Pemerintah Diimbau Waspada Serangan Siber ke Fasilitas Kesehatan
Rabu, 30 September 2020 - 08:30 WIB
loading...
A
A
A
Angka itu, menurutnya, menempatkan Indonesia menjadi negara terbesar kedua yang diserang Ransomware di ASEAN. "Jika rumah sakit-rumah sakit dan pusat karantina khusus pasien Covid-19 mendapatkan serangan Ransomware, keadaan bisa menjadi lebih tidak kondusif," ujar Sukamta dalam keterangan tertulis yang diterima SINDOnews, Rabu (30/9/2020).
Dia menyebut, virus siber bisa berdampak terhadap pasien. Paling fatal sampai mengancam nyawa. Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu mencontohkan seorang pasien yang meninggal dunia di Jerman setelah Ransomware menyerang rumah sakit tempatnya dirawat.
"Dalam kondisi kritis, pasien tersebut terpaksa dilarikan ke rumah sakit lain yang jaraknya lebih jauh. Namun, nyawanya tidak tertolong," tuturnya.
Anggota DPR dari daerah pemilihan Yogyakarta itu mengungkapkan, Indonesia pernah diserang malware pada tahun 2017. Virus itu menyerang rumah sakit Dharmais dan Harapan Kita. Jadi, tidak menutup kemungkinan akan ada serangan serupa lagi.
Dia meminta Kementerian Komunikasi dan Informatika dan Badan Siber dan Sandi Negara agar lebih sigap dalam mencegah serangan siber. "Bagi perusahaan, bisa juga untuk terus meng-update antivirus dan sering melakukan back up data. Jika terjadi serangan, setidaknya ada data cadangan," pungkasnya.
Dia menyebut, virus siber bisa berdampak terhadap pasien. Paling fatal sampai mengancam nyawa. Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu mencontohkan seorang pasien yang meninggal dunia di Jerman setelah Ransomware menyerang rumah sakit tempatnya dirawat.
"Dalam kondisi kritis, pasien tersebut terpaksa dilarikan ke rumah sakit lain yang jaraknya lebih jauh. Namun, nyawanya tidak tertolong," tuturnya.
Anggota DPR dari daerah pemilihan Yogyakarta itu mengungkapkan, Indonesia pernah diserang malware pada tahun 2017. Virus itu menyerang rumah sakit Dharmais dan Harapan Kita. Jadi, tidak menutup kemungkinan akan ada serangan serupa lagi.
Dia meminta Kementerian Komunikasi dan Informatika dan Badan Siber dan Sandi Negara agar lebih sigap dalam mencegah serangan siber. "Bagi perusahaan, bisa juga untuk terus meng-update antivirus dan sering melakukan back up data. Jika terjadi serangan, setidaknya ada data cadangan," pungkasnya.
(maf)
Lihat Juga :