Mencegah Depresi pada Ekonomi Kita
Rabu, 23 September 2020 - 06:05 WIB
loading...
A
A
A
Krisis kredit tahun 1772 yang terjadi di London, Inggris, bermula dari kredit macet atas bisnis properti yang bermasalah. Perusahaan properti raksasa: Neal, James, Fordyce & Down kabur ke Perancis karena tidak mampu membayar hutang. Informasi ini memicu para kreditor beramai-ramai melakukan penarikan dana tunai di bank-bank Inggris. Krisis menyebar dengan cepat ke negara-negara tetangga lainnya, sehingga akhirnya seluruh dataran Eropa terjadi krisis ekonomi.
Sedangkan Great Depression merupakan bencana keuangan dan ekonomi terburuk pada abad ke-20. Bencana ini bermula dari kejatuhan Wall Street pada tahun 1929 dan kemudian diperburuk oleh keputusan kebijakan yang diambil Pemerintah AS. Masa berlangsung krisis hampir 10 tahun dan mengakibatkan hilangnya pendapatan secara besar-besaran, tingkat pengangguran menyentuh rekor tertinggi, dan produksi terhenti di berbagai kawasan industri. Sehingga tingkat pengangguran di Amerika Serikat mencapai hampir 25% pada puncak krisis di tahun 1933.
Dari gambaran di atas, krisis-krisis sebelumnya hanya terjadi di sebagian belahan bumi. Dan kejadiannya tidak dalam waktu yang sama. Di masa Covid-19 ini, pasar keuangan dan investasi terimbas menyeluruh secara bersama-sama, baik di Asia, Afrika, Australia, Eropa maupun Amerika. Sebagian besar dunia mengisolasi diri. Melakukan lockdown, baik sebagian atau menyeluruh. Hal ini mengakibatkan mobilitas orang, jasa dan barang terganggu. Pergerakan orang di kontrol, sehingga menyebabkan produksi, konsumsi, perdagangan, pariwisata, maupun investasi, tidak berjalan normal. Akhirnya ekonomi global terdisrupsi secara frontal.
Itulah sebabnya, Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan bahwa Dunia harus bersiap untuk kejatuhan ekonomi terburuk. Gita Gopinath, ekonom IMF mengatakan “karantina besar” yang sedang terjadi sekarang ini memperlihatkan “kenyataan gelap” bagi para pengambil keputusan yang menghadapi ketidakpastian yang parah terkait durasi dan intensitas guncangan ekonomi ini. Krisis ini bisa menghabiskan dana USD9 triliun GDP selama dua tahun.
Dari prediksi Gita Gopinath tersebut maka keadaan resesi akan berubah menjadi depresi ekonomi, yakni, sebuah kondisi dimana resesi berlangsung melebihi 18 bulan yang menyebabkan tingkat pengangguran melonjak dengan penurunan PDB (produk domestik bruto) yang tajam sehingga berdampak pada perdagangan global. Sebagai konsekuensinya adalah jumlah kemiskinan yang melonjak. Organisasi buruh internasional (ILO) memperkirakan kemiskinan global tahun ini kembali menyentuh Sembilan digit.
Bagaimana dengan Indonesia?
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal ketiga 2020 berada di kisaran minus 1% - 2%. Pada kuartal kedua 2020 yang sudah dipastikan minus 5.32%, tetapi ada sektor-sektor yang masih mengalami positif yaitu sektor pertanian, informasi dan komunikasi, serta pengadaan air.
Sedangkan Great Depression merupakan bencana keuangan dan ekonomi terburuk pada abad ke-20. Bencana ini bermula dari kejatuhan Wall Street pada tahun 1929 dan kemudian diperburuk oleh keputusan kebijakan yang diambil Pemerintah AS. Masa berlangsung krisis hampir 10 tahun dan mengakibatkan hilangnya pendapatan secara besar-besaran, tingkat pengangguran menyentuh rekor tertinggi, dan produksi terhenti di berbagai kawasan industri. Sehingga tingkat pengangguran di Amerika Serikat mencapai hampir 25% pada puncak krisis di tahun 1933.
Dari gambaran di atas, krisis-krisis sebelumnya hanya terjadi di sebagian belahan bumi. Dan kejadiannya tidak dalam waktu yang sama. Di masa Covid-19 ini, pasar keuangan dan investasi terimbas menyeluruh secara bersama-sama, baik di Asia, Afrika, Australia, Eropa maupun Amerika. Sebagian besar dunia mengisolasi diri. Melakukan lockdown, baik sebagian atau menyeluruh. Hal ini mengakibatkan mobilitas orang, jasa dan barang terganggu. Pergerakan orang di kontrol, sehingga menyebabkan produksi, konsumsi, perdagangan, pariwisata, maupun investasi, tidak berjalan normal. Akhirnya ekonomi global terdisrupsi secara frontal.
Itulah sebabnya, Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan bahwa Dunia harus bersiap untuk kejatuhan ekonomi terburuk. Gita Gopinath, ekonom IMF mengatakan “karantina besar” yang sedang terjadi sekarang ini memperlihatkan “kenyataan gelap” bagi para pengambil keputusan yang menghadapi ketidakpastian yang parah terkait durasi dan intensitas guncangan ekonomi ini. Krisis ini bisa menghabiskan dana USD9 triliun GDP selama dua tahun.
Dari prediksi Gita Gopinath tersebut maka keadaan resesi akan berubah menjadi depresi ekonomi, yakni, sebuah kondisi dimana resesi berlangsung melebihi 18 bulan yang menyebabkan tingkat pengangguran melonjak dengan penurunan PDB (produk domestik bruto) yang tajam sehingga berdampak pada perdagangan global. Sebagai konsekuensinya adalah jumlah kemiskinan yang melonjak. Organisasi buruh internasional (ILO) memperkirakan kemiskinan global tahun ini kembali menyentuh Sembilan digit.
Bagaimana dengan Indonesia?
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal ketiga 2020 berada di kisaran minus 1% - 2%. Pada kuartal kedua 2020 yang sudah dipastikan minus 5.32%, tetapi ada sektor-sektor yang masih mengalami positif yaitu sektor pertanian, informasi dan komunikasi, serta pengadaan air.