Matinya Rasa Percaya
Sabtu, 31 Oktober 2020 - 14:45 WIB
loading...
A
A
A
Don Ihde, 2008 dalam Ironic Technics menyebut keadaan itu, “Sebelum manusia jadi modern sebagai homo sapiens, mereka sibuk menciptakan teknologi. Sebaliknya, teknologi juga menciptakan manusia. Sering manusia menafsir ke arah utopis atau distopia: teknologi membuat hidup jadi lebih baik dan membawa ke alam utopia. Atau sebaliknya teknologi menghukum manusia ke keterasingan diri. Ini bahkan sampai ke tingkat menghancurkan kemanusiaan itu sendiri.
Dimensi ironis dari hubungan manusia dengan teknologi, mengantarkan pada keadaan yang tak terduga. Hingga muncul pertanyaan, bisakah manusia merancang “penggunaan” teknologi? Atau, apakah mereka selalu mengejutkan dengan hal yang tak terduga? Bisakah kita 'menggunakan teknologi' tubuh kita? Menjadi lebih Cyborgean? Dan apakah manusia menjadi 'posthuman'?” Seandainya tingkat ironis itu tak terlampaui akibat relasinya yang terlalu lekat, sesuai uraian Frank dkk tadi, ada satu tahap yang harusnya dihadirkan sebelum menoleransi teknologi.
Ironisnya ini sering diabaikan. Manusia sering tak sadar atas akibat dan perubahan yang dihadirkan teknologi. Manusia sampai pada keadaan yang telah terlalu terlambat untuk berpikir ulang dan mengambil jarak, alih-alih menghentikan pengunaannya.
Keadaan terlalu terlambat mengambil sikap pada teknologi, terjadi tanpa diduga ketika manusia secara mental telah diubah oleh teknologi. Manusia hari ini sulit percaya pada realitas. Mereka mengalami tragedi besar: kematian rasa percaya.
Dalam tulisannya, Strengthening the Foundations of Trust in The Digital Age, Stephanie Hyde dan Blair Sheppard, 2019 menyebutkan, kecepatan perubahan teknologi dan volume informasi yang belum pernah ada sebelumnya -tersedia kapan saja, di mana saja, melalui perangkat teknologi- memunculkan fenomena melemahnya rasa percaya masyarakat, terhadap apa pun dan kapan pun. Kecenderungan ini tumbuh karena jaringan seluler 5G, yang meningkatkan kecepatan dan memperluas jangkauan konektivitas. Informasi berlimpah tak menghadirkan kepastian, justru memproduksi dan mendistribusi ketakpastian.
Paradoks informasi. Menurut Edelman Trust Barometer, yang dikutip dari tulisan di atas, secara global dalam 10 tahun terakhir, kurang dari setengah penduduk dunia yang mempercayai pemerintah, institusi bisnis, bahkan di antara mereka sendiri sebagai sesama masyarakat sipil. Padahal untuk mempertahankan masyarakat yang stabil, sangat penting adanya kepercayaan masyarakat.
Dimensi ironis dari hubungan manusia dengan teknologi, mengantarkan pada keadaan yang tak terduga. Hingga muncul pertanyaan, bisakah manusia merancang “penggunaan” teknologi? Atau, apakah mereka selalu mengejutkan dengan hal yang tak terduga? Bisakah kita 'menggunakan teknologi' tubuh kita? Menjadi lebih Cyborgean? Dan apakah manusia menjadi 'posthuman'?” Seandainya tingkat ironis itu tak terlampaui akibat relasinya yang terlalu lekat, sesuai uraian Frank dkk tadi, ada satu tahap yang harusnya dihadirkan sebelum menoleransi teknologi.
Ironisnya ini sering diabaikan. Manusia sering tak sadar atas akibat dan perubahan yang dihadirkan teknologi. Manusia sampai pada keadaan yang telah terlalu terlambat untuk berpikir ulang dan mengambil jarak, alih-alih menghentikan pengunaannya.
Keadaan terlalu terlambat mengambil sikap pada teknologi, terjadi tanpa diduga ketika manusia secara mental telah diubah oleh teknologi. Manusia hari ini sulit percaya pada realitas. Mereka mengalami tragedi besar: kematian rasa percaya.
Dalam tulisannya, Strengthening the Foundations of Trust in The Digital Age, Stephanie Hyde dan Blair Sheppard, 2019 menyebutkan, kecepatan perubahan teknologi dan volume informasi yang belum pernah ada sebelumnya -tersedia kapan saja, di mana saja, melalui perangkat teknologi- memunculkan fenomena melemahnya rasa percaya masyarakat, terhadap apa pun dan kapan pun. Kecenderungan ini tumbuh karena jaringan seluler 5G, yang meningkatkan kecepatan dan memperluas jangkauan konektivitas. Informasi berlimpah tak menghadirkan kepastian, justru memproduksi dan mendistribusi ketakpastian.
Paradoks informasi. Menurut Edelman Trust Barometer, yang dikutip dari tulisan di atas, secara global dalam 10 tahun terakhir, kurang dari setengah penduduk dunia yang mempercayai pemerintah, institusi bisnis, bahkan di antara mereka sendiri sebagai sesama masyarakat sipil. Padahal untuk mempertahankan masyarakat yang stabil, sangat penting adanya kepercayaan masyarakat.
Lihat Juga :