Masyarakat Perkotaan Semakin Egois
Sabtu, 28 November 2020 - 06:04 WIB
loading...
A
A
A
Dengan demikian kondisi seperti itu memang bukanlah hal yang aneh lagi. Bahkan menurut Tika, jika masyarakat Indonesia memiliki rasa simpati dan empati yang tinggi, hal itu justru aneh dan akan dianggap sebagai aksi heroik. Kenyataan tersebut sangat berbanding terbalik dengan masyarakat negara lain.
Menurutnya, meskipun mereka sangat akrab dengan budaya kebarat-baratan yang bebas, pelajaran menghargai antarsesama manusia hingga binatang sangat kental diajarkan kepada mereka sedari kecil. Berbeda dengan kondisi di Indonesia, para pemangku kepentingan di sini tidak mengajarkan atau mencontohkan rasa menghargai, simpati, dan empati kepada sesama manusia. Bahkan pelajaran budi pekerti di sekolah pun dihapus.
Padahal, memiliki etika baik sangat diperlukan. Tidak cukup dengan pemahaman agama yang dianut seperti dengan sering mengerjakan ibadah dan sebagainya. "Sebenarnya memang tidak ada korelasinya dengan agama. Kalau dalam dirinya etika sudah berkurang, tidak ada lagi rasa simpati dan empati. Yang ada sikap deindividuasi tadi," jelasnya. (Lihat videonya: Lompat dari Motor, Bocah Sembilan Tahun Lolos dari Penculikan)
Meski begitu psikolog yang juga dosen Universitas Muhammadiyah Jakarta itu masih memiliki harapan tinggi bahwa kondisi masyarakat Indonesia kembali seperti zaman dahulu yang penuh dengan rasa kesopanan dan menghargai.
Syaratnya pelajaran etika atau budi pekerti terus diadakan. "Jika dilihat sikap (deindividuasi) banyak terjadi di usia remaja yang memang sedang membutuhkan perhatian dan senang diperhatikan,” tutur Tika. Karenanya sejak usia dini mereka harus diajari sikap menghormati seperti bila di lingkungan sekolah para pelajar mengucapkan salam dan menghormati guru setiap mulai pelajaran atau mereka diberi tugas untuk membantu sesama dan lainnya.
Menghilangkan rasa individualistis dalam diri bisa dimulai dengan bersimpati dan berempati kepada orang lain. Tika pun menyarankan, tidak ada salahnya berbuat baik, menghargai, memahami, dan bertoleransi dengan sesama. (Aprilia S Andyna)
Menurutnya, meskipun mereka sangat akrab dengan budaya kebarat-baratan yang bebas, pelajaran menghargai antarsesama manusia hingga binatang sangat kental diajarkan kepada mereka sedari kecil. Berbeda dengan kondisi di Indonesia, para pemangku kepentingan di sini tidak mengajarkan atau mencontohkan rasa menghargai, simpati, dan empati kepada sesama manusia. Bahkan pelajaran budi pekerti di sekolah pun dihapus.
Padahal, memiliki etika baik sangat diperlukan. Tidak cukup dengan pemahaman agama yang dianut seperti dengan sering mengerjakan ibadah dan sebagainya. "Sebenarnya memang tidak ada korelasinya dengan agama. Kalau dalam dirinya etika sudah berkurang, tidak ada lagi rasa simpati dan empati. Yang ada sikap deindividuasi tadi," jelasnya. (Lihat videonya: Lompat dari Motor, Bocah Sembilan Tahun Lolos dari Penculikan)
Meski begitu psikolog yang juga dosen Universitas Muhammadiyah Jakarta itu masih memiliki harapan tinggi bahwa kondisi masyarakat Indonesia kembali seperti zaman dahulu yang penuh dengan rasa kesopanan dan menghargai.
Syaratnya pelajaran etika atau budi pekerti terus diadakan. "Jika dilihat sikap (deindividuasi) banyak terjadi di usia remaja yang memang sedang membutuhkan perhatian dan senang diperhatikan,” tutur Tika. Karenanya sejak usia dini mereka harus diajari sikap menghormati seperti bila di lingkungan sekolah para pelajar mengucapkan salam dan menghormati guru setiap mulai pelajaran atau mereka diberi tugas untuk membantu sesama dan lainnya.
Menghilangkan rasa individualistis dalam diri bisa dimulai dengan bersimpati dan berempati kepada orang lain. Tika pun menyarankan, tidak ada salahnya berbuat baik, menghargai, memahami, dan bertoleransi dengan sesama. (Aprilia S Andyna)
(ysw)
Lihat Juga :