Waspada! Perjalanan Global Berpotensi Kuat Dalam Penyebaran COVID-19
Sabtu, 24 Oktober 2020 - 12:32 WIB
loading...
Penyebaran COVID-19 begitu cepat bergerak dan masif, lantaran pola perjalanan global sangat kuat di banding sepuluh tahun lalu. Foto/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Penyebaran COVID-19 begitu cepat bergerak dan masif, lantaran pola perjalanan global sangat kuat di banding sepuluh tahun lalu. Kepala Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran , dr Dwi Agustian mengatakan virus Corona ini memang unik dan bukan yang pertama kali.
Berdasarkan sejarah, SARS COVID-19 pernah terjadi di Hong Kong tahun 2002-2003 yang lebih mengerikan dengan fatality rate mencapai 20%. Hanya saja, kata Dwi, SARS CoV-2 sangat mudah tertular ditambah pola perjalanan global sangat kuat dibanding sepuluh tahun lalu. Rata-rata perjalanan penerbangan luar biasa berlipat-lipat dan itu menimbulkan kecepatan virus bergerak dari satu orang ke orang lain. (Baca juga: Akhir Pandemi COVID-19 Tidak Bisa Diprediksi, PB IDI: Perlu Penanganan dari Hulu Sampai Hilir)
“Virus ini hanya bisa menimbulkan (sebaran yang sangat cepat) seperti ini di dunia modern pada saat teknologi bisa membuat orang berinteraksi dengan cepat. Dua Puluh tahun lalu virus ini tidak bisa menimbulkan efek biologis secara cepat," papar Dwi yang dikutip dari laman Covid19.go.id, Sabtu (24/10/2020).
Dwi menuturkan virus ini baru dan pengetahuan tentang COVID-19 masih terakumulasi untuk memberikan pemahaman yang pasti. Berdasarkan data statistik untuk pengembangan terakhir dari populasi umum paling tinggi 5%.
Ia mengungkapan di Bandung, Jawa Barat ada populasi yang tak bergejala melakukan testing secara massif dari 100 orang hanya 1 orang yang positif tanpa gejala. Artinya dengan kasus ini kita menunggu cukup waktu untuk mengumpulkan gejala-gejala dan risiko.
Berdasarkan sejarah, SARS COVID-19 pernah terjadi di Hong Kong tahun 2002-2003 yang lebih mengerikan dengan fatality rate mencapai 20%. Hanya saja, kata Dwi, SARS CoV-2 sangat mudah tertular ditambah pola perjalanan global sangat kuat dibanding sepuluh tahun lalu. Rata-rata perjalanan penerbangan luar biasa berlipat-lipat dan itu menimbulkan kecepatan virus bergerak dari satu orang ke orang lain. (Baca juga: Akhir Pandemi COVID-19 Tidak Bisa Diprediksi, PB IDI: Perlu Penanganan dari Hulu Sampai Hilir)
“Virus ini hanya bisa menimbulkan (sebaran yang sangat cepat) seperti ini di dunia modern pada saat teknologi bisa membuat orang berinteraksi dengan cepat. Dua Puluh tahun lalu virus ini tidak bisa menimbulkan efek biologis secara cepat," papar Dwi yang dikutip dari laman Covid19.go.id, Sabtu (24/10/2020).
Dwi menuturkan virus ini baru dan pengetahuan tentang COVID-19 masih terakumulasi untuk memberikan pemahaman yang pasti. Berdasarkan data statistik untuk pengembangan terakhir dari populasi umum paling tinggi 5%.
Ia mengungkapan di Bandung, Jawa Barat ada populasi yang tak bergejala melakukan testing secara massif dari 100 orang hanya 1 orang yang positif tanpa gejala. Artinya dengan kasus ini kita menunggu cukup waktu untuk mengumpulkan gejala-gejala dan risiko.
Lihat Juga :