Perkuat Sikap Toleransi lewat Pendekatan Sosial Budaya
Jum'at, 20 November 2020 - 10:20 WIB
loading...
Sekolah diharapkan menjadi penanaman sikap toleransi sejak dini yang diharapkan menjadi karakter anak kelak ketika dewasa. Foto/Ilustrasi/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Sekolah diharapkan menjadi penanaman sikap toleransi sejak dini yang diharapkan menjadi karakter anak kelak ketika dewasa.
Wabah intoleransi di sekolah ini harus segera diamputasi agar tidak menjadi virus sejak dini terhadap generasi bangsa ke depan.
Pengamat Pendidikan Nasional, Darmaningtyas mengatakan untuk memulai penanaman toleransi di lingkungan sekolah dengan cara melalui pendekatan sosial, seni dan budaya.
Setiap sekolah, kata dia, harus bisa mengembangkan seni dan budayanya masing-masing, terutama budaya lokal. Hal tersebut sebagai salah satu langkah untuk memutus wabah intoleransi yang ada di lingkungan sekolah.
”Saya lebih memilih pendekatan itu karena biasanya orang yang memahami dan mengerti tentang budaya, itu sikap toleransinya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang tidak mengenal. Kalau pendekatannya itu melalui materi, katakanlah misalnya materi P-4, materi Pancasila, itu saya kira agak sulit untuk bisa diterapkan. Karena itu berarti harus melawan arus dengan narasi yang sudah dibangun oleh ideolognya,” tutur Darmaningtyas di Yogyakarta, Kamis 19 November 2020.
Karena, menurut Alumni Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta itu penanaman toleranis melalui pendekatan sosial, seni dan budaya bisa jauh lebih cair.(Baca juga: Penerapan Protokol Kesehatan Jamaah Umrah Diperketat )
Wabah intoleransi di sekolah ini harus segera diamputasi agar tidak menjadi virus sejak dini terhadap generasi bangsa ke depan.
Pengamat Pendidikan Nasional, Darmaningtyas mengatakan untuk memulai penanaman toleransi di lingkungan sekolah dengan cara melalui pendekatan sosial, seni dan budaya.
Setiap sekolah, kata dia, harus bisa mengembangkan seni dan budayanya masing-masing, terutama budaya lokal. Hal tersebut sebagai salah satu langkah untuk memutus wabah intoleransi yang ada di lingkungan sekolah.
”Saya lebih memilih pendekatan itu karena biasanya orang yang memahami dan mengerti tentang budaya, itu sikap toleransinya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang tidak mengenal. Kalau pendekatannya itu melalui materi, katakanlah misalnya materi P-4, materi Pancasila, itu saya kira agak sulit untuk bisa diterapkan. Karena itu berarti harus melawan arus dengan narasi yang sudah dibangun oleh ideolognya,” tutur Darmaningtyas di Yogyakarta, Kamis 19 November 2020.
Karena, menurut Alumni Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta itu penanaman toleranis melalui pendekatan sosial, seni dan budaya bisa jauh lebih cair.(Baca juga: Penerapan Protokol Kesehatan Jamaah Umrah Diperketat )
Lihat Juga :