Tiga Faktor Penentu Partisipasi Pemilih Pilkada di Tengah Pandemi Covid-19
Sabtu, 31 Oktober 2020 - 08:02 WIB
loading...
A
A
A
Kedua, lanjutnya, berhasil atau tidaknya penyelenggara pemilu meyakinkan pemilih bahwa aman untuk mereka datang ke TPS. Ketiga, mengenai informasi. Apakah informasi mengenai bagaimana cara memilih, syarat untuk bisa menggunakan hak pilih, bahkan kapan hari H pemungutan suara dan di mana TPS dia terdaftar sudah berjalan secara maksimal. "Kalau tidak tahu informasi ini, pemilih tentu tidak memilih," kata Nurul.
Di sisi lain, kata Nurul, angka golput juga menjadi ancaman pilkada. Ia melihat kecenderungan golput berbeda-beda. Ada yang apatis, tidak mau tahu dan tidak peduli, ada yang politis, karena dia menilai kandidatnya tak ada yang bagus dan tak ada sesuai dengan keinginan warga, dan mungkin dia kecewa dengan sistem pemilu, maka dia tidak mau memilih.
(Baca juga: Pilkada Serentak 2020, KPU Harus Pastikan Semua Orang yang Punya Hak Pilih Masuk DPT ).
"Lalu, ada juga tidak memilih karena masalah administrasi (tak memiliki data kependudukan) dia mau memilih tetapi tidak bisa karena tidak terekam di dalam data kependudukan, tidak punya e-KTP, atau dia mesti bertugas di daerah lain," pungkas dia.
Di sisi lain, kata Nurul, angka golput juga menjadi ancaman pilkada. Ia melihat kecenderungan golput berbeda-beda. Ada yang apatis, tidak mau tahu dan tidak peduli, ada yang politis, karena dia menilai kandidatnya tak ada yang bagus dan tak ada sesuai dengan keinginan warga, dan mungkin dia kecewa dengan sistem pemilu, maka dia tidak mau memilih.
(Baca juga: Pilkada Serentak 2020, KPU Harus Pastikan Semua Orang yang Punya Hak Pilih Masuk DPT ).
"Lalu, ada juga tidak memilih karena masalah administrasi (tak memiliki data kependudukan) dia mau memilih tetapi tidak bisa karena tidak terekam di dalam data kependudukan, tidak punya e-KTP, atau dia mesti bertugas di daerah lain," pungkas dia.
(zik)
Lihat Juga :