Gotong Royong dan Kewirausahaan Dinilai Penguat Rakyat di Tengah Pandemi
Rabu, 25 November 2020 - 12:44 WIB
loading...
A
A
A
LJ Slikkerveer mengatakan, dengan tantangan yang kian kompleks pendekatan yang dilakukan untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi tidak bisa hanya mengandalkan mono disiplin. Melainkan multidisiplin dan terintegrasi, khususnya mengintegrasikannya dengan institusi lokal. Sehingga, baik koperasi dan UMKM dapat didukung sesuai dengan keadaannya masing-masing.
Indonesia lanjutnya, memiliki budaya gotong royong yang telah melembaga di masyarakat. Prinsip tersebut harus dioptimalkan untuk menghadapi tantangan yang ada. "Semua harus bersinergi, masyarakatnya, pemerintah, pendekatan yang bottom up dan top down untuk mengembangkan UMKM. Indonesia harus mengoptimalkan konsep gotong royong," ucap Slikkerveer.
Kultur "gotong royong" yang disesuaikan dgn konteks lokal tersebut dapat mengisi kekosongan faktor "enabler" yang akan memperkuat Koperasi dan UMKM di masa pandemic, sebagaimana yg dikemukakan Teten dalam paparannya.
"Budaya itu adaptif, dinamis. Bentuknya akan mengikuti kondisi saat ini, bentuk boleh modern tapi prinsipnya tetap gotong royong," katanya.
Slamet menuturkan pandemi memukul usaha anggotanya. Sekitar 40% mengalami penurunan pendapatan, 30 persen berhenti beroperasi dan 45% meminta relaksasi pembayaran. Namun perlahan, seiring mulai memasukinya periode kenormalan baru, pihaknya mulai melakukan upaya untuk memulihkan para anggotanya.
Diantaranya selain memberikan akses permodalan, juga memotivasi para anggota, memotivasi untuk melakukan bisnis lainnya, serta memperpanjang relaksasi pembayaran bagi anggota tertentu. “Selama pandemi yang dilakukan adalah mencoba meningkatkan kembali pendapatan, mengedukasi untuk menabung dan melakukan pemberdayaan komunitas,” katanya.
Ia pun mencontohkan, pihaknya menerapkan strategi "member support member". Strategi tersebut untuk menjawab solusi akses pasar yang lemah dari UMKM.
“Jadi info tentang barang dari member Komida di Aceh misalnya bisa membantu member di daerah yang lain yg memerlukan barang dari Aceh,” ujarnya.
Indonesia lanjutnya, memiliki budaya gotong royong yang telah melembaga di masyarakat. Prinsip tersebut harus dioptimalkan untuk menghadapi tantangan yang ada. "Semua harus bersinergi, masyarakatnya, pemerintah, pendekatan yang bottom up dan top down untuk mengembangkan UMKM. Indonesia harus mengoptimalkan konsep gotong royong," ucap Slikkerveer.
Kultur "gotong royong" yang disesuaikan dgn konteks lokal tersebut dapat mengisi kekosongan faktor "enabler" yang akan memperkuat Koperasi dan UMKM di masa pandemic, sebagaimana yg dikemukakan Teten dalam paparannya.
"Budaya itu adaptif, dinamis. Bentuknya akan mengikuti kondisi saat ini, bentuk boleh modern tapi prinsipnya tetap gotong royong," katanya.
Slamet menuturkan pandemi memukul usaha anggotanya. Sekitar 40% mengalami penurunan pendapatan, 30 persen berhenti beroperasi dan 45% meminta relaksasi pembayaran. Namun perlahan, seiring mulai memasukinya periode kenormalan baru, pihaknya mulai melakukan upaya untuk memulihkan para anggotanya.
Diantaranya selain memberikan akses permodalan, juga memotivasi para anggota, memotivasi untuk melakukan bisnis lainnya, serta memperpanjang relaksasi pembayaran bagi anggota tertentu. “Selama pandemi yang dilakukan adalah mencoba meningkatkan kembali pendapatan, mengedukasi untuk menabung dan melakukan pemberdayaan komunitas,” katanya.
Ia pun mencontohkan, pihaknya menerapkan strategi "member support member". Strategi tersebut untuk menjawab solusi akses pasar yang lemah dari UMKM.
“Jadi info tentang barang dari member Komida di Aceh misalnya bisa membantu member di daerah yang lain yg memerlukan barang dari Aceh,” ujarnya.
(maf)
Lihat Juga :