Sekolah Nasional Terintegrasi: Investasi Besar yang Harus Dijaga Konsistensinya
Selasa, 28 Juli 2026 - 16:55 WIB
loading...
A
A
A
Tantangan ketiga adalah menjaga sinergi lintas pemangku kepentingan. SNT sejak awal dirancang sebagai pusat pembelajaran bersama yang melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat.
Kolaborasi tersebut tidak boleh berhenti pada saat peresmian sekolah. Justru setelah sekolah mulai beroperasi, kemitraan harus semakin kuat agar murid memperoleh pengalaman belajar yang relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan maupun kebutuhan dunia kerja.
Tantangan berikutnya adalah konsistensi evaluasi. Dalam implementasi kebijakan publik, keberhasilan tidak pernah hanya ditentukan oleh kualitas perencanaan. Pressman dan Wildavsky mengingatkan bahwa semakin panjang rantai implementasi sebuah kebijakan, semakin besar pula kemungkinan terjadinya penyimpangan dari tujuan awal. Karena itu, evaluasi harus dilakukan secara berkala untuk memastikan SNT tetap bergerak sesuai arah yang telah ditetapkan.
Evaluasi tersebut sebaiknya tidak hanya menggunakan indikator administratif, tetapi juga mengukur peningkatan literasi, numerasi, karakter peserta didik, kompetensi guru, kepuasan masyarakat, serta dampak pengimbasan terhadap sekolah-sekolah di sekitarnya.
Penutup
Terlalu sering terjadi pola pikir yang menempatkan seluruh tanggung jawab pendidikan di pundak pemerintah. Padahal sekolah berkualitas hanya dapat tumbuh apabila orang tua, dunia usaha, perguruan tinggi, media, dan komunitas ikut mengambil peran. Pendidikan yang bermutu merupakan hasil kerja kolektif, bukan hasil kerja satu institusi.
Investasi sebesar apa pun hanya akan menghasilkan manfaat apabila dijaga konsistensinya. Pembangunan gedung harus diikuti pembangunan budaya belajar. Pengadaan fasilitas harus dibarengi peningkatan kapasitas guru. Program nasional harus terus dikawal melalui evaluasi yang objektif dan perbaikan yang berkelanjutan.
Keberhasilan SNT pada akhirnya tidak akan dikenang karena jumlah bangunan yang berhasil didirikan. Tetapi apakah SNT mampu mengubah masa depan jutaan anak Indonesia.
Kolaborasi tersebut tidak boleh berhenti pada saat peresmian sekolah. Justru setelah sekolah mulai beroperasi, kemitraan harus semakin kuat agar murid memperoleh pengalaman belajar yang relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan maupun kebutuhan dunia kerja.
Tantangan berikutnya adalah konsistensi evaluasi. Dalam implementasi kebijakan publik, keberhasilan tidak pernah hanya ditentukan oleh kualitas perencanaan. Pressman dan Wildavsky mengingatkan bahwa semakin panjang rantai implementasi sebuah kebijakan, semakin besar pula kemungkinan terjadinya penyimpangan dari tujuan awal. Karena itu, evaluasi harus dilakukan secara berkala untuk memastikan SNT tetap bergerak sesuai arah yang telah ditetapkan.
Evaluasi tersebut sebaiknya tidak hanya menggunakan indikator administratif, tetapi juga mengukur peningkatan literasi, numerasi, karakter peserta didik, kompetensi guru, kepuasan masyarakat, serta dampak pengimbasan terhadap sekolah-sekolah di sekitarnya.
Penutup
Terlalu sering terjadi pola pikir yang menempatkan seluruh tanggung jawab pendidikan di pundak pemerintah. Padahal sekolah berkualitas hanya dapat tumbuh apabila orang tua, dunia usaha, perguruan tinggi, media, dan komunitas ikut mengambil peran. Pendidikan yang bermutu merupakan hasil kerja kolektif, bukan hasil kerja satu institusi.
Investasi sebesar apa pun hanya akan menghasilkan manfaat apabila dijaga konsistensinya. Pembangunan gedung harus diikuti pembangunan budaya belajar. Pengadaan fasilitas harus dibarengi peningkatan kapasitas guru. Program nasional harus terus dikawal melalui evaluasi yang objektif dan perbaikan yang berkelanjutan.
Keberhasilan SNT pada akhirnya tidak akan dikenang karena jumlah bangunan yang berhasil didirikan. Tetapi apakah SNT mampu mengubah masa depan jutaan anak Indonesia.
(poe)