Satgas Sebar 8.060 Tracer untuk Temukan Pasien Covid-19
Rabu, 04 November 2020 - 07:05 WIB
loading...
A
A
A
Plt Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes RI Muhammad Budi Hidayat menegaskan pelacakan kontak erat terkonfirmasi positif menjadi komponen penting untuk memutus rantai penularan Covid-19. Karena itu, perlunya upaya penguatan kemampuan dan kompetensi para relawan contact tracer di lapangan dalam penggunaan aplikasi pelacakan terintegrasi, manajemen stigma dan komunikasi risiko, serta pendampingan karantina dan isolasi mandiri.
“Dengan cara ini diharapkan daerah-daerah dapat mendeteksi lebih dari 80% kontak erat dari kasus konfirmasi dalam waktu 72 jam serta melakukan pemantauan terhadap kontak erat hingga 14 hari sejak terpapar atau berkontak dengan individu terkonfirmasi Covid-19,” katanya. (Baca juga: Kenali dan Jangan Remehkan Gejala Long Covid)
Budi mengatakan keberhasilan Pemerintah Indonesia dalam menghadapi pandemi saat ini tidak terlepas dari kolaborasi dan koordinasi baik tingkat pusat maupun daerah. “Kolaborasi ini juga diperlukan dalam pelaksanaan pelacakan kontak erat yang merupakan komponen penting dalam pemutusan rantai penularan Covid-19,” ujarnya.
Namun demikian, kata Budi, dalam implementasi kegiatan pelacakan kontak harus dapat mengikuti pedoman yang berlaku. “Selain itu untuk menyukseskan ini perlu adanya monitoring dan supervisi kegiatan pelacakan kontak harus dari unit terkecil, mulai dari puskesmas kabupaten kota/provinsi dan pusat,” tandasnya.
Selain itu, Budi mengatakan bahwa informasi saat ini di beberapa provinsi kasusnya mengalami trennya mengalami tren yang menurun. “Angka positivity rate juga menurun, angka kesembuhan meningkat, dan kasus konfirmasi juga cenderung sekarang menurut,” tuturnya.
“Tapi, apakah itu betul-betul real dan data sampel yang diperiksa juga menurun? Nah ini apakah memang betul real dari suspek memang menurun sehingga tidak ada yang diambil swab-nya. Kalau itu yang terjadi, Alhamdulillah kondisi ini bisa terkendali atau mengarah yang lebih baik,” sebut Budi. (Baca juga: UU Cipta kerja Resmi Berlaku, KSPI: Kembalinya Rezim Upah Murah)
Namun, lanjut Budi, jika kenyataannya bahwa penurunan kasus karena kurang upaya pelacakan, ini yang harus diwaspadai. “Tetapi, kalau ini kita cek kurang dari upaya pelacakan kontak, ini yang kita khawatirkan. Turunnya ini memang karena kurang aktif melakukan kontak racing ataupun apa? Nah ini yang harus menjadi perhatian kita,” ujarnya.
Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kemenkes RI drg. R Vensya Sitohang juga menegaskan pentingnya ada relawan contact tracer karena masih tingginya jumlah kasus harian terkonfirmasi. Dibutuhkan cara yang lebih efektif dalam melacak dan mengarahkan karantina pada orang yang terduga kontak erat serta mendampingi orang yang terkonfirmasi positif Covid-19 saat menjalani isolasi.
“Dengan cara ini diharapkan daerah-daerah dapat mendeteksi lebih dari 80% kontak erat dari kasus konfirmasi dalam waktu 72 jam serta melakukan pemantauan terhadap kontak erat hingga 14 hari sejak terpapar atau berkontak dengan individu terkonfirmasi Covid-19,” katanya. (Baca juga: Kenali dan Jangan Remehkan Gejala Long Covid)
Budi mengatakan keberhasilan Pemerintah Indonesia dalam menghadapi pandemi saat ini tidak terlepas dari kolaborasi dan koordinasi baik tingkat pusat maupun daerah. “Kolaborasi ini juga diperlukan dalam pelaksanaan pelacakan kontak erat yang merupakan komponen penting dalam pemutusan rantai penularan Covid-19,” ujarnya.
Namun demikian, kata Budi, dalam implementasi kegiatan pelacakan kontak harus dapat mengikuti pedoman yang berlaku. “Selain itu untuk menyukseskan ini perlu adanya monitoring dan supervisi kegiatan pelacakan kontak harus dari unit terkecil, mulai dari puskesmas kabupaten kota/provinsi dan pusat,” tandasnya.
Selain itu, Budi mengatakan bahwa informasi saat ini di beberapa provinsi kasusnya mengalami trennya mengalami tren yang menurun. “Angka positivity rate juga menurun, angka kesembuhan meningkat, dan kasus konfirmasi juga cenderung sekarang menurut,” tuturnya.
“Tapi, apakah itu betul-betul real dan data sampel yang diperiksa juga menurun? Nah ini apakah memang betul real dari suspek memang menurun sehingga tidak ada yang diambil swab-nya. Kalau itu yang terjadi, Alhamdulillah kondisi ini bisa terkendali atau mengarah yang lebih baik,” sebut Budi. (Baca juga: UU Cipta kerja Resmi Berlaku, KSPI: Kembalinya Rezim Upah Murah)
Namun, lanjut Budi, jika kenyataannya bahwa penurunan kasus karena kurang upaya pelacakan, ini yang harus diwaspadai. “Tetapi, kalau ini kita cek kurang dari upaya pelacakan kontak, ini yang kita khawatirkan. Turunnya ini memang karena kurang aktif melakukan kontak racing ataupun apa? Nah ini yang harus menjadi perhatian kita,” ujarnya.
Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kemenkes RI drg. R Vensya Sitohang juga menegaskan pentingnya ada relawan contact tracer karena masih tingginya jumlah kasus harian terkonfirmasi. Dibutuhkan cara yang lebih efektif dalam melacak dan mengarahkan karantina pada orang yang terduga kontak erat serta mendampingi orang yang terkonfirmasi positif Covid-19 saat menjalani isolasi.
Lihat Juga :