Korupsi dan Modifikasi Visual
Rabu, 25 November 2020 - 07:17 WIB
loading...
A
A
A
Ketiga, jilbab yang dipakai perempuan tersangka korupsi sebagai bentuk kamuflase untuk menutupi seluruh dugaan perbuatan korupsi di hadapan publik. "Jadi, untuk melindungi dirinya saja dengan menggunakan atribut-atribut itu, kamuflase saja. Itu bisa saja menjadikan jilbab itu sebagai kamuflase untuk menutupi seluruh tingkah lakunya," ujar Farida. (Baca juga: Mau Beli Vaksin Covid via Online? Begini Caranya...)
Di sisi lain, ada fenomena positif jika melihat hubungan antara perempuan pelaku korupsi dengan jilbab. Contoh tersebut diperoleh dari terpidana mantan anggota DPR Angelina Sondakh alias Angie yang konsisten mengenakan jilbab setelah menjadi terpidana dan menjalani masa pidananya di dalam lembaga pemasyarakatan. Bahkan Angie kemudian menghafal beberapa juz Alquran. "Itu fenomena positifnya, bagus. Kita perlu apresiasi juga. Ketika dia salah, dia sadari, kemudian dia berubah, kan itu yang kita harapkan. Kita harapkan dia bisa jadi contoh yang baik di masyarakat dan tidak mengulangi perbuatannya," ucap Farida.
Ada beberapa upaya konkret pencegahan korupsi yang bisa dilakukan agar perempuan secara umum tidak terjebak dan melakukan korupsi. Pertama, dari perspektif keluarga. Seorang ibu harus menanamkan dan melaksanakan nilai-nilai integritas dari dalam keluarga. Sebagai seorang istri, perempuan jangan menjadi pemicu untuk suami melakukan korupsi apalagi sampai istri ikut menjadi aktor di dalamnya. Kedua, tutur Farida, perempuan yang mendapat amanat berupa jabatan atau peran-peran strategis di mana pun, dan level apa pun, harus berhati-hati ketika melakukan sebuah pekerjaan atau mengambil keputusan, konsisten menerapkan asas kehati-hatian dan melaksanakan manajemen antikorupsi.
Desainer sekaligus Chairman Indonesian Fashion Chamber (IFC) Ali Charisma mengajukan penilaian. Secara umum, jika dilihat para pelaku kriminal memang acap mengubah penampilan di hadapan publik sesaat setelah ditangani penegak hukum. Hal ini, tutur Ali, juga berlaku ketika melihat fenomena sejumlah perempuan yang ditetapkan menjadi tersangka dugaan korupsi, kemudian mengenakan jilbab, padahal sebelumnya tidak pernah. Perubahan penampilan seperti itu sebenarnya sangat manusiawi. (Baca juga: Paus Francis Sebut Muslim Uighur Teraniaya, Ini Respons China)
Di sisi lain, Ali menyayangkan jika perempuan yang ditetapkan tersangka dugaan korupsi kemudian tiba-tiba memakai jilbab, padahal sebelumnya tidak. Menurut dia, pemilihan tampilan seorang perempuan tersangka korupsi seperti itu hanyalah perubahan fashion dan tampilan visual. Dia menduga, penggunaan tersebut sebagai kedok untuk menutupi kesalahan yang pernah dilakukan.
"Nah, mungkin jilbab ini juga salah satu alat untuk menutupi ketidakbaikan mereka supaya tidak diketahui. Jadi, enggak ada hubungannya dengan agama. Mungkin secara visual mereka berjilbab itu kan kedok untuk menutupi perilaku mereka, supaya tidak diketahui orang lain. Untuk jilbab ini kelihatannya kan memang instan, citranya itu supaya kelihatan lebih baik dari sebelumnya," kata Ali kepada KORAN SINDO.
Plt Juru Bicara Bidang Pencegahan KPK Ipi Maryati Kuding menyatakan, pada dasarnya pelaku korupsi tidak mengenal gender. Siapa pun bisa berperilaku korup. Korupsi terjadi bukan disebabkan karena pelakunya adalah laki-laki atau perempuan, tetapi lebih disebabkan adanya penyalahgunaan wewenang dan jabatan demi kepentingan pribadi atau kelompok. (Lihat videonya: Gunung Slamet Dilanda Badai dan Hujan Es)
Selain itu, korupsi juga dikarenakan penegakan hukum yang lemah, rendahnya pendapatan penyelenggara negara, kebiasaan memberi gratifikasi, budaya permisif dan ketiadaan kontrol sosial, serta tidak diterapkannya nilai-nilai agama/etika di masyarakat. (Sabir Laluhu)
Di sisi lain, ada fenomena positif jika melihat hubungan antara perempuan pelaku korupsi dengan jilbab. Contoh tersebut diperoleh dari terpidana mantan anggota DPR Angelina Sondakh alias Angie yang konsisten mengenakan jilbab setelah menjadi terpidana dan menjalani masa pidananya di dalam lembaga pemasyarakatan. Bahkan Angie kemudian menghafal beberapa juz Alquran. "Itu fenomena positifnya, bagus. Kita perlu apresiasi juga. Ketika dia salah, dia sadari, kemudian dia berubah, kan itu yang kita harapkan. Kita harapkan dia bisa jadi contoh yang baik di masyarakat dan tidak mengulangi perbuatannya," ucap Farida.
Ada beberapa upaya konkret pencegahan korupsi yang bisa dilakukan agar perempuan secara umum tidak terjebak dan melakukan korupsi. Pertama, dari perspektif keluarga. Seorang ibu harus menanamkan dan melaksanakan nilai-nilai integritas dari dalam keluarga. Sebagai seorang istri, perempuan jangan menjadi pemicu untuk suami melakukan korupsi apalagi sampai istri ikut menjadi aktor di dalamnya. Kedua, tutur Farida, perempuan yang mendapat amanat berupa jabatan atau peran-peran strategis di mana pun, dan level apa pun, harus berhati-hati ketika melakukan sebuah pekerjaan atau mengambil keputusan, konsisten menerapkan asas kehati-hatian dan melaksanakan manajemen antikorupsi.
Desainer sekaligus Chairman Indonesian Fashion Chamber (IFC) Ali Charisma mengajukan penilaian. Secara umum, jika dilihat para pelaku kriminal memang acap mengubah penampilan di hadapan publik sesaat setelah ditangani penegak hukum. Hal ini, tutur Ali, juga berlaku ketika melihat fenomena sejumlah perempuan yang ditetapkan menjadi tersangka dugaan korupsi, kemudian mengenakan jilbab, padahal sebelumnya tidak pernah. Perubahan penampilan seperti itu sebenarnya sangat manusiawi. (Baca juga: Paus Francis Sebut Muslim Uighur Teraniaya, Ini Respons China)
Di sisi lain, Ali menyayangkan jika perempuan yang ditetapkan tersangka dugaan korupsi kemudian tiba-tiba memakai jilbab, padahal sebelumnya tidak. Menurut dia, pemilihan tampilan seorang perempuan tersangka korupsi seperti itu hanyalah perubahan fashion dan tampilan visual. Dia menduga, penggunaan tersebut sebagai kedok untuk menutupi kesalahan yang pernah dilakukan.
"Nah, mungkin jilbab ini juga salah satu alat untuk menutupi ketidakbaikan mereka supaya tidak diketahui. Jadi, enggak ada hubungannya dengan agama. Mungkin secara visual mereka berjilbab itu kan kedok untuk menutupi perilaku mereka, supaya tidak diketahui orang lain. Untuk jilbab ini kelihatannya kan memang instan, citranya itu supaya kelihatan lebih baik dari sebelumnya," kata Ali kepada KORAN SINDO.
Plt Juru Bicara Bidang Pencegahan KPK Ipi Maryati Kuding menyatakan, pada dasarnya pelaku korupsi tidak mengenal gender. Siapa pun bisa berperilaku korup. Korupsi terjadi bukan disebabkan karena pelakunya adalah laki-laki atau perempuan, tetapi lebih disebabkan adanya penyalahgunaan wewenang dan jabatan demi kepentingan pribadi atau kelompok. (Lihat videonya: Gunung Slamet Dilanda Badai dan Hujan Es)
Selain itu, korupsi juga dikarenakan penegakan hukum yang lemah, rendahnya pendapatan penyelenggara negara, kebiasaan memberi gratifikasi, budaya permisif dan ketiadaan kontrol sosial, serta tidak diterapkannya nilai-nilai agama/etika di masyarakat. (Sabir Laluhu)
(ysw)
Lihat Juga :