Mencegah Depresi pada Ekonomi Kita

Rabu, 23 September 2020 - 06:05 WIB
loading...
A A A
Pada tahun 2021 pemerintah memprediksi ekonomi akan kembali tumbuh pada kisaran 4,5% - 5,5%. Namun hal ini sangat tergantung pada pengendalian pandemi Covid-19 dengan proses vaksinasi untuk seluruh penduduk. Jadi, prediksi ini masih tidak pasti karena menggantungkan pada variabel lain yakni, ketersediaan vaksin. Dalam situasi atas ketidakpastian ini, penting bagi pemerintah untuk menjaga agar resesi tidak menjelma menjadi depresi ekonomi. Maka beberapa langkah yang bisa diusulkan adalah: pertama, penanggulangan wabah Covid-19 perlu diutamakan terlebih dahulu untuk mencegah supaya penyebarannya bisa diminimalkan. Jadi akar permasalahannya adalah di pengendalian pandemi Covid-19. Indonesia akan terancam depresi jika persoalan pandemi Covid-19 tidak segera selesai. Sambil menunggu datangnya vaksin, stimulus fiskal akan lebih baik jika diarahkan untuk menangani kesehatan, sehingga tidak terjadi lonjakan kasus-kasus baru yang membuat pemerintah tidak sanggup menanganinya, baik dari sisi keuangan, jumlah peralatan maupun tenaga kesehatan.

Kedua, prediksi pemerintah pada tahun 2021 bahwa akan terjadi pertumbuhan positif harus benar terealisasi. Oleh sebab itu, piranti fiskal maupun moneter harus digunakan untuk melakukan economic survival, sampai pada proses vaksinasi yang dimulai pada awal tahun 2021. Kegiatan ekonomi secara terbatas dengan mengikuti protokol kesehatan secara ketat perlu tetap dilakukan. Oleh sebab itu, pemerintah dirasa penting menjalin komunikasi dan kerjasama dengan para asosiasi usaha, kelompok profesi, serikat buruh, himpunan nelayan dan petani dalam menghadapi potensi turunnya ekonomi. Sektor-sektor ekonomi yang masih positif seperti pertanian (produksi pangan), energi, serta informasi dan telekomunikasi dijaga sedemikian rupa sehingga tetap berjalan normal. Ada tiga usulan dari Ikatan sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) dalam mendukung sektor-sektor usaha sehingga kebutuhan hidup tetap terpenuhi di tengah pandemi, yakni: (i) mengusahakan proses digitalisasi khususnya bagi sektor UMKM, sehingga proses distribusi dan konsumsi bisa dilaksanakan dengan persentuhan terbatas; (ii) membangun ekonomi dari daerah yang tidak terpapar penyebaran Covid-19; (iii) Membangun ekonomi kreatif.

Ketiga, dana pemulihan ekonomi nasional yang sudah direncanakan untuk demand side agar diperbanyak lagi dan disegerakan realisasinya, baik untuk sektor informal maupun UMKM sehingga perekonomian level menengah ke bawah tetap berjalan. Hampir 60% PDB dikontribusikan dari UMKM, sehingga mampu menciptakan efek domino dari hulu ke hilir.

Kita semua berusaha mencegah agar resesi tidak berubah menjadi depresi. Dampak yang ditimbulkannya akan sangat besar. Untuk itu, penanganan pandemi Covid-19 harus paralel dengan dampak ekonomi yang ditimbulkannya.
(ras)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Rekomendasi
Pakar Ingatkan Galon...
Pakar Ingatkan Galon Guna Ulang Jangan Dipakai Lebih dari Setahun
Hacker Pro-Palestina...
Hacker Pro-Palestina Janji Lancarkan Serangan Siber Paling Dahsyat ke Israel
Mulai Roadshow Konsolidasi...
Mulai Roadshow Konsolidasi dari Klungkung, Perindo Bali Bidik Lolos Verifikasi 100%
Berita Terkini
Penampakan 2 Tersangka...
Penampakan 2 Tersangka Kasus Kuota Haji Kenakan Rompi Oranye KPK
Presiden Prabowo Terima...
Presiden Prabowo Terima 8 Duta Besar Negara Sahabat di Istana Merdeka
Edukasi Holistik Nikotin...
Edukasi Holistik Nikotin Ungkap Fakta Ini
Jadi Penasihat Presiden,...
Jadi Penasihat Presiden, Said Iqbal Tegaskan Buruh Tetap Bisa Demo Sesuai Aturan
KPK Tahan 2 Tersangka...
KPK Tahan 2 Tersangka Kasus Kuota Haji
HUT ke-80, SPS: Fondasi...
HUT ke-80, SPS: Fondasi Pers Nasional Terletak pada Integritas, Profesionalisme, dan Kepentingan Publik
Infografis
Bakar Uang Demi Perang:...
Bakar Uang Demi Perang: Jejak Kelam Ekonomi Militer AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved