Mengandalkan (Kembali) Pariwisata
Senin, 28 September 2020 - 07:38 WIB
loading...
A
A
A
Fakta ini tentu saja bukan kabar baik. Apalagi, pariwisata adalah sektor andalan dalam mendatangkan devisa. Tahun lalu devisa sektor pariwisata dari kunjungan 16 juta turis, bisa menarik pemasukan hingga USD19 miliar lebih. Namun dengan dampak pandemi Covid-19 yang masih terasa, tahun ini sepertinya devisa sektor pariwisata bakal jauh menurun.
Melihat data di atas, tentu saja harapan terbesar kini ada pada wisatawan domestik. Namun, dengan kondisi Covid-19 yang masih belum juga mereda penularannya, tentu saja perlu strategi khusus agar lokasi wisata tidak menjadi klaster baru. Untuk itu, penerapan protokol kesehatan menjadi hal yang tidak bisa ditawar lagi. Ini penting karena kita tentu tidak ingin pariwisata yang digadang-gadangkan menjadi penggerak ekonomi justru termakan euforia dan melupakan cleanliness, health, safety, environment (CHSE) yang ke depan akan menjadi prioritas sektor pariwisata. Dengan menjalankan keempat unsur di atas, tentu saja kita berharap masyarakat yang menggantungkan kehidupannya di sektor ini bisa terus bangkit.
Untuk mendukung sektor pariwisata, Kemenperin Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) bahkan telah menyiapkan anggaran Rp3,8 triliun untuk berbagai program, termasuk sertifikasi CHSE. Dana tersebut juga akan dialokasikan untuk hibah pariwisata, stimulus reaktivasi pariwisata, serta memfasilitas isolasi mandiri pasien Covid di hotel.
Kemenparekraf berharap, dengan sejumlah strategi tersebut, sektor pariwisata dapat kembali produktif. CHSE juga diharapkan dapat mendukung perubahan tren industri wisata yang diperkirakan bakal bergeser ke arah wisata alternatif yang menghindari banyak kerumunan. Misalnya dengan melakukan solo travel, virtual tourism atau staycation.
Upaya-upaya tersebut tentu saja harus diapresiasi. Namun masalahnya, dengan daya beli masyarakat yang turun drastis akibat banyaknya sektor ekonomi yang terganggu, tentu tidak mudah mengajak masyarakat untuk berwisata. Alih-alih untuk pelesir, banyak di antara kita yang memilih menabung dan berhemat untuk mengantisipasi risiko terburuk dari dampak Covid-19 yang bernama resesi.
Melihat data di atas, tentu saja harapan terbesar kini ada pada wisatawan domestik. Namun, dengan kondisi Covid-19 yang masih belum juga mereda penularannya, tentu saja perlu strategi khusus agar lokasi wisata tidak menjadi klaster baru. Untuk itu, penerapan protokol kesehatan menjadi hal yang tidak bisa ditawar lagi. Ini penting karena kita tentu tidak ingin pariwisata yang digadang-gadangkan menjadi penggerak ekonomi justru termakan euforia dan melupakan cleanliness, health, safety, environment (CHSE) yang ke depan akan menjadi prioritas sektor pariwisata. Dengan menjalankan keempat unsur di atas, tentu saja kita berharap masyarakat yang menggantungkan kehidupannya di sektor ini bisa terus bangkit.
Untuk mendukung sektor pariwisata, Kemenperin Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) bahkan telah menyiapkan anggaran Rp3,8 triliun untuk berbagai program, termasuk sertifikasi CHSE. Dana tersebut juga akan dialokasikan untuk hibah pariwisata, stimulus reaktivasi pariwisata, serta memfasilitas isolasi mandiri pasien Covid di hotel.
Kemenparekraf berharap, dengan sejumlah strategi tersebut, sektor pariwisata dapat kembali produktif. CHSE juga diharapkan dapat mendukung perubahan tren industri wisata yang diperkirakan bakal bergeser ke arah wisata alternatif yang menghindari banyak kerumunan. Misalnya dengan melakukan solo travel, virtual tourism atau staycation.
Upaya-upaya tersebut tentu saja harus diapresiasi. Namun masalahnya, dengan daya beli masyarakat yang turun drastis akibat banyaknya sektor ekonomi yang terganggu, tentu tidak mudah mengajak masyarakat untuk berwisata. Alih-alih untuk pelesir, banyak di antara kita yang memilih menabung dan berhemat untuk mengantisipasi risiko terburuk dari dampak Covid-19 yang bernama resesi.
(ras)