KPI Ungkap Alasan Kenapa Masih Ada Program Televisi yang Buruk
Rabu, 21 Oktober 2020 - 13:30 WIB
loading...
Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) meminta masyarakat menjadi bagian dari Literasi Sejuta Pemirsa untuk penyiaran televisi yang lebih berkualitas. FOTO/DOK.SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) , Hardly Stefano meminta masyarakat menjadi bagian dari Literasi Sejuta Pemirsa untuk penyiaran televisi yang lebih berkualitas. Dengan begitu televisi senantiasa menghadirkan informasi yang benar, hiburan yang sehat, dan bisa memberikan inspirasi positif kepada masyarakat.
Hardly mengatakan, dengan perkembangan teknologi digital saat ini, semua orang sudah bisa membuat konten sebenarnya. "Siapa pun kita bisa membuat konten. Tetapi belum tentu semua bisa membuat konten dengan tingkat profesional sebagaimana yang dibuat oleh tim-tim di televisi maupun teman-teman televisi lainnya," katanya dalam acara Gerakan Literasi Sejuta Pemirsa dengan tema "Berkreasi Melalui Media Penyiaran di Era Digital" secara virtual, Rabu (21/10/2020).
"Di sisi lain tentu kita berharap televisi senantiasa menghadirkan informasi yang benar, hiburan yang sehat, bisa memberikan informasi atau inspirasi positif kepada masyarakat. Itu harapan kita," kata Hardly. (Baca juga: Uji Materi UU Penyiaran, Indonesia Tidak Boleh Dijajah Secara Digital )
Hanya di kondisi seperti ini, kata Hardly, seringkali ada pertanyaan, kenapa masih ada program siaran yang buruk? Kenapa masih ada program siaran yang tidak berfaedah? "Yang ingin saya sampaikan, bahwa tujuan ketika lembaga penyiaran akan membuat program, pertimbangannya adalah seberapa banyak penontonnya. Jadi kalau penonton banyak program siaran itu akan terus diproduksi, akan terus ditayangkan," katanya.
Sebaliknya, kata Hardly, jika penonton program tersebut semakin berkurang, maka sebaik apapun program siaran itu dikemas, sebaik apapun value yang berusaha disampaikan, biasanya tidak diproduksi lagi.
Hardly mengatakan, dengan perkembangan teknologi digital saat ini, semua orang sudah bisa membuat konten sebenarnya. "Siapa pun kita bisa membuat konten. Tetapi belum tentu semua bisa membuat konten dengan tingkat profesional sebagaimana yang dibuat oleh tim-tim di televisi maupun teman-teman televisi lainnya," katanya dalam acara Gerakan Literasi Sejuta Pemirsa dengan tema "Berkreasi Melalui Media Penyiaran di Era Digital" secara virtual, Rabu (21/10/2020).
"Di sisi lain tentu kita berharap televisi senantiasa menghadirkan informasi yang benar, hiburan yang sehat, bisa memberikan informasi atau inspirasi positif kepada masyarakat. Itu harapan kita," kata Hardly. (Baca juga: Uji Materi UU Penyiaran, Indonesia Tidak Boleh Dijajah Secara Digital )
Hanya di kondisi seperti ini, kata Hardly, seringkali ada pertanyaan, kenapa masih ada program siaran yang buruk? Kenapa masih ada program siaran yang tidak berfaedah? "Yang ingin saya sampaikan, bahwa tujuan ketika lembaga penyiaran akan membuat program, pertimbangannya adalah seberapa banyak penontonnya. Jadi kalau penonton banyak program siaran itu akan terus diproduksi, akan terus ditayangkan," katanya.
Sebaliknya, kata Hardly, jika penonton program tersebut semakin berkurang, maka sebaik apapun program siaran itu dikemas, sebaik apapun value yang berusaha disampaikan, biasanya tidak diproduksi lagi.
Lihat Juga :