus Ungkap 247 Anak Terpapar Radikalisme dan Kekerasan Sepanjang 2026
Kekerasan Fisik dan...
Kekerasan Fisik dan Seksual Masih Ada, Menag: Pesantren Harus Jadi Ruang Paling Aman bagi Anak
UPI YAI dan Shinawatra...
UPI YAI dan Shinawatra University Thailand Kerja Sama Tingkatkan Kualitas Pendidikan
UPH dan BINUS Berbagi...
UPH dan BINUS Berbagi Gelar di Campus League 2026 Regional Jakarta, Tatap The Nationals
Forum Gerakan Moral...
Forum Gerakan Moral Pendidikan Kaltim Desak Kampus Bebas dari Politik Praktis
Kombinasi Teknologi...
Kombinasi Teknologi dan Kepekaan Sosial, Kunci Lulusan Perguruan Tinggi Hadapi Era Digital
Rekomendasi
Haji Bolot Sempat Tolak...
Haji Bolot Sempat Tolak Pakai Kursi Roda Meski Alami Sesak Napas Hebat
Midcare Expo 2026 FK...
Midcare Expo 2026 FK Unair, Dorong Mahasiswa Kembangkan Jiwa Kewirausahaan
Aliansi UNJ Melawan...
Aliansi UNJ Melawan Gelar Aksi dan Long March
Berita Terkini
Terima Audiensi DPRD...
Terima Audiensi DPRD Malaka, BNPP Bahas Peluang Pengembangan Kawasan Perdagangan Bebas
KPK Jadwal Ulang Pemeriksaan...
KPK Jadwal Ulang Pemeriksaan Bos Maktour Fuad Hasan Pekan Depan
Mantan Ketua Ombudsman...
Mantan Ketua Ombudsman Terima Rumah hingga Uang Miliaran di Kasus Korupsi Tambang Nikel
World Giving Report...
World Giving Report 2026: Donasi Global Turun, Indonesia Bertahan di Atas Rata-rata Dunia
Bareskrim Tangkap Kartel...
Bareskrim Tangkap Kartel Narkoba Asal Australia sebelum Terbang dengan Jet Pribadi
Dewan Pers dan Konstituen...
Dewan Pers dan Konstituen Matangkan Usulan Pengaturan Karya Jurnalistik dalam RUU Hak Cipta
Infografis
Libur Lebaran 28 Maret-1...
Libur Lebaran 28 Maret-1 April 2025, Waspadai Banjir Rob Jakarta
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved