BIN Gunakan Laboratorium Swab Standar Internasional
Selasa, 29 September 2020 - 07:35 WIB
loading...
A
A
A
"SDM kita adalah lulusan- lulusan Universitas ternama di Indonesia diantaranya ITB, IPB , UI dari S-1 hingga S-3," sambung dia. (Baca juga: Sekolah di Merangin Mulai Belajar Tatap Muka dengan Protokol Ketat)
Tidak hanya itu BIN juga melakukan kerjasama dengan Lembaga institusi lain untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 seperti UNAIR, UGM, Eijkmen dan lain lain.
Sementara itu, Sertifikasi untuk Laboraturium, Wanny Basuki menerangkan BIN mempunyai 4 mobil laboraturium dengan fasilitas BSL2 yang didesain berdasarkan standard WHO dan lab EBDC yang merupakan BSL2 juga tetapi dibuat dengan tekanan negatif. Keempat mobile laboraturium tersebut sudah disertifikasi oleh WBHT dan sertifikasinya berstandar internasional.
Dalam melakukan sertifikasi, WBHT memeriksakan banyak hal, misalnya : interior BSL-2 facility berdasarkan as-built drawing (architectural, interior, MEP, AHU, etc), spesifikasi material yang digunakan, misalnya: dinding, pintu, lantai dan langit-langit, inspeksi dari Biosafety Cabinets (BSC) harus sudah disertifikasi. Inspeksi dari penunjang lainnya, seperti eyewash dan supporting spaces including finishing, safety and maintenance concerns, inspeksi laporan testing and commissioning report, review SOP, user manual, lab safety dan procedure, termasuk biosafety plan and emergency response plan dan waste management plan.
Sebagai tambahan, dari sekian banyak institusi maupun rumah sakit, tidak banyak yang bersertifikat dan salah satunya adalah milik BIN . (Baca juga: Pneumonia Butuh Penanganan Serius)
Mikrobiologi Klinik Fakultas Kedokteran UI, Budiman Bella menjelaskan hasil swab test BIN yang berbeda hasil swab test di tempat lain. Budiman mengungkapkan dalam melakukan uji sampel menggunakan PCR test di BIN, menggunakan ambang batas yang tinggi. Sehingga sensitifitas untuk mengetahui hasil positif atau negatif Covid-19 lebih akurat.
Tidak hanya itu BIN juga melakukan kerjasama dengan Lembaga institusi lain untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 seperti UNAIR, UGM, Eijkmen dan lain lain.
Sementara itu, Sertifikasi untuk Laboraturium, Wanny Basuki menerangkan BIN mempunyai 4 mobil laboraturium dengan fasilitas BSL2 yang didesain berdasarkan standard WHO dan lab EBDC yang merupakan BSL2 juga tetapi dibuat dengan tekanan negatif. Keempat mobile laboraturium tersebut sudah disertifikasi oleh WBHT dan sertifikasinya berstandar internasional.
Dalam melakukan sertifikasi, WBHT memeriksakan banyak hal, misalnya : interior BSL-2 facility berdasarkan as-built drawing (architectural, interior, MEP, AHU, etc), spesifikasi material yang digunakan, misalnya: dinding, pintu, lantai dan langit-langit, inspeksi dari Biosafety Cabinets (BSC) harus sudah disertifikasi. Inspeksi dari penunjang lainnya, seperti eyewash dan supporting spaces including finishing, safety and maintenance concerns, inspeksi laporan testing and commissioning report, review SOP, user manual, lab safety dan procedure, termasuk biosafety plan and emergency response plan dan waste management plan.
Sebagai tambahan, dari sekian banyak institusi maupun rumah sakit, tidak banyak yang bersertifikat dan salah satunya adalah milik BIN . (Baca juga: Pneumonia Butuh Penanganan Serius)
Mikrobiologi Klinik Fakultas Kedokteran UI, Budiman Bella menjelaskan hasil swab test BIN yang berbeda hasil swab test di tempat lain. Budiman mengungkapkan dalam melakukan uji sampel menggunakan PCR test di BIN, menggunakan ambang batas yang tinggi. Sehingga sensitifitas untuk mengetahui hasil positif atau negatif Covid-19 lebih akurat.
Lihat Juga :