Belajar Zero COVID-19 dari Kabupaten Sitaro
Kamis, 15 Oktober 2020 - 16:08 WIB
loading...
Bupati Kepulauan Sitaro Evangelian Sasingen. FOTO/CAPTURE/BNPB
A
A
A
JAKARTA - Penegakkan protokol kesehatan dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat, pemuka adat, dan tokoh agama menjadi kunci Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro) dalam menekan COVID-19 . Sejak Maret hingga Mei, Kabupaten yang namanya mengambil dari tiga kepulauan yaitu Siau, Tagulandang, dan Biaro ini menuai prestasi sebagai daerah dengan "Zero COVID-19".
Bupati Kepulauan Sitaro Evangelian Sasingen mengatakan, torehan itu yang membuat Sitaro menjadi salah satu kabupaten yang mendapatkan penghargaan tinggi dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) saat puncak peringatan Pengurangan Risiko Bencana beberapa hari lalu.
Bupati Eva, panggilan akrab Evangelian Sasingen, mengatakan sebelum pemerintah mengumumkan secara resmi COVID-19, dirinya sudah menginformasikan kepada seluruh warga di sana untuk memperketat pengawasan di sepuluh pintu masuk pulau. "Di setiap pintu ada pemeriksaan ketat. Awal-awal kami tidak menggunakan pelindung karena belum ada APD. Kami gunakan jas hujan sebagai pengganti," kata Eva dalam talkshow "Zero Covid-19: Penerima Penghargaan BNPB" di Media Center Satgas Covid-19 Graha BNPB Jakarta, Kamis (15/10/2020). (Baca juga: Update Corona: 349.160 Positif, 273.661 Sembuh, 12.268 Meninggal )
Eva menjelaskan, kasus COVID-19 sempat muncul di akhir Mei dan Juni dari satu klaster pasar. Saat itu, dirinya memutuskan menutup pasar untuk dilakukan sterilisasi. Untuk pasien positif langsung di-tracing sampai satu kelurahan. Begitu hasilnya reaktif mereka langsung ditampung di rumah singgah.
Selain membangun rumah singgah, Bupati Eva menambahkan, pihaknya membentuk tim Gugus Tugas dari tingkat kecamatan, kelurahan, desa, sampai kampung. Tim gugus tugas ini memantau seluruh tamu yang masuk secara ketat dan dipantau sebelum beraktivitas di wilayahnya. "Kami bangun rumah singgah di kabupaten, kecamatan, hingga desa semua ada. Setiap orang masuk harus diisolasi 2 minggu sebelum ke tempat tujuan," katanya.
Sementara itu, tokoh adat Kabupaten Kepulauan Sitaro, Erland Jaya Salindeho mengatakan kerjasama masyarakat, budaya, dan pemerintah daerah sangat maksimal. Hanya tantangan yang dihadapi adalah sumber daya manusia di kampung-kampung terpencil. Namun semua itu teratasi dengan membentuk lembaga adat. (Baca juga: Rekor! Sehari 5.810 Pasien Sembuh dari Covid-19 )
"Tentu kami mendukungnya dalam doa, mendoakan pemerintah sebagaimana juga tercatat dalam Alkitab bahwa di Roma 13 ayat 4, pemerintah adalah hamba Allah. Dan kami memahami sungguh percaya bahwa ketika mereka dipilih ditetapkan Allah, telah meletakkan mereka melakukan tanggung jawab itu. Karena itu pertama-tama mendoakan mereka," ungkap Erland.
Bupati Kepulauan Sitaro Evangelian Sasingen mengatakan, torehan itu yang membuat Sitaro menjadi salah satu kabupaten yang mendapatkan penghargaan tinggi dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) saat puncak peringatan Pengurangan Risiko Bencana beberapa hari lalu.
Bupati Eva, panggilan akrab Evangelian Sasingen, mengatakan sebelum pemerintah mengumumkan secara resmi COVID-19, dirinya sudah menginformasikan kepada seluruh warga di sana untuk memperketat pengawasan di sepuluh pintu masuk pulau. "Di setiap pintu ada pemeriksaan ketat. Awal-awal kami tidak menggunakan pelindung karena belum ada APD. Kami gunakan jas hujan sebagai pengganti," kata Eva dalam talkshow "Zero Covid-19: Penerima Penghargaan BNPB" di Media Center Satgas Covid-19 Graha BNPB Jakarta, Kamis (15/10/2020). (Baca juga: Update Corona: 349.160 Positif, 273.661 Sembuh, 12.268 Meninggal )
Eva menjelaskan, kasus COVID-19 sempat muncul di akhir Mei dan Juni dari satu klaster pasar. Saat itu, dirinya memutuskan menutup pasar untuk dilakukan sterilisasi. Untuk pasien positif langsung di-tracing sampai satu kelurahan. Begitu hasilnya reaktif mereka langsung ditampung di rumah singgah.
Selain membangun rumah singgah, Bupati Eva menambahkan, pihaknya membentuk tim Gugus Tugas dari tingkat kecamatan, kelurahan, desa, sampai kampung. Tim gugus tugas ini memantau seluruh tamu yang masuk secara ketat dan dipantau sebelum beraktivitas di wilayahnya. "Kami bangun rumah singgah di kabupaten, kecamatan, hingga desa semua ada. Setiap orang masuk harus diisolasi 2 minggu sebelum ke tempat tujuan," katanya.
Sementara itu, tokoh adat Kabupaten Kepulauan Sitaro, Erland Jaya Salindeho mengatakan kerjasama masyarakat, budaya, dan pemerintah daerah sangat maksimal. Hanya tantangan yang dihadapi adalah sumber daya manusia di kampung-kampung terpencil. Namun semua itu teratasi dengan membentuk lembaga adat. (Baca juga: Rekor! Sehari 5.810 Pasien Sembuh dari Covid-19 )
"Tentu kami mendukungnya dalam doa, mendoakan pemerintah sebagaimana juga tercatat dalam Alkitab bahwa di Roma 13 ayat 4, pemerintah adalah hamba Allah. Dan kami memahami sungguh percaya bahwa ketika mereka dipilih ditetapkan Allah, telah meletakkan mereka melakukan tanggung jawab itu. Karena itu pertama-tama mendoakan mereka," ungkap Erland.
Lihat Juga :