Target Ganda Vaksinasi Corona: Kekebalan Kelompok dan Pemulihan
Sabtu, 24 Oktober 2020 - 08:37 WIB
loading...
A
A
A
Kini, satu-satunya harapan atau opsi yang tersedia untuk mengendalikan penularan Covid-19 hanya pada vaksin Corona. Dari aspek persiapan ketersediaan vaksin di dalam negeri, progresnya sangat menjanjikan. Demikian prospektifnya sehingga pemerintah melalui Kementerian Kesehatan telah menyusun peta jalan vaksinasi atau imunisasi Covid-19. Rencananya, vaksinasi mulai dilaksanakan pada paruh kedua November 2020 dan berlanjut hingga Maret 2021, dengan target 160 juta penduduk. Namun, berdasarkan perkembangan hingga Jumat (23/10) kemarin, waktu pelaksanaan dimulainya vaksinasi corona bisa saja ditunda.
Bukan karena vaksin-nya belum tersedia, melainkan harus menunggu terbitnya surat otorisasi penggunaan darurat atau emergency use authorization (EUA) yang menjadi wewenang Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). EUA adalah tahap persetujuan penggunaan obat atau vaksin yang belum mendapatkan izin edar keadaan darurat. Ada sejumlah tahap yang harus dilalui sebelum BPOM menerbitkan EUA. Dan, untuk menghindari masalah di kemudian hari, pemerintah memilih menjalani semua tahapan itu.
Seperti diketahui, uji klinik vaksin Corona dari Sinovac dimulai sejak 11 Agustus 2020 dan kini sudah dalam fase III. Hingga Rabu (21/10), dari 1.620 relawan uji klinik fase 3, sekitar 1.074 relawan telah menerima suntikan kedua. Melegakan karena tidak ditemukan efek samping. Sesuai prosedur, akan dilakukan evaluasi setelah uji klinik fase III. Hasil evaluasi menentukan layak atau tidaknya vaksin Covid-19 yang nota bene baru itu bisa diberikan EUA. Dalam evaluasi itu ada analisa tentang manfaat dan risiko serta aspek kualitas. Layak untuk berharap agar semua rangkaian proses itu berjalan lancar sehingga vaksinasi Corona bisa segera direalisasikan.
Kekebalan dan Pemulihan
Setelah memahami kerusakan yang ditimbulkan oleh pandemi Covid-19 sepanjang tujuh bulan terakhir, hasil dari vaksinasi Corona haruslah diupayakan produktif. Semua orang prihatin kepada mereka yang terpapar virus Corona. Namun, tidak sedikit dari mereka yang sehat juga mengalami tekanan psikis akibat penerapan ragam pembatasan sosial. Tak hanya itu, pandemi ini juga menyeret perekonomian nasional ke zona resesi. Maka, mengharapkan vaksinasi Corona berbuah produktif berarti tak sekadar mewujudkan kekebalan kelompok (herd immunity), melainkan juga menjadi awal dari proses pemulihan semua aspek kehidupan bersama, utamanya pemulihan ekonomi.
Karena itulah peta jalan vaksinasi Covid-19 yang dirancang pemerintah sangat layak jika diselaraskan dengan program pemulihan ekonomi. Penentuan skala prioritas dalam melaksanakan vaksinasi hendaknya berpijak pada data. Karena persentase terbesar kasus Covid-19 tercatat di pulau Jawa, vaksinasi di Jawa patut diprioritaskan. Bukan semata-mata karena besaran jumlah kasus, melainkan juga karena faktor keutamaan pulau Jawa sebagai pusat pertumbuhan ekonomi nasional.
Bukan karena vaksin-nya belum tersedia, melainkan harus menunggu terbitnya surat otorisasi penggunaan darurat atau emergency use authorization (EUA) yang menjadi wewenang Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). EUA adalah tahap persetujuan penggunaan obat atau vaksin yang belum mendapatkan izin edar keadaan darurat. Ada sejumlah tahap yang harus dilalui sebelum BPOM menerbitkan EUA. Dan, untuk menghindari masalah di kemudian hari, pemerintah memilih menjalani semua tahapan itu.
Seperti diketahui, uji klinik vaksin Corona dari Sinovac dimulai sejak 11 Agustus 2020 dan kini sudah dalam fase III. Hingga Rabu (21/10), dari 1.620 relawan uji klinik fase 3, sekitar 1.074 relawan telah menerima suntikan kedua. Melegakan karena tidak ditemukan efek samping. Sesuai prosedur, akan dilakukan evaluasi setelah uji klinik fase III. Hasil evaluasi menentukan layak atau tidaknya vaksin Covid-19 yang nota bene baru itu bisa diberikan EUA. Dalam evaluasi itu ada analisa tentang manfaat dan risiko serta aspek kualitas. Layak untuk berharap agar semua rangkaian proses itu berjalan lancar sehingga vaksinasi Corona bisa segera direalisasikan.
Kekebalan dan Pemulihan
Setelah memahami kerusakan yang ditimbulkan oleh pandemi Covid-19 sepanjang tujuh bulan terakhir, hasil dari vaksinasi Corona haruslah diupayakan produktif. Semua orang prihatin kepada mereka yang terpapar virus Corona. Namun, tidak sedikit dari mereka yang sehat juga mengalami tekanan psikis akibat penerapan ragam pembatasan sosial. Tak hanya itu, pandemi ini juga menyeret perekonomian nasional ke zona resesi. Maka, mengharapkan vaksinasi Corona berbuah produktif berarti tak sekadar mewujudkan kekebalan kelompok (herd immunity), melainkan juga menjadi awal dari proses pemulihan semua aspek kehidupan bersama, utamanya pemulihan ekonomi.
Karena itulah peta jalan vaksinasi Covid-19 yang dirancang pemerintah sangat layak jika diselaraskan dengan program pemulihan ekonomi. Penentuan skala prioritas dalam melaksanakan vaksinasi hendaknya berpijak pada data. Karena persentase terbesar kasus Covid-19 tercatat di pulau Jawa, vaksinasi di Jawa patut diprioritaskan. Bukan semata-mata karena besaran jumlah kasus, melainkan juga karena faktor keutamaan pulau Jawa sebagai pusat pertumbuhan ekonomi nasional.
Lihat Juga :