NU dan Arsitektur Peradaban Abad Kedua
Senin, 27 Juli 2026 - 13:18 WIB
loading...
A
A
A
Mungkin karena itulah, saya semakin meyakini bahwa memasuki abad kedua, Nahdlatul Ulama tidak lagi memadai dipahami sekadar sebagai organisasi kemasyarakatan Islam dengan struktur yang besar dan anggota yang sangat banyak. NU telah tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih kompleks daripada itu. Ia adalah sebuah complex society — ekosistem sosial yang hidup, terus belajar, dan senantiasa beradaptasi terhadap perubahan zaman.
Yang menarik, para muassis NU sesungguhnya telah mewariskan kepada kita sebuah filsafat organisasi yang jauh melampaui zamannya. Kaidah yang sangat populer di kalangan Nahdliyin, al-muhafazhah 'ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah, jika dibaca melalui perspektif ilmu sosial kontemporer, sesungguhnya merupakan prinsip adaptive leadership. Tradisi dipelihara bukan untuk membekukan perubahan, tetapi justru menjadi fondasi moral yang memungkinkan organisasi melakukan transformasi tanpa kehilangan identitasnya.
Barangkali di situlah letak kejeniusan para muassis NU. Mereka tidak mewariskan kepada kita sebuah organisasi yang selesai dibangun. Mereka mewariskan sebuah cara berpikir untuk terus membangun organisasi sesuai kebutuhan zaman.
Dalam kerangka perenungan seperti itulah saya mencoba membaca arah pemikiran Gus Hery Haryanto Azumi. Yang menarik dari berbagai gagasan yang ia tawarkan bukanlah semata-mata mengenai transformasi organisasi, melainkan cara pandangnya dalam menempatkan NU sebagai produsen gagasan dan pelaku peradaban.
NU tidak lagi dipandang sekadar sebagai organisasi besar yang mengelola jutaan warga Nahdliyin, tetapi sebagai institusi moral dan intelektual yang memiliki tanggung jawab untuk ikut membentuk percakapan global tentang Islam, kemanusiaan, dan masa depan dunia.
Ada kegelisahan intelektual yang saya tangkap dari cara pandang tersebut. Bahwa kebesaran NU tidak boleh berhenti menjadi kebanggaan sejarah, melainkan harus diterjemahkan menjadi pengaruh moral, pengaruh intelektual, dan pengaruh diplomatik yang memberi manfaat lebih luas bagi umat manusia.
Yang menarik, para muassis NU sesungguhnya telah mewariskan kepada kita sebuah filsafat organisasi yang jauh melampaui zamannya. Kaidah yang sangat populer di kalangan Nahdliyin, al-muhafazhah 'ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah, jika dibaca melalui perspektif ilmu sosial kontemporer, sesungguhnya merupakan prinsip adaptive leadership. Tradisi dipelihara bukan untuk membekukan perubahan, tetapi justru menjadi fondasi moral yang memungkinkan organisasi melakukan transformasi tanpa kehilangan identitasnya.
Barangkali di situlah letak kejeniusan para muassis NU. Mereka tidak mewariskan kepada kita sebuah organisasi yang selesai dibangun. Mereka mewariskan sebuah cara berpikir untuk terus membangun organisasi sesuai kebutuhan zaman.
Dalam kerangka perenungan seperti itulah saya mencoba membaca arah pemikiran Gus Hery Haryanto Azumi. Yang menarik dari berbagai gagasan yang ia tawarkan bukanlah semata-mata mengenai transformasi organisasi, melainkan cara pandangnya dalam menempatkan NU sebagai produsen gagasan dan pelaku peradaban.
NU tidak lagi dipandang sekadar sebagai organisasi besar yang mengelola jutaan warga Nahdliyin, tetapi sebagai institusi moral dan intelektual yang memiliki tanggung jawab untuk ikut membentuk percakapan global tentang Islam, kemanusiaan, dan masa depan dunia.
Ada kegelisahan intelektual yang saya tangkap dari cara pandang tersebut. Bahwa kebesaran NU tidak boleh berhenti menjadi kebanggaan sejarah, melainkan harus diterjemahkan menjadi pengaruh moral, pengaruh intelektual, dan pengaruh diplomatik yang memberi manfaat lebih luas bagi umat manusia.
Lihat Juga :