Sejarah: Sekadar Kisah atau Pelajaran Berhikmah?
Selasa, 06 Oktober 2020 - 06:38 WIB
loading...
A
A
A
Bahkan, tidak sedikit wacana agar sekolah kembali menggunakan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) 2006 yang berorientasi pada mata pelajaran yang parsial. Proses berkesinambungan itu menunjukkan bahwa kurikulum menjadi sebuah catatan sejarah bagi perjalanan pendidikan bangsa ini. Lantas, perlukah pemangkasan mata pelajaran Sejarah?
Sejarah dan Pembelajaran
Setiap bangsa memiliki sejarah masing-masing, meskipun tidak semua dapat tertulis dalam sebuah catatan sejarah. Dalam sejarah, manusia bisa berperan menjadi pembuat sejarah, dan manusia lainnya menjadi penutur sejarah. Mempelajari sejarah sama halnya dengan mengenal kembali diri sendiri. Karena itu, penting bagi tiap generasi mengenali bangsanya dengan mempelajari sejarah.
Maka menjadi tepat, bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah. Bahkan Bung Karno, sang Proklamator, mengumandangkan agar kita jangan sekali-kali melupakan sejarah.
Sebagai contoh, jauh sebelum Indonesia merdeka, perjuangan mengusir penjajah Belanda sudah dilakukan para pahlawan. Kala itu perjuangan masih bersifat kedaerahan. Perjuangan tidak dilakukan serentak, sehingga Belanda mampu menggunakan politik adu domba untuk memecah belah perjuangan. Kemudian, generasi berikutnya mulai menyadari pentingnya bersatu. Lahirnya Sumpah Pemuda menjadi awal tonggak perjuangan atas nama persatuan.
Namun, sejarah tidak selalu berkaitan dengan perjuangan. Sebagai sebuah catatan, sejarah bicara tidak hanya tentang kebaikan, tapi juga keburukan. Nilai-nilai yang terkandung dalam sejarah pada masa lalu dapat dijadikan pengalaman bagi generasi baru jika menghadapi hal serupa di masa kini atau mendatang.
Apa yang terjadi kini merupakan akibat dari perubahan yang dilakukan oleh pendahulu di masa lalu. Perubahan yang meliputi beragam aspek kehidupan--seperti pendidikan, komunikasi, sosial, politik, ekonomi, budaya--terjadi dalam naungan sejarah. Mengetahui kekurangan di masa lalu, tentu manusia dapat lebih arif mengambil keputusan di masa kini dan nanti.
Di Indonesia, Sejarah dijadikan mata pelajaran wajib. Kemendikbud (2016) menyatakan muatan isi mata pelajaran Sejarah mengembangkan peserta didik agar memiliki kemampuan intelektual dan kecemerlangan akademik, pewaris nilai-nilai kebangsaan, dan memiliki kepedulian terhadap permasalahan kehidupan masyarakat dan bangsa pada masa kini dan masa depan. Dari pernyataan itu, tentu pemerintah memiliki harapan besar pada mata pelajaran Sejarah. Dengan belajar sejarah, siswa dapat mengkaji nilai-nilai kebangsaan untuk mewujudkan kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik.
Sejarah dan Pembelajaran
Setiap bangsa memiliki sejarah masing-masing, meskipun tidak semua dapat tertulis dalam sebuah catatan sejarah. Dalam sejarah, manusia bisa berperan menjadi pembuat sejarah, dan manusia lainnya menjadi penutur sejarah. Mempelajari sejarah sama halnya dengan mengenal kembali diri sendiri. Karena itu, penting bagi tiap generasi mengenali bangsanya dengan mempelajari sejarah.
Maka menjadi tepat, bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah. Bahkan Bung Karno, sang Proklamator, mengumandangkan agar kita jangan sekali-kali melupakan sejarah.
Sebagai contoh, jauh sebelum Indonesia merdeka, perjuangan mengusir penjajah Belanda sudah dilakukan para pahlawan. Kala itu perjuangan masih bersifat kedaerahan. Perjuangan tidak dilakukan serentak, sehingga Belanda mampu menggunakan politik adu domba untuk memecah belah perjuangan. Kemudian, generasi berikutnya mulai menyadari pentingnya bersatu. Lahirnya Sumpah Pemuda menjadi awal tonggak perjuangan atas nama persatuan.
Namun, sejarah tidak selalu berkaitan dengan perjuangan. Sebagai sebuah catatan, sejarah bicara tidak hanya tentang kebaikan, tapi juga keburukan. Nilai-nilai yang terkandung dalam sejarah pada masa lalu dapat dijadikan pengalaman bagi generasi baru jika menghadapi hal serupa di masa kini atau mendatang.
Apa yang terjadi kini merupakan akibat dari perubahan yang dilakukan oleh pendahulu di masa lalu. Perubahan yang meliputi beragam aspek kehidupan--seperti pendidikan, komunikasi, sosial, politik, ekonomi, budaya--terjadi dalam naungan sejarah. Mengetahui kekurangan di masa lalu, tentu manusia dapat lebih arif mengambil keputusan di masa kini dan nanti.
Di Indonesia, Sejarah dijadikan mata pelajaran wajib. Kemendikbud (2016) menyatakan muatan isi mata pelajaran Sejarah mengembangkan peserta didik agar memiliki kemampuan intelektual dan kecemerlangan akademik, pewaris nilai-nilai kebangsaan, dan memiliki kepedulian terhadap permasalahan kehidupan masyarakat dan bangsa pada masa kini dan masa depan. Dari pernyataan itu, tentu pemerintah memiliki harapan besar pada mata pelajaran Sejarah. Dengan belajar sejarah, siswa dapat mengkaji nilai-nilai kebangsaan untuk mewujudkan kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik.
Lihat Juga :