Kontribusi Pesantren untuk Bangsa
Selasa, 13 Oktober 2020 - 06:04 WIB
loading...
A
A
A
Begitu juga dengan madrasah, sekitar 91,2% dari jumlah seluruh madrasah di Tanah Air pada semua jenjang kependidikan berstatus swasta. Artinya, masyarakat memainkan peran yang penting dalam pengelolaan dan pembiayaan madrasah. Adapun 8,8% madrasah berstatus negeri dari
total madrasah yang mencapai 39.000.
Kondisi madrasah ini berbanding terbalik dengan status sekolah yang dikelola oleh Kementerian Pendidikan Kebudayaan (Kemendikbud) di mana hanya sekitar 6% yang berstatus sebagai lembaga pendidikan swasta (TOR Panja PTAI dan Madrasah Komisi VIII DPR RI).
Kontribusi Pesantren
Sesuai pendapat Wardiman Djojonegoro (1994), pesantren telah membuktikan peranannya sebagai salah satu komponen bangsa dalam usaha menyediakan manusia Indonesia yang dibutuhkan pada era prakemerdekaan. Sejarah pun menunjukkan banyak tokoh bangsa yang lahir dari “perut“ pesantren. (lihat dalam buku Intelektual Pesantren: Potret Tokoh dan Cakrawala Pemikiran di Era Perkembangan Pesantren).
Hal itu membuktikan, pesantren mempunyai kekuatan dan kemampuan untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas, unggul, berpengetahuan luas, berpikiran maju, berwawasan kebangsaan, yang dibingkai dengan keimanan dan ketakwaan, sebagai motivasi utamanya.
Selain menerapkan wajib belajar pendidikan dasar 12 tahun, mulai madrasah ibtidaiah setara SD, madrasah sanawiah setara SMP, dan madrasah aliah setara SMA, banyak pesantren yang juga menyelenggarakan sekolah tinggi, seperti: ISID Pesantren Darussalam Gontor Ponorogo, Jawa Timur; Ma’had Aly Pesantren Al-Munawwir Bantul, Yogyakarta; STAIDA Pesantren Darunnajah, Jakarta; dan masih banyak lagi yang lainnya (buku Direktori Pesantren, Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Kementerian Agama Republik Indonesia, 2007).
Dalam rencana strategis Direktorat Jenderal (Ditjen) Pendidikan Islam Kementerian Agama ditegaskan, fungsi pesantren adalah sebagai lembaga tafaqquh fiddin, lembaga pengembangan sosial kemasyarakatan, dan lembaga pengembangan pendidikan Islam. Karena itu, pesantren diharapkan menjadi lembaga pencetak kader yang faqih fi ulumuddin, juga faqih fi mashalihil ummah.
Kondisi madrasah ini berbanding terbalik dengan status sekolah yang dikelola oleh Kementerian Pendidikan Kebudayaan (Kemendikbud) di mana hanya sekitar 6% yang berstatus sebagai lembaga pendidikan swasta (TOR Panja PTAI dan Madrasah Komisi VIII DPR RI).
Kontribusi Pesantren
Sesuai pendapat Wardiman Djojonegoro (1994), pesantren telah membuktikan peranannya sebagai salah satu komponen bangsa dalam usaha menyediakan manusia Indonesia yang dibutuhkan pada era prakemerdekaan. Sejarah pun menunjukkan banyak tokoh bangsa yang lahir dari “perut“ pesantren. (lihat dalam buku Intelektual Pesantren: Potret Tokoh dan Cakrawala Pemikiran di Era Perkembangan Pesantren).
Hal itu membuktikan, pesantren mempunyai kekuatan dan kemampuan untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas, unggul, berpengetahuan luas, berpikiran maju, berwawasan kebangsaan, yang dibingkai dengan keimanan dan ketakwaan, sebagai motivasi utamanya.
Selain menerapkan wajib belajar pendidikan dasar 12 tahun, mulai madrasah ibtidaiah setara SD, madrasah sanawiah setara SMP, dan madrasah aliah setara SMA, banyak pesantren yang juga menyelenggarakan sekolah tinggi, seperti: ISID Pesantren Darussalam Gontor Ponorogo, Jawa Timur; Ma’had Aly Pesantren Al-Munawwir Bantul, Yogyakarta; STAIDA Pesantren Darunnajah, Jakarta; dan masih banyak lagi yang lainnya (buku Direktori Pesantren, Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Kementerian Agama Republik Indonesia, 2007).
Dalam rencana strategis Direktorat Jenderal (Ditjen) Pendidikan Islam Kementerian Agama ditegaskan, fungsi pesantren adalah sebagai lembaga tafaqquh fiddin, lembaga pengembangan sosial kemasyarakatan, dan lembaga pengembangan pendidikan Islam. Karena itu, pesantren diharapkan menjadi lembaga pencetak kader yang faqih fi ulumuddin, juga faqih fi mashalihil ummah.
Lihat Juga :