Pemulihan Ekonomi Lambat, DPR Ingatkan Pemerintah Tak Umbar Optimisme
Jum'at, 13 November 2020 - 08:29 WIB
loading...
A
A
A
Menurut legislator asal Sukabumi itu, fakta ini tentu mengagetkan semua pihak dan yang menjadi pertanyaan adalah, apa yang akan diperkirakan itu menjadi kenyataannya atau justru jauh lebih buruk? Daripada banyak bersikap optimismtis, harusnya pemerintah melihat lebih realistis. (Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III Minus, Jokowi Minta Belanja Digeber )
Hergun menduga, penyebab utama lambatnya pemulihan ekonomi Indonesia, karena komponen utama penumpang ekonomi Indonesia yakni konsumsi rumah tangga dan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi cenderung stagnan. Berdasarkan data, dari konsumsi rumah tangga hanya mampu tumbuh dari kuartal II -5,52% menjadi -4,04% pada kuartal III. Sedangkan, investasi hanya naik dari sebelumnya -8,61% menjadi -6,48%.
"Hanya konsumsi pemerintah pusat yang tumbuh positif. Data itu berbanding terbalik dengan realisasi pencairan anggaran Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Untuk kategori perlindungan sosial saja sudah mampu cair 86,5%. Namun, kondisi itu tidak diiringi dengan perbaikan konsumsi rumah tangga," kata Hergun.
"Kenapa tidak juga optimal, kami melihat ada persoalan berkaitan sasaran data kurang akurat hingga jumlah yang tidak memadai dan jenis bantuan yang menggeser pola perilaku konsumsi masyarakat," katanya.
Hergun menduga, penyebab utama lambatnya pemulihan ekonomi Indonesia, karena komponen utama penumpang ekonomi Indonesia yakni konsumsi rumah tangga dan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi cenderung stagnan. Berdasarkan data, dari konsumsi rumah tangga hanya mampu tumbuh dari kuartal II -5,52% menjadi -4,04% pada kuartal III. Sedangkan, investasi hanya naik dari sebelumnya -8,61% menjadi -6,48%.
"Hanya konsumsi pemerintah pusat yang tumbuh positif. Data itu berbanding terbalik dengan realisasi pencairan anggaran Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Untuk kategori perlindungan sosial saja sudah mampu cair 86,5%. Namun, kondisi itu tidak diiringi dengan perbaikan konsumsi rumah tangga," kata Hergun.
"Kenapa tidak juga optimal, kami melihat ada persoalan berkaitan sasaran data kurang akurat hingga jumlah yang tidak memadai dan jenis bantuan yang menggeser pola perilaku konsumsi masyarakat," katanya.
(abd)
Lihat Juga :