Menanti Dampak Perdagangan Bebas ASEAN Plus

Senin, 16 November 2020 - 05:40 WIB
loading...
A A A
Meski India urung bergabung, Pemerintah Indonesia menyatakan bahwa tidak tertutup kemungkinan negara lain turut terlibat dalam perjanjian tersebut. Hal ini disampaikan langsung oleh Presiden Joko Widodo saat penandatanganan perjanjian RCEP di Istana Bogor, Jawa Barat, kemarin.

Hal yang menarik dicermati dari perjanjian perdagangan ini, keterlibatan negara-negara di luar ASEAN seperti China, Jepang, dan Korea Selatan, Australia, dan Selandia Baru. Maklum, sebelumnya mereka pernah menyatakan ikut serta dalam kerja sama perdagangan lintas-Pasifik, yakni Trans-Pacific Partnership (TPP) yang dipelopori AS. Namun, skema itu dibekukan oleh Presiden Donald Trump tiga tahun silam.

Bergabungnya negara-negara di luar ASEAN ini menjadi bukti bagaimana wilayah Asia Tenggara memegang peranan penting dalam percaturan dunia. Maklum, jalur-jalur perdagangan internasional seperti Selat Malaka dan Laut China Selatan ada di wilayah ini. Jalur ini pula yang kemudian menginisiasi China membuat Jalur Sutera baru atau Initiative Belt and Road.

Lalu, sebenarnya apakah kelebihan dari RCEP ini? Tentu saja tujuan utamanya adalah untuk menggairahkan iklim perdagangan antarkawasan sehingga perekonomian bisa sama-sama tumbuh. Namun, secara lebih spesifik dalam perjanjian ini antara lain akan disepakati pembebasan sejumlah tarif impor yang berlaku dalam 20 tahun ke depan.

Tak hanya itu, perjanjian tersebut juga mencakup ketentuan tentang kekayaan intelektual, investasi, telekomunikasi, layanan keuangan, e-commerce, dan layanan profesional lain. Hal yang juga penting dari perjanjian ini adalah keinginan Indonesia untuk masuk di dalam rantai pasok global untuk menopang kebutuhan industri negara-negara mitra perdagangannya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
KJRI Penang: Konektivitas...
KJRI Penang: Konektivitas BNCT Perkuat Rantai Pasok bagi Negara-negara Asean dan Asia
Pesta Elite, Resesi...
Pesta Elite, Resesi Sulit
Dukungan Indonesia dan...
Dukungan Indonesia dan Jalan Panjang Timor Leste Menuju ASEAN
Pembangunan Manusia...
Pembangunan Manusia Fondasi Wujudkan Visi Komunitas ASEAN 2045
Kongres PDIP Tak Kunjung...
Kongres PDIP Tak Kunjung Digelar, Perang Tarif Trump Jadi Salah Satu Alasan
Khofifah Temui Jokowi...
Khofifah Temui Jokowi di Solo, Perang Dagang AS-China Dibahas
AS Ancam Tarif 100%...
AS Ancam Tarif 100% Bagi Pembeli Minyak Rusia, China Meradang dan Siapkan Pembalasan
Lompatan Sang Anak Bawang,...
Lompatan Sang 'Anak Bawang', Rahasia Sukses Vietnam Naik Kelas Jadi Berpendapatan Menengah Atas
Trump Klaim Kesepakatan...
Trump Klaim Kesepakatan Damai AS-Iran Selamatkan Dunia dari Bencana Ekonomi
Rekomendasi
Bittime: Pasar Tokenisasi...
Bittime: Pasar Tokenisasi Aset RI Diramal Sentuh USD88 Miliar di 2030
Nantikan Teaser Poster...
Nantikan Teaser Poster Serial My Chef In Crime, Ada Misteri yang Siap Bikin Penasaran di VISION+
Bawa Semangat Slow Fashion,...
Bawa Semangat Slow Fashion, 7 UMKM Jogja Siap Menembus Pasar Lebih Luas di INACRAFT 2026
Berita Terkini
OTT di Lombok Barat,...
OTT di Lombok Barat, KPK Sita Barang Bukti Rp9,06 Miliar
Kemendagri Kawal Penanganan...
Kemendagri Kawal Penanganan Tuberkulosis dalam RPJMD, RKPD, hingga APBD
Sangkal Isu Reshuffle,...
Sangkal Isu Reshuffle, Mensesneg: Evaluasi Tak Selalu Berujung Pergantian Menteri
Dukungan Publik Jadi...
Dukungan Publik Jadi Kunci Kejagung Tuntaskan Kasus Febrie Adriansyah
Mensesneg Ungkap Anggaran...
Mensesneg Ungkap Anggaran MBG Berpotensi Turun usai Validasi Data
Kejagung Terbitkan Sprindik...
Kejagung Terbitkan Sprindik Baru, Imigrasi Pastikan Pencekalan Febrie Adriansyah Tetap Berlaku
Infografis
Trade Misinvoicing dan...
Trade Misinvoicing dan Upaya Penguatan Integritas Perdagangan Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved